TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 134


"Tuan Tomi!" pekik Rizal setelah tahu siapa yang menyapanya di tempat wisata ini. Bagaimana bisa ditempat seramai ini ketemu sama suami dari majikannya?


Sementara Jamal dan Iqbal hanya memandang datar sahabatnya yang sedang terkejut mamandang kearah pria tampan yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berada.


Sedangkan Tomi, matanya seketika berbinar melihat sekumpulan pemuda tampan diantara kerumunan banyak orang. Dengan kepercayaan diri seperti biasanya, Tomi malah mendekat ke tempat Rizal berada dan ikut duduk bersama mereka.


Iqbal dan Jamal pun merasa heran dan matanya langsung menatap ke arah Rizal menuntut penjelasan. Seolah olah mata mereka bertanya, "Siapa dia?"


"Kok pada bengong?" ucap Tomi dan seketika ketiganya tersenyum canggung. "Kamu sama siapa kesini, Zal? Miranda mana?"


"Nona Miranda ada di butik, Tuan. Saya ijin libur satu hari dan aku kesini sama mereka," ucap Rizal sambil menunjuk kaarah Iqbal dan Rizal. Keduanya pun tersenyum hingga membuat Tomi terpesona dengan senyuman tampan dua pria di hadapannya.


"Merek siapa? Teman kamu?" Kok nggak dikenalin?" tanya Tomi berusaha bersikap kalem meski hatinya sedang bergejolak dan resah duduk diantara berondong tampan.


"Oh iya, kenalin, Tuan. Ini Iqbal dan itu Jamal. Mereka temanku satu kampung," ucap Rizal. Tomi pun mengulurkan tangan mengajak Jamal dan Iqbal berjabat tangan.


"Saya Tomi, majikannya Rizal."


Deg!


Jamal dan Iqbal saling pandang. tiba tiba mereka merasa merinding. Kemudian mata mereka langsung menatap Rizal yang sedang menahan tawa.


Jamal dan Iqbal tentu saja merasa tidak menyangka kalau pria tampan dihadapannya adalah majikan yang Rizal ceritakan tadi. Sungguh mereka sangat syok, bagaimana mungkin pria setampan itu malah tidak menyukai perempuan.


"Kalian kerja atau gimana? Apa Kalian supir juga?" tanya Tomi membuyarkan segala macam pikiran yang ada para pemuda di hadapannya.


"Iya, tuan. Kami supir," jawab Iqbal seramah mungkin agar Tomi tak curiga kalau semua yang ada disitu sudah tahu keburukan Tomi.


"Jangan panggil aku Tuan dong, panggil saja Mas. Biar kita bisa akrab," ucap Tomi sumringah.


"Iya, M-Mas," ucap Jamal canggung.


"Kalian sengaja libur bersama apa gimana?" tanya Tomi antusias dan yang lempar pertanyaan hanya mengangguk. "Wah pasti seru ya?" lagi lagi semuanya hanya mengangguk.


"Tuan Tomi nggak ke kantor?" tanya Rizal.


"Ini kan hari sabtu, Zal," balas Tomi.


"Terus, Tuan Tomi kesini sama siapa?"


"Sama teman. Dia lagi ke toilet. Tuh disana," tunjuk Tomi. Ketiganya serentak menoleh ke arah toilet yang ditunjuk.Tentu saja toilet khusus laki laki.


"Apa kalian juga betah kerja sebagai supir?" tanya Tomi kemudian.


"Lumayan, Tuan," ucap Jamal.


"Canggung, enakan panggil Tuan saja, biar sopan kayak Rizal," jawab Iqbal.


"Baiklah, terserah kalian saja," ucap Tomi pasrah. "Kalian nggak pengin kerja yang lebih maju gitu?"


"Lebih maju? Maksud Tuan Tomi?" tanya Jamal dengan dahi mengkerut.


"Ya misal kerja kantoran gitu," jawab Tomi.


"Ya pasti pengin lah, tapi kan ijasah saja hanya sampe SMP, OB aja kebanyaka SMA, Tuan," balas Jamal lagi. Tomi pun mengulas senyum.


"Mau kerja di kantor ku nggak?" tawar Tomi.


"Di kantor, Tuan?" Tomi mengangguk. "Kerja apa, Tuan? Kan kita cuma ijasah SMP."


"Ya kalau mau, nanti aku cari kan posisi yang pas buat kalian, nanti disana kalian akan dilatih oleh anak buahku sampai kalian pintar," terang Tomi.


Rizal yang mendengarnya hanya diam saja. Bukannya tidak ingin memberi dua sahabatnya. Rizal hanya menunggu waktu saja. Jika nanti Tomi pergi, dia baru menberi tahu yang sebenarnya.


"Beneran, Tuan?" tanya Iqbal antusias.


"Tentu. Nanti jika kalian sudah ketahuan ahli dalam bidang apa, baru aku kasih posisi, nggak peduli ijasah kalian apa, kalau kalian punya pontensi bagus, kenapa nggak dikembangkan?" ucap Tomi tak kalah antusias membujuk pemuda polos di hadapannya.


"Wah! Peluang bagus tuh," ungkap Jamal.


"Banget. Dan gajinya juga gede loh, nggak sama kayak gaji supir pastinya," ujar Tomi semakin terdengar meyakinkan.


"Kalau boleh tahu, berapa, Tuan?" tanya Iqbal makin antusias.


Rizal yang melihat kedua sahabatnya hanya tersenyum tipis. Kalau mereka tahu yang sebenarnya, pasti mereka tidak seantusias saat ini. Pikir Rizal.


"Untuk OB aja di tempatku tiap bulan lima juta, bayangkan saja kalau posisi kalian lebih tinggi, bisa di atas sepuluh juta," ucap Tomi santai.


"Wuih, mantap, sepertinya saya tertarik, Tuan," ucap Iqbal.


"Saya juga," timpal Jamal.


"Baguslah," balas Tomi.


Hanya Rizal yang terdiam sambil merutuki kebodohan kedua sahabatnya dalam hati.


...@@@@@@@...