
"Ini Linda, pembantu baru di rumah kita," ucap Tomi begitu orang asing itu mendekat dan terssenyum serta memberi salam kepada Miranda.
"Pembantu baru? Kok bisa?" tanya Miranda merasa heran dengan apa yang baru saja dia dengar. Apa lagi pembantu itu nampaknya bukan seperti pembantu. Pakaiannya terlalu seksi dan ketat. Rizal yang melihatnya juga tertegun. Bahkan Rizal melihat celana yang dia pakai lembah nikmatnya tercetak jelas dari balik celananya.
"Ya bisa lah, dia sebenarnya OB di kantor, di disini kerja buat bantu bantu beberapa pekerjaanku juga," terang Tomi dengan santainya. Sedangkan Linda, matanya sesekali mencuri pandang ke arah Rizal. Dia juga terpana dengan supir ganteng itu.
"Tumben?" tanya Miranda masih merasa heran. "Biasanya juga yang bantu kerjaan kamu di rumah cowok? kenapa pakai cewek?"
Wajar jika Miranda merasa heran. Karena ini memang tidak biasanya dilakukan Tomi. Baru kali ini Tomi menggunakan jasa wanita untuk urusan kantornya karena biasanya dia membawa laki laki untuk membantunya dan berlanjut main pedang pedangan. Dan Tomi juga tidak biasa minta seseorang menginap, tapi ini? Sungguh, banyak pertanyaan yang tumbuh di pikiran Miranda.
"Pengin aja pake tenaga cewek? Nggak salah, kan?" balas Tomi tetap santai.
"Baiklah, terserah kamu aja," ucap Miranda akhirnya pasrah. "Ayo, Zal, taruh barang barang di kamar saya."
"Baik, Non," ucap Rizal. Dia pun mengikuti langkah Miranda menuju lantai atas.
Linda dan Tomi memandang Rizal hampir tak berkedip. Keduanya sungguh terpana melihat katampanan pria itu.
"Apa pria itu yang harus saya kerjain, Tuan?" tanya Linda begitu Miranda dan Rizal menghilang di lantai atas.
"Iya, dia orangnya," balas Tomi.
"Wah! Orangnya ganteng banget. Baiklah, saya pasti bisa ngajak dia tidur bareng, Tuan," ucap Linda antusias.
"Lakukan sesukamu, Linda. Tapi ingat kamu harus melakukan tugasmu dengan baik, jangan sampai gagal."
"Pasti, Tuan."
Tomi pun menyeringai jahat. "Ah, aku nggak sabar Rizal jatuh ke dalam pelukanku," ucap Tomi dalam hati.
Setelah sampai di kamarnya, Rizal menaruh barang sesuai perintah Miranda. Setelah selesai, Miranda menenggelamkan kepalanya di dada bidang supirnya.
"Kenapa, Non?" tanya Rizal sambil membalas pelukan majikannya.
"Nggak kenapa, aku ngerasa nggak enak aja ada orang baru di rumah ini, sepertinya dia wanita penggoda," ucap Miranda meluapkan kegundahan hatinya.
"Dia memang nggak menggoda Tuan Tomi tapi dia akan menggoda kamu," Seketika tawa Rizal pecah mendengar tuduhan Miranda.
"Menggoda aku? Nggak mungkinlah Non, emangnya aku orang kaya, apa yang akan dia dapatkan dari menggoda aku," bantah Rizal.
"Taulah, Zal. Pokoknya firasatku nggak enak aja," balas Miranda makin menenggelamkan kepalanya di dada bidang supirnya.
"Ya udah, aku turun dulu, yah? Nanti Tuan Tomi curiga loh, Non," ucap Rizal. Akhirnya mereka pun saling melepaskan pelukannya. Dan sebelum berpisah, sejenak mereka menyatukan bibir mereka.
Rizal pun keluar kamar dengan hati riang. Sambil berdendang dia menuruni anak tangga menuju kamarnya.
"Mbak Sari," sapa Rizal begitu matanya melihat pembantu senior berada di kursi belakang sedang menikmati kuaci.
"Eh Rizal, udah pulang? Kok aku nggak tahu?" tanya Sari sedikit kaget karena Rizal mendadak muncul dan duduk di kursi sebelahnya.
"Udah, baru aja," balas Rizal dan dia pun celingukan seperti mengawasi keadaan. "Kok ada pembantu baru, Mbak?" tanya Rizal pelan.
"Yah gitulah, Zal. Tuan Tomi aneh banget, nggak tahu maunya dia apa?" ucap Mbak Sari disela sela menikmati kuacinya.
"Aneh gimana?" tanya Rizal penasaran.
"Ya aneh lah, Zal. Tuan Tomi itu tidak pernah membawa wanita ke rumah. Dan kamu kan tahu, pekerjaan di rumah ini nggak terlalu berat, ngapain nambah pembantu lagi coba?" ungkap Sari meluapkan unek uneknya.
"Iya, yah, aneh," balas Rizal. Dia pun jadi ikut memikirkan apa yang Miranda dan Sari ucapkan. Setelah berbincang cukup lama, Rizal pun pamit menuju kamarnya untuk istirahat.
Hingga tak terasa malam pun datang dan beranjak semakin larut. Di dalam kamarnya, Rizal sedang asyik berbalas chat dengan Miranda dan teman temannya. Hingga tiba tiba, Rizal mendengar pintu kamarnya di ketuk.
"Siapa?" teriak Rizal tapi tak ada jawaban. Rizal tertegun dan kemudian kembali fokus pada ponselnya.
Beberapa menit kemudian terdengar lagi pintu kamar Rizal di ketuk. Rizal kaget dan dia mendengus merasa kesal. Rizal bangkit dan beranjak membuka pintu. Mata Rizal sontak membelalak saat melihat siapa yang ada di depan kamarnya.
...@@@@@...