
"Selamat pagi."
"hum."
"Gitu doang jawabnya?"
"Kenapa? Masalah?"
Iqbal menghela nafasnya dalam dalam, lalu nafas itu dia hembuskan secara pelan. Iqbal pikir semalam sudah damai dengan Karin. Nyatanya wanita itu malah kembali merajuk saat Iqbal pamit tidur di kamar sendiri.
Bahkan kemarahan itu masih terasa hingga pagi ini. Iqbal merasa sepertinya Karin kurang tidur. Sedari tadi Karin dibangunkan susah sekali. Dan sekarang Karin pun masih memejamkan matanya, meski tadi bersuara.
"Udah siang, Non, bangun yuk," ajak Iqbal yang duduk ditepi kasur sembari membelai rambut Karin.
"Masih ngantuk," balas Karin singkat dan masih terdengar dingin.
"Emang semalam tidur jam berapa?" tanya Iqbal tanpa peduli sikap dingin yang Karin tunjukkan.
"Apa pedulimu? Bukankah kamu lebih peduli sama Papi dan Bapak kost?" ucap Karin ketus, dan Iqbal masih bertahan dengan kesabaran tingkat tinggi.
"Non," panggil Iqbal lirih.
Tanpa ada niat merespon, Karin sontak bangkit dan langsung beranjak menuju kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras.
Brak!
"Astaga! Huuuh ... sabar, sabar," ucap Iqbal sambil mengusap dadanya. Dia pun bangkit, membuka lemari dan menyiapkan pakaian yang akan Karin kenakan, termasuk pakaian penting milik wanita. Setelah itu, Iqbal menunggu Karin sambil bermain game.
Tidak sampai dua puluh menit, Karin keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan handuk yang terlilit. Matanya seakan akan tidak memandang keberadaan Iqbal di sana.
Tapi bukan Iqbal namanya kalau menyerah begitu saja. Iqbal berhenti main game dan mengambil alih handuk yang sedang Karin gunakan. Awalnya Karin menolak, tapi melihat Iqbal yang menatap tajam, membuat Karin diam dan pasrah.
Dengan telaten Iqbal mengusap semua tubuh Karin dengan handuk. Kemudian Iqbal meraih kain penutup bukit kembar dan memakaikannya. Meski dalam keadaan marah, Iqbal tak lupa menyesap dulu pucuk bukit kembar Karin beberapa saat satu persatu sebelum bukit kembar itu tertutup. Setelah itu Iqbal baru memasangnya hingga tertutup.
Setelah urusan bukit kembar tuntas, Iqbal kini meraih segitiga bermuda berikut celana yang akan Karin pakai. Seperti biasa, sebelum lubang nikmat Karin tertutup celana, Iqbal menciumi terlebih dahulu.
Urusan pakaian selesai, sekarang giliran urusan mengeringkan rambut. Iqbal mengambil alat pengering. Tanpa di kasih tahu, Karin langsung duduk seperti biasa yang dia lakukan. Iqbal mulai mengeringkan rambut, sedangkan Karin mulai mengoles bedak tipis dan juga pemerah bibir.
"Aku nanti akan ngikutin Non Karin, aku nggak mau terjadi apa apa. Perasaanku nggak enak, Belinda dan Aleta mendadak berubah sikap gitu," ucap Iqbal memecah keheningan diantara keduanya.
"Ngikutin pakai apa? Yang ada nanti malah ketahuan, mereka pasti mengenal mobil kita," akhirnya Karin buka suara.
"Aku tukeran sama mobil pemilik kost. Mereka ngijinin."
"Demi Non Karin. Aku nggak mau Non Karin kenapa napa."
Mendengar Iqbal bersungguh sungguh merencanakan semuanya demi melindungi Karin, wanita itu merasa terharu. Sontak dia berbalik badan dan langsung memeluk.
"Maaf," cicit Karin merasa bersalah karena dari kemarin marah terus.
Iqbal pun mengembangkan senyumnya, "Nggak apa apa, aku juga minta maaf sudah buat kamu marah."
Karin melepas pelukannya kemudian ditatapnya wajah Iqbal yang sedang tersenyum. Karin langsung menyerang bibir Iqbal, dan untuk sejenak bibir mereka saling berpagut sebagai tanda damai.
Waktu terus bergerak maju. Kini Karin dan Iqbal sudah dalam perjalanan menuju kampus. Di tengah jalan, mereka mampir dulu ka warteg untuk sarapan.
"Nanti mereka akan menjemput dimana?" tanya Iqbal saat menikmati hidangannya.
"Paling nanti mereka jemput aku di kampus, lagian mereka tidak tahu tempat kost kita.".
"Baiklah, nanti setelah Non Karin masuk, aku pulang ganti mobil. Non Karin harus tetap waspada," Karin hanya mengangguk.
Acara sarapan pun selesai. Setelah membayar semuanya, mereka melanjutkan perjalanan yaitu menuju kampus.
"Aku pulang dulu buat ganti mobil, Non Karin hati hati," ucap Iqbal begitu mereka sampai kampus dan Karin hendak keluar.
"Iya," balas Karin dan dia mencium pipi Iqbal kemudian beranjak keluar mobil. Setelah Karin menghilang dari gerbang kampus, Iqbal bergegas tancap gas kembali ke kosan sesuai rencana.
Benar saja. Setelah beberapa jam waktu berlalu, terlihat Belinda dan Aleta sudah menunggu di depan kampus. Beruntung Iqbal sudah ganti mobil, jadi mereka tidak menyadari Iqbal ada di sekitar sana.
"Karin!" teriak Belinda dan Aleta hampir bersamaan saat melihat Karin berjalan ke arah gerbang.
"Udah selesai kuliahnya?" tanya Belinda basa basi saat Karin sudah ada di dekatnya.
"Udah."
"Ya udah kita berangkat sekarang," ajak Belinda.
"Ayo."
Mereka segera beranjak ke mobil mereka tanpa menyadari akan ada mobil mengikutinya.
...@@@@@...