TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 217


"Eugh ... kayak ada suara orang bertengkar?" gumam seorang pemuda saat terpaksa membuka matanya di tengah malam. Pemuda itu mencoba memejamkan matanya kembali tapi suara orang yang sedang bertengkar membuat rasa kantuknya hilang.


"Apa mungkin yang bertengkar?" pemuda tidak melanjutkan kata katanya. Tapi dia langsung bangkit dan beranjak keluar kamar. Dengan perlahan dia berjalan mengendap menuju sumber suara.


"Non Miran!" pekik Pemuda itu lirih. Dia terkejut dengan yang dia lihat di meja makan. Beruntung ruangan agak gelap, jadi dua orang yang sedang berdebat tidak menyadari ada orang lain disekitar mereka. Pemuda itu memilih tempat yang strategis untuk bersembunyi sekaligus memantau keadaan.


"Mir, tolong, hentikan semua niat kamu?" ucap Tomi mengiba.


"Apa? Hentikan? Nggak akan!" tolak Miranda lantang.


"Mir, tolong jangan egois, sekali ini aja. Pikiran orang orang disekitar kita," Tomi terus memohon.


"Apa! Egois? Kamu bilang aku egois? Hah!" bentak Miranda hingga Tomi kaget dibuatnya. Dia tidak menyangka, kemarahan wanita yang selama ini menjadi istrinya terlihat sangat menakutkan.


"Kamu kalo ngomong sadar nggak sih, Tom? Hah! Dari awal yang egois itu siapa? Bahkan dengan egoisnya kamu nyuruh orang untuk menyerang aku dan Rizal. Siapa yang lebih egois? Hah! Pakai otak kamu makanya. Kamu itu manusia paling egois yang aku kenal, Tom," maki Miranda. Dia sungguh muak dengan segela keegoisan pria itu. Miiranda tidak menyangka, disaat seperti ini malah dia yang dituduh egois. Sungguh Tomi sangat tidak tahu diri sekali.


"Apa kamu tidak kasihan sama orang tua kamu, Mir? Bagaimana perasaan dia kalau kita bercerai? Bagaimana kalau orang tuaku nggak menolong orang tua kamu lagi?" bujuk Tomi. Senjata andalan yang pasti akan Tomi gunakan yaitu tentang ini. Tentang orang tua Miranda. Tomi yakin sekali, kalau sudah menyangkut orang tuanya, Miranda tidak akan berkutik. Tomi sangat optimis ancaman kali ini, Miranda pasti luluh.


"Orang tua aku?" Tomi mengangguk dan tersenyum merasa menang. "Bodo amat! Mereka mau menganggap aku bukan anaknya juga terserah. Aku udah nggak peduli."


Tomi tercengang. Bukan jawaban seperti ini yang dia harapkan. Tidak, Tomi yakin, ini semua karena Miranda lagi emosi.


"Mir, sadar apa yang kamu katakan? Aku tahu kamu lagi emosi, tidak sepantasnya kamu bersikap seperti itu pada mereka."


"Aku sadar, Tom, aku sangat sadar. Dari kemarin aku sudah memikirkan dengan sangat matang. Aku sudah memutuskan kalau kita akan bercerai. Kalau kamu nggak menghalangi keinginanku. Siap siap saja, kamu akan mendekam di penjara, bersama dua orang suruhan kamu itu."


Setelah mengancam Tomi, Miranda segera saja beranjak meninggalkan suaminya yang terbungkam. kembali Tomi merasa sangat frustasi. Otaknya terus bekerja mencari cara agar Miranda tidak melakukan rencananya.


Sementara itu di tempat persembunyiannya, Rizal tersenyum sinis kepada tuannya. Tentu saja dalam hati Rizal bersorak karena Tomi gagal membuat dirinya takluk. Rizal bangkit dan melangkah pelan terus kembali ke kamarnya.


Seperti hari hari sebelumnya, hari ini pun waktu terasa berjalan begitu cepat. Kini pagi hadir kembali membangkitkan jiwa jiwa pemimpi untuk mewujudkan mimpinya.


Begitu juga Miranda. Dia juga ingin mewujudkan mimpinya yang sudah lama dia korbankan. Miranda sudah sangat bertekad akan mengakhiri hubunangannya dengan Tomi. Dia tidak akan peduli apapun lagi. Kali ini dia akan egois demi kebahagiaan sendiri.


Miranda menggeliat sejenak lalu turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Cukup lama dia berada di dalam sana. Setelah urusan kamar mandi selesai, Miranda beranjak keluar kamar dan melangkah turun ke bawah.


"Mami! Papi!" pekik Miranda. Dia kaget saat sampai dilantai bawah sudah ada orang tua, mertua dan Tomi diruang tamu. Mendadak perasaan Miranda tidak enak. Dia melangkah mendekat bermaksud menjabat tangan orang tuanya. Tapi Miranda dibuat terkejut dengan sikap Maminya.


Plak!


Telapak tangan wanita yang melahirkan Miranda, mendarat dengan keras pada pipi mulus wanita itu.


Sontak saja Miranda terkejut mendapat tamparan mendadak dari maminya.


"Apa yang Mami lakukan?"


"Diam kamu!" bentak Mami Miranda. "wanita macam apa kamu, Miranda? Kamu tega menyakiti suami sebaik Tomi? Apa yang ada di pikiran kamu? Hah!"


"Apa!"


"Nggak usah pura pura kaget. Kamu selingkuh dengan supir kamu, iyakan? Supir kamu, sudah Mami usir!"


"Apa!"


...@@@@@@...