TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 257 (Iqbal)


Suatu malam disalah satu rumah sebuah perkampungan.


"khilaf yang sangat nikmat sampai orang yang memberi gaji pun kamu khianati gitu? Otak kamu dimana, Bal? Dimana kewarasanmu saat itu? Apa karena orang tua kamu miskin jadi kamu tidurin anak majikanmu dan berharap jadi orang kaya, iya? Jawab, Bal!"


Iqbal semakin menunduk. Tanpa terasa airmatanya luruh. Ucapan kakaknya sungguh sangat menyesakkan. Iqbal tidak bisa membalas semua ucapan kakaknya. Dia juga sedang dalam posisi yang salah, jadi mau membela diri pun, Iqbal akan tetap terlihat bersalah.


"Mbak tahu, Bal. Ini hidup kamu. Tapi bukan berarti kamu seenaknya melakukan apapun sesuka hati kamu. Ada orang tua yang harus kamu jaga perasaannya. Tapi sayang, sepertinya kamu tidak peduli akan hal itu, jadi percuma Mbak ngomong panjang lebar. Nggak akan pernah ada manfaatnya buat kamu," Mbak Rini bangkit meninggalkan Iqbal.


"Mbak," Iqbal berusaha mencegahnya tapi percuma. Sang kakak terus melangkah hingga masuk ke kamarnya. Iqbal terdiam sendirian. Pikirannya sangat kacau dan lelah. Akhirnya Iqbal memilih beranjak juga menuju kamarnya. Tak butuh lama, Rizal terlelap karena rasa lelah dan kantuk yang menyerangnya.


Sementara di tempat lain, Karin masih terbaring lemah diatas brangkar rumah sakit. Sepertinya dia mulai sadar dari lelapnya karena pengaruh obar bius. Suara lenguhan dan gerakan badan, sontak membuat sepasang suami istri yang sedang berjaga langsung mendekat.


"Sayang, kamu sudah sadar, Nak?" ucap Amanda saat melihat mata Karin terbuka. Sedangkan Martin langsung memencet tombol agar doker cepat datang ke ruang anaknya.


Seorang dokter dan dua perawat langsung datang, tak lama setelah mereka di panggil. Karin segera diperiksa dan ditanya macam macam oleh sang dokter. Tak ketinggalan juga, sang dokter memberi saran yang bisa dilakukan Karin dan keluarga agar pasien cepat sembuh. Setelah melaksanakan tugasnya, Dokter dan perawat segera meninggalkan ruang rawat Karin.


"Untung lukanya nggak terlalu parah, Mami jadi lega," ucap Amanda penuh rasa syukur. Lantas dia duduk di kursi di dekat brangkar Karin. Sedangkan Martin memilih duduk di sofa yang ada. Dia masih memikirkan apa yang terjadi antara Iqbal dan karin. Disaat Karin kecelakaan, disaat itu pula Iqbal seakan menghilang. Bahkan nomer ponselnya tidak aktif sedari tadi.


Sementara Karin hanya terdiam. Dia merasa badannya terasa sakit dan nyeri. Matanya menatap lurus ke langit langit ruangannya. Hatinya juga merasa perih. Karin sungguh tidak mengerti, kenapa orang tuanya mau berbuat sejauh itu? Kenapa orang tuanya seakan tidak ingin anaknya bahagia? Meski Karin belum tahu siapa yang melaporkan hubungannya ke keluarga Iqbal, tapi Karin tahu salah satu keluarganya lah yang berbuat seperti itu.


"Mi, " suara Karin tiba tiba keluar. Meski lirih tapi cukup terdengar oleh telinga Amanda dan Martin.


"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Amanda lembut.


"Apa aku memang sudah ditakdirkan untuk tidak bisa memilih kebahagiaanku sendiri?"


Amanda tercengang mendengarnya. "Maksud kamu apa, Nak?"


"Karin nggak tahu, kenapa keluarga Karin sendiri begitu jahat dengan Karin. Bahkan orang yang menyelamatkan Karin pun malah dianggap rendah sampai di laporkan ke orangtuanya kalau Iqbal kumpul kebo dengan anak majikannya."


"Apa yang kamu katakan, Nak? Siapa yang bilang?" tanya Martin saat dia langsung mendekat dan berdiri di dekat brangkar anaknya. Sedangkan Amanda langsung terbungkam dengan wajah memucat.


"Tadi pagi Iqbal pulang kampung dalam keadan marah, Pi."


"Apa? Kenapa? Apa yang terjadi? Pantes Iqbal nggak kelihatan," cecar Martin dengan wajah terlihat sangat terkejut.


"Ada yang lapor ke keluarga Iqbal kalau aku dan Iqbal pasangan kumpul kebo, Pi. Iqbal diancam kakaknya kalau dia nggak pulang, dia nggak akan dianggap keluarga lagi," adu Karin. Sontak airmatanya luruh.


"Astaga!" pekik Martin tak percaya. Dia lansung menatap istrinya. "Apa ini perbuatan Mami?"


Amanda sontak terkesiap. Ada kepanikan yang terlihat jelas dari sorot matanya. Mulutnya terbungkam. Dan kediaman Amanda meyakinkan Karin dan Martin kalau Amandalah yang melapor ke keluarga Iqbal.


"Jadi Mami yang tidak ingin melihat Karin bahagia? Selamat Mi, Mami telah berhasil."


"Bukan begitu, Nak. Mami hanya ingin ..."


"Hanya ingin apa?" tanya Karin sedikit membentak. "Apa Mami memang nggak bisa mengerti perasaan anaknya? Kenapa Mami nggak sekalian saja bilang sama rekan bisnis Mami kalau anaknya kumpul kebo. Kenapa hanya keluarga Iqbal yang Mami serang? Kenapa!"


"Mami benar benar keterlaluan," umpat Martin penuh kekecewaan. "Papi nggak nyangka, Mami bisa sepicik itu."


"Maafin Mami, Pi. Mami hanya ..."


"Kalau Mami terus menyusahkan anak anak, lebih baik kita cerai Mi. Papi sudah gagal jadi seorang ayah dan suami."


Deg!


...@@@@@@...