
Selin termenung di kamarnya. Sembari mememuk guling, pikirannya berkelana kemana mana. Namun yang paling mengganggu pikirannya kali ini adalah ucapan papahnya, Tuan Gustavo.
Bagaimana mungkin mamahnya bisa menyukai seorang supir? Dan supir itu adalah supir pribadinya? Kenapa Mamah jadi separah itu? Dan masih banyak pertanyaan lain yang bergelayut pada batin Selin.
Memang benar, Sandra adalah sosok ibu yang baik selama keburukannya belum terkuak. Sandra sangat menyayangi Selin. Semua kasih sayang Sandra tercurah pada Selin. Meski Sandra tahu, Gustavo sering tidur dengan wanita lain. Tapi Sandra tetap bertahan. Itu semua dia lakukan karena teramat sayangnya Sandra kepada Selin.
Namun semua orang tahu, tidak ada satupun manusia memiliki sifat sempurna, di setiap ada sisi baik, pasti ada sisi buruk. Dan sisi buruknya Sandra adalah tidak tahan dengan pria yang lebih muda.
Dulu, mungkin dia masih bertahan menahan hasratnya demi melindungi nama baik keluarga. Namun Sandra lama lama merasakan lelah sendiri karena disaat dia berjuang menjaga nama baik, Gustavo dengan seenaknya berganti ganti wanita jika Gustavo sedang ada diluar kota. Istri mana yang tidak sakit hati mengetahui itu semua?
Karena rasa lelah itu lah Sandra akhirnya memutuskan mencari kesenangan sendiri. Mencari brondong bayaran sebagai pemuas hasratnya. Bagi Sandra yang penting Selin tidak tahu masalah orang tuanya. Sandra tidak ingin, Selin kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya.
Namun sayang. Sandra tidak bisa menahan hasratnya saat bertemu Rio. Padahal dia tahu betul Rio ada hubungan dengan Selin, tapi karena nafsulah, Sandra gelap hati dan menyakiti anaknya. Tidak adil memang. Selin membela papahnya dan menganggap papahnya bersih tanpa Selin sadari semua yang terjadi dengan Sandra juga karena pengaruh ulah Papahnya.
Dan kini Sandra juga menyukai supir Selin. Sungguh kenyataan yang membuat Selin semakin muak dengan sang mamah. Meski itu baru dugaan dan belum ada kejelasan sama sekali, namun Selin yakin apa yang di katakan ayahnya benar. Apa lagi Jamal sekarang lebih ganteng dan bersih.
Sementara di dalam kamarnya, Jamal pun masih memikirkan tawaran Sandra kepadanya. Tawaran menjadi seorang artis, sungguh menggiurkan bukan? Tapi tawaran tersebut membuat dilema. Dia ingin memilih tapi bagaimana perasaan majikanya. Dia pasti tak enak hati baru beberapa hari lerja sudah mengundurkan diri. Tapi jika dia menolak tawaran Sandra, apa mungkin Jamal tidak menyesal?
Disaat Jamal sedang menggalau dalam kamarnya, ponselnya berbunyi. Ternyata sang adik di kampung telefon. Jamal segera mengangkatnya.
Betapa kagetnya Jamal saat menerima telfon dari sang adik kalau emak masuk rumah sakit. Sungguh Jamal gelisah mendengarnya. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa. Apa lagi, sang adik juga mengeluhkan juga soal biaya rumah sakit. Hal ini yang membuat Jamal semakin bingung.
Setelah telfon tertutup, Jamal kembali berbaring. Kini yang dia pikirkan bertambah satu yaitu ibu yang dirawat dirumah sakit. Dan tentu saja tentang biaya juga membuat dia sedikit pusing.
Di saat seperti itu, Jamal tiba tiba teringat Sandra. Sepertinya dia memang harus menerima tawaran Sandra yang akan menjidakannya artis. Jamal bangkit dan meraih celana yang tadi siang dia pakai. Tangannya merogoh salah satu saku celana dan dikeluarkannya sebuah kartu nama bernama Sandra Lucia Romanov.
Di saat Jamal hendak menghubungi nomer yang tertera di ponsel, tiba tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk.
"Aku." jawab seseorang dari luar kamar. Dan dari suara yang dia dengar, Jamal tahu siapa orang yang mengetuk pintu. Jamal pun beranjak dan membuka pintu kamarnya.
"Non Selin? Ada apa?" tanya Jamal begitu pintu kamar terbuka.
"Nggak ada apa apa, aku ingin ngobrol aja, apa aku boleh masuk?" ucap Selin.
"Boleh, Non. Silahkan." balas Jamal.
Selin pun masuk ke dalam kamar pembantunya. Matanya mengedar memandang kamar yang tak begitu luas.
"Kamu betah disini, Mal?" tanya Selin saat matanya berkeliling memandangi apa saja yang ada di kamar Jamal.
"Betah, Non." jawab Jamal canggung sambil membuka pintu lebar lebar karena takut ada yang salah paham.
Saat mata Selin melihat ke arah kasur yang tergeletak di lantai, mata Selin menyipit, menatap sebuah kartu nama. Selin pun membungkuk dan memungut kartu nama tersebut.
Betapa terkejutnya Selin saat membaca nama pemilik kartu tersebut. Selin langsung melemparkan tatapan tajam ke arah Jamal yang masih berdiri dan bersandar pada daun pintu.
"Kamu berhubungan dengan mamahku, Mal?"
Deg
...@@@@@...