
"Loh! Karin!" pekik Aleta. "Kamu pulang?" tanya Aleta lagi dengan santai.
"Apa yang kalian laporkan tentang kami ke keluarga Iqbal?" tanya Karin dingin. Aleta tercengang mendengar pertnyaan Karin, begitu juga dengan Belinda.
"Keluarga Iqbal? laporan apaan?" tanya Belinda bingung.
"Nggak usah pura pura nggak tahu deh! Kalian kan yang laporan ke orang tua Iqbal kalau aku sama Iqbal pasangan kumpul kebo!"
"Apa!" pekik keduanya. "Bagaimana caranya kami bisa lapor, Karin?" tanya Aleta.
"Iya, bagaimana caranya kami bisa lapor ke keluarga Iqbal? Kuta tahu kontak dan alamatnya Iqbal darimana?" sambung Belinda.
Karin terdiam meski amarahnya masih sangat bergemuruh di dalam dadanya. Karin menatap tajam kedua kakaknya. Akalnya terus mencerna pembelaan Aleta dan Belinda.
"Mungkin Mami atau Papi yang bilang, Karin, bukankah Mami sama Papi tahu alamat rumah Iqbal. Kan waktu Iqbal pertama datang untuk kerja disini, dimintain datanya sama Papi," ucap Belinda membuat Karin tertegun. Tapi apa yang dikatakan Belinda memang ada benarnya. Bisa saja yang memberi tahu ke keluarga Iqbal adalah orang tuanya.
Dengan amarah yang masih berkobar, Karin melangkah keluar dari rumahnya. Sayang sekali, ojek online yang tadi membawa Karin ke rumahnya telah pergi. Dengan terpaksa Karin mencari ojek online lagi sambii melangkah meninggalkan rumahnya.
Karin terlalu fokus menatap layar ponsel sambil berjalan kaki. Dia tidak memperhatikan jalan yang dia lalui. Hingga ketika langkahnya menginjak pada sebuah pertigaan, dari arah kanan, sebuah motor melaju dengan lumayan cepat dan dia berbelok tanpa mau mengurangi kecepatannya.
"Aakhh!"
Brak!
Karin tertabrak motor hingga terpental. Sang pengendara motor juga langsung terperosok. Beruntung tak jauh dari kejadian, ada beberapa asisten rumah tangga sedang membeli sayuran pada tukang sayur yang lewat dan juga satpam yang melihat dan mendengar langsung memberi pertolongan. Karin dan pengendara langsung dilarikan ke rumah sakit oleh warga sekitar.
Beruntung di dalam tas yang Karin bawa, ada kartu identitasnya. Jadi ada warga yang segera mendatangi rumah Karin sesuai alamat yang ditunjukan kartu identitas.
"Apa!" pekik Martin. "Karin kecelakaan? Bagaimana bisa?"
Martin tampak syok mendengar kabar dari rumah. Dia segera saja membereskan perkerjaannya dan menitip pesan pada sekretaris lalu meluncur ke arah rumah sakit.
Hampir memakan waktu tiga puluh menit, akhirnya Martin sampai di rumah sakit. Dia langsung menuju ke tempat Karin ditangani. Disana sudah ada Amanda, Belinda dan Aleta. Semuanya sedang dalam keadaan panik juga.
"Papih!" pekik ketiga wanita itu saat melihat kedatangan Martin.
"Nggak tahu, Pih. Masih dalam penanganan dokter, kata yang menolong tadi keduanya lumayan parah pih," Aleta yang yang menjawab. Sedangkan Amanda masih sesenggukan dalam pelukan Belinda.
"Emang Iqbal kemana? Kenapa Iqbal nggak jagain Karin?" tanya Martin lagi. Dia merasa geram karena pemuda yang di beri amanat untuk menjaga anaknya malah tidak kelihatan batang hidungnya.
"Kemungkinan Iqbal sama Karin lagi marahan, Pi. Tadi Karin datang ke rumah sendirian sambil marah marah," jawab Aleta lagi.
"Apa? Karin kerumah sendirian?" tanya Martin semakin heran. "Karin marah marah kenapa?"
"Ada yang lapor ke keluarga Iqbal, katanya Iqbal dan Karin kumpul kebo gitu. Kemungkinan itu penyebabnya mereka marahan."
"Astaga!" Martin mengusap wajahnya dengan kasar. Dia terduduk lemas dan kebingungan. Hingga tak berapa lama, dokter yang menangani Karin keluar dan memberi keterangan yang cukup melegakan. Mereka lebih banyak terdiam menunggu Karin sadar hingga malam pun menjelang.
Di tempat lain, setelah menghabiskan nasi goreng dan ngobrol bersama dua sahabatnya, Iqbal memanggil ojek untuk mengantarnya pulang. Meski hatinya begitu was was, Tapi Iqbal tidak punya pilihan lain selain harus menghadapinya.
Letak rumah Iqbal, Rizal dan Jamal berada di komplek yang sama. Mereka hanya beda Rt saja. Tidak sampai sepuluh menit, Iqbal sampai di halaman rumahnya. Rumah Iqbal terlihat gelap. Iqbal menebak pasti orang rumah sudah tidur.
Beberapa kali Iqbal mengatur nafasnya agar gemuruh dihatinya bisa lebih tenang. Tapi, semakin mendekati pintu rumahnya, rasa was was dalam hati Iqbal semakin membuatnya tidak tenang.
Tok! Tok! Tok!
Iqbal mengetuk pintu dan memberi salam serta memanggil orang rumah. Tak ada sahutan. Iqbal pun kembali mencoba melakukan hal yang sama.
Setelah sekian lama memanggil, Iqbal melihat lampu rumanya menyala. Tak lama setelah itu pintu rumah terbuka. Iqbal langsung mendapat sambutan dingin dari sang kakak. Tanpa bersuara, kakak Iqbal berbalik badan.
Iqbal menghirup nafasnya dalam dalam. Senyum yang hendak dia kembangkan langsung surut saat kakaknya memilih langsung berpaling. Iqbal melangkah masuk kedalam.
Iqbal melihat sang ibu juga berdiri di depan pintu kamar. Iqbal mendekat hendak menjabat tangan ibunya, tapi setelah dia dekat, Sang Ibu mengangkat tangan.
Plak!
...@@@@@@...