TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 80 (Jamal)


"Ih, keluar kok nggak bilang-bilang sih, Mal?" sungut Selin cemberut namun Jamal hanya tersenyum tanpa dosa.


Sambil cemberut, Selin membersihkan mulutnya dari air kental yang menyebar disekitar bibirnya dengan selimut yang ada dan terlipat di bawah bantal.


"Gimana rasanya, Non? Enak?" tanya Jamal sambil cengengesan. Selin tak menjawab. Dia masih cemberut sembari melirik tajam pada supirnya.


Namun sesaat kemudian, entah berapa kali Jamal dibuat terkejut oleh Selin. Dan kini rasa terkejut itu datang lagi. Mata Jamal membulat sempurna saat Selin tiba-tiba melepas pakaiannya satu-persatu di hadapannya. Jamal dibuat kesusahan menelan salivanya melihat badan Selin yang putih, mulus,mempesona. Selin benar-benar polos tanpa benang sehelai pun.


Dengan jantung yang berdegup semakin kencang, Jamal memperhatikan dengan teliti semua bagian tubuh Selin terutama bukit kembar yang tak terlalu besar tapi kencang dan terlihat kenyal, serta bagian lembah Selin yang tampak dihiasi rumput-rumput tipis berwarna hitam. Sontak saja senjata Jamal yang sudah lemas lunglai kembali menegang dan mengeras. Jamal semakin dibuat tak karuan saat Selin kembali tengkurap diatas tubuh Jamal dengan kulit yang semakin menempel. Ada yang berdesir dalam diri Jamal saat dada Selin menempel di dadanya tanpa kain penghalang. Kenyal, pikir Jamal.


"Non Selin mau ngapain lagi? Kenapa semua pakaian dilepas?" tanya Jamal dengan wajah panik. Entah dia tidak tahu apa pura-pura tidak tahu. Yang pasti Jamal merasa tak tenang saat ini.


Sebelum menjawab, Selin kembali menempelkan bibirnya diatas bibir Jamal dan mereka saling berpagut. Meski Jamal tidan punya pengalaman, dia punya insting laki-laki yang bisa mendorong dan membantunya hingga dia bisa membalas serangan bibir wanita yang tengkurap diatas tubuhnya.


"Punya kamu, masukin punyaku ya, Mal?" sontak saja Jamal langsung ternganga mendengar permintaan.


"Apa, Non?" tanya Jamal untuk memperjelas pendengaranya.


"Punya kamu, masukin punyaku," balas Selin dengan tatapan memohon.


"Nggak, Non. Nggak! Non Selin jangan gila deh, Non mau membuat aku kehilangan kebujanganku?" tolak Jamal lantang.


"Kalau kamu nggak mau ya udah, aku mau telfon papah," ancam Selin.


"Non!" pekik Jamal frustasi.


"Lakukan atau aku telfon papah saat ini juga, aku video call dan kita lihat reaksi Papah menyaksikan kita begini, gimana?"


"Iya iya, oke, ayo lakukan iya, ayo lakukan," ucap Jamal terpaksa. Wajahnya sungguh sangat frustasi. Daripada dilaporkan ke Pak Gustavo, bukan hanya pecat yang jamal dapat, bisa jadi hukuman lain yang tak terduga dan mungkin lebih mengerikan.


Selin tersenyum nakal. Bibir mereka kembali menempel dan saling serang. Setelah itu Selin memundurkan badannya dan menempelkan miliknya dengan milik Jamal kemudian dia menggeseknya maju mundur.


Insting Jamal pun memandu tangan Jamal untuk meraih bukit kembar yang masih kencang dan memijatnya pelan hingga suara rintihan nikmat keluar dari mulut Selin.


"Sekarang aku di bawah dan kamu di atas," titah Selin beberapa menit kemudian. Dan Jamal pun menurutinya.


Kini Selin telah berbaring dengan kedua kaki membentang. Jamal duduk di antara kaki Selin memandang keindahan yang di impikan laki laki. Beruntung tali yang mengikat tangan Jamal lumayan panjang jadi tangan itu bisa Jamal gunakan untuk memainkan bukit kembar dan tangan satunya mengusap dan memijat lembah indah milik Selin. Meski awalnya takut, Jamal pun akhirnya menikmati mainan barunya itu.


"Iya iya,"


Jamal memegangi miliknya. Dengan membayangkan video yang dulu sering dia tonton dan juga instingnya sebagai laki laki, Jamal menentukan titik yang tepat untuk memasukan miliknya.


Merasa perhitungannya tepat, Jamal mulai menggesekkan dan perlahan mendorong masuk miliknya ke dalam lembah yang masih sangat sempit. Jamal merasa kesusahan karena lembah itu masih terlalu sempit. Tapi Jamal terus perlahan menerobosnya. Hingga saat Jamal menghentakan pinggulnya beberapa kali, Selin teriak kencang dan kesakitan sampai kedua tangannya mencengkram seprei kuat kuat.


Jamal menarik miliknya keluar dan matanya membelalak saat di ujung miliknya ada darah. Kemudian matanya beralih memandang Selin yang kesakitan.


"Berhenti aja ya, Non?" pinta Jamal.


"Lanjutkan, Mal," rintih Selin.


"Tapi Non Selin kesakitan, aku mana tega," bantah Jamal.


"Nggak apa apa, Jamal. Lanjutkan saja," balas Selin.


"Tapi ... "


"Udah lanjutkan, nggak usah pake tapi tapi!" bentak Selin.


"Baiklah!"


Jamal pun kembali ancang-ancang dan menggesekan miliknya yang masih ada noda darah. Setelah cukup Jamal kembali mendorong miliknya perlahan. Jamal berusaha tak peduli dengan kesakitan yang Selin rasakan, karena ini juga perintah dia.


Setelah semuanya masuk, Jamal terdiam menunggu Selin tenang. Dan beberapa saat kemudian Jamal menggerakan pinggangnya maju mundur perlahan hingga suara kesakitan Selin berubah menjadi suara kenikmatan. Jamal pun juga merasakan kenikmatan tiada tara.


Jamal mencondongkan badannya dan menyerang bibir Selin.


"Enak banget, Mal,"


"Iya, Non."


Dan pinggang Jamal terus bergoyang.


...@@@@@...