TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 145


Sementara itu, Jamal sedang asyik berdendang sembari melangkah menuju area apartemennya. Tepatnya kini Jamal ada di lantai dasar sedang menuju ke arah lift berada. Meskipun Jamal anak kampung, setidaknya dia tidak bersikap kampungan saat berada kerumunan orang orang kota yang berduit. Jamal masih bisa berbaur dengan mereka tanpa ada rasa canggung.


Selama tinggal di apartemen, banyak kejadian kejadian unik bin aneh yang Jamal alami. Ada yang seenaknya beradegan panas di dalam lift, ada satu wanita yang sering gonta ganti membawa masuk pria ke dalam apartemennya, ada juga yang mengalami pelabrakan baik seorang istri atau suami sah. Pokoknya ada saja kejadian yang bisa membuat Jamal geleng geleng kepala.


Saat Jamal sedang melangkah pelan menuju lift, tiba tiba Jamal dikejutkan dengan tangan yang melingkar di lengannya. Sontak saja Jamal menoleh.


"Non Selin!" pekik Jamal dan wanita itu tersenyum manis kepadanya.


"Kamu baru pulang?" tanya Selin tanpa melepas lingkaran tangannya. Bahkan dengan cueknya dia bergelayut di lengan kekar supirnya.


"Iya nih, baru pulang. Non Selin darimana?" jawab Jamal sambil melempar pertanyaan.


"Kan aku sudah bilang, aku pergi sama temen temen," jawab Selin. Kini langkah mereka berhenti tepat di depan sebuah lift.


"Ya syukur deh, aku ikut senang, Non Selin sudah bisa main lagi sama teman teman. Biar nggak jenuh," ucap Jamal.


Pintu lift terbuka. Mereka berdua melangkah masuk. Jamal memencet tombol menuju tempat unit apartemen mereka berada. Sepanjang di dalam lift, mereka terdiam. Jamal sebenarnya sedang dalam keadaan bingung. Dia ingin jujur soal Belinda dan Aleeta tapi takut Selin salah paham. Tapi jika Rio yang bertindak, bisa bisa Selin ngamuk dan salah paham.


"Mal," ucap Selin tiba tiba, Jamal yang hendak bersuara mendadak terhenti kemudian menyahutnya.


"Iya, Non,"


"Tadi aku ketemu Papah," sontak Jamal menoleh. Bertepatan dengan itu pintu lift menunju letak unit aparetemen mereka terbuka. Mereka pun melangkah keluar.


"Ketemu dimana?" tanya Jamal pelan.


"Di sebuah restoran," jawab Selin singkat. Jamal manggut manggut. Sejenak mereka terdiam karena langkah mereka terhenti di depan unit apartemen mereka. Jamal sontak membuka pintu yang terkunci. Setelah itu mereka masuk.


"Tadi dia sama wanita lain, jujur aku malu sama temen temen, tapi Papah malah menyapaku," cicit Selin begitu manja.


Jamal tidak bisa membayangkan jika dia tidak mengenal Selin, bagaimana nasib wanita ini? Pasti sungguh merasa sangat sendirian dan kesepian. Tidak memiliki tempat berbagi cerita dan menghibur dirinya. Selin bahkan malu sama teman temannya karena tingkah keluarganya.


"Tapi semua teman Non Selin nggak ada yang ngejek kamu kan?" Selin menggeleng. "Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin Tuan Gustavo juga kesepian, apa lagi di rumah dia cuma sendirian. Non Selin harusnya jangan kelamaan marah sama Papa. Seburuk apapun kelakuan Tuan Gustavo di luar sana. Dia tetap sayang sama Non Selin."


Selin semakin mengeratkan pelukannya. Sejak mengenal Jamal dan sering tidur bareng membuat dia memandang Jamal bukan sebagai supirnya. Jamal pria yang menenangkan. Apalagi jika hatinya sedang gundah, Selin akan nempel seperti anak kecil di dalam gendongan Jamal. Hidup menjadi anak orang kaya, tidak selamanya membuat bahagia. Seperti contoh Selin.


"Non," kini gantian Jamal yang ingin bercerita.


"Hum," sahut Selin tanpa mengurai pelukannya.


"Nanti kalau tiba tiba ada foto aneh yang Non terima, entah dari Rio atau siapa, Non Selin jangan langsung percaya loh ya?" ucap Jamal hati hati. Seperti yang sudah di duga, Selin langsung menatap tajam dan tentu saja tatapan itu adalah tatapan butuh penjelasan.


"Jadi gini tadi pas aku sama kedua temanku lagi di tempat wisata ketemu dua cewek ... "


"Apa? cewek? Jadi kamu bukan pergi bertiga?" cecar Selin langsung memotong penjelasan Jamal.


"Dengerin dulu makanya, Non Selin kebiasaan, selalu marah marah tanpa mau mendengar penjelasan dulu," sungut Jamal sambil cemberut kemudian dia memalingkan tatapannya dari tatapan Selin.


Tatapan tajam yang tadi sempat Selin tunjukan menjadi tatapan hangat yang menunjukan rasa gemas kepada pria yang kalau marah tidak pernah bertahan lama. Selin langsung saja mencium pipi Jamal begitu dalam dan setelah ini sudah dipastikan Jamal akan langsung luluh.


Dengan cemberut Jamal menatap tajam ke arah Selin setelah melepas pipinya. Selin hanya tersenyum kemudian dia langsung menyerang bibir Jamal yang mengerucut dan untuk sejenak mereka saling pagut.


...@@@@@...