
Kluntang kluntang kluntang
Sebuah dering hp di atas meja berbunyi cukup nyaring hingga dua orang yang tengah asyik berbagi keringat di atas ranjang sedikit terganggu konsentrasinya saat si wanita sedang bergerak naik turun di atas pangkuan si pria. Rintihan kenikmatan yang keluar dari mulut mereka menandakan kalau mereka memang sangat menikmati permainan ranjang yang sudah mereka lakukan sampai tiga kali dalam sehari ini.
Benar kata petuah, orang akan melupakan segalanya jika gejolak dalam diri manusia tidak bisa dikontrol dan ditahan. Apalagi jika ada kesempatan untuk melampiaskannya. Begitu juga yang dilakukan Jamal dan Selin saat ini. Seharian tinggal bersama tanpa ada gangguan orang lain, membuat mereka asyik meluapkan gejolak tanpa henti. Apa lagi keduanya baru sama-sama pertama kali merasakan nikmat dunia yang satu ini. Jadi kali ini saat masih ada kesempatan, mereka melakukannya kembali.
Dan permainan ketiga ini sudah berlangsung sejak beberapa menit yang lalu setelah mereka tertidur. Semantara Jam dalam ponsel memunjukkan pukul dua siang.
Kluntang kluntang kluntang.
Lagi-lagi ponsel berdering mengalihkan perhatian Jamal yang sedang menikmati bukit kembar Selin dengan mulutnya. Dengan terpaksa Jamal menghentikan kegiatannya terus mengambil ponsel yang tak jauh letaknya.
"Dari siapa?" tanya Selin yang terus menggerakan pinggulnya di pangkuan Jamal.
"Papah kamu, angkat nggak, Non?" balas Jamal.
"Angkat aja, daripada berisik nanti telfon terus," jawab Selin agak ketus. Jamal pun mengiyakan dan dia langusng menggeser tombil hijau dan meletakan benda pipih itu pada telinganya.
"Hallo, Tuan."
"Non Selin baik baik saja, Tuan. Dia berada di kamarnya."
"Sudah, Tuan. Mungkin Non Selin lagi tidur."
"Baik, Tuan. Iya. Iya."
"Baik, Tuan."
Klik. Telfon berakhir. Jamal kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
"Papah ngomong apa?" tanya Selin. Sesaat dia menghentikan gerakan pinggulnya tapi masih di posisi yang sama dengan benda Jamal yang menancap di lembah nikmatnya.
"Ya tanyain Non Selin, Non Selin lagi ngapain, udah makan belum, aku disuruh jagain Non Selin, gitu?" jawab Jamal sambil tangannya memijat bukti kembar di hadapannya.
"Kok kamu bohong, bilang aku lagi tidur? Padahal sudah jelas aku ada di pangkuan kamu?" tuduh Selin sedikit tersenyum.
Puas dengan posisi duduk, Jamal minta Selin tiduran dengan gaya miring dan Jamal juga berbaring di belakangnya. Satu kaki Selin di angkat dan Jamal memasukan benda tegangnya ke dalam lembah nikmat lewat belakang.
"Gila! Punya Non Selin emang mantap. Sempit dan menggigit," Racau Jamal dan Selin hanya mengulas senyum sambil menikmati perlakuan Jamal yang telah menguasai seluruh tubuhnya.
Entah sudah berapa kali, tubuh Selin dibuat bergetar dan meraih puncak akibat ulah Jamal. Dan beberapa saat kemudian, kali ini giliran Jamal yang segera meraih puncak. Ditandai dengan suara kepuasaan, Jamal kembali menyemburkan air kental berwarna putih di dalam lembah Selin. Dan ronde ketiga pun selesai.
Nafas keduanya berangsur angsur normal kembali setelah permainan usai beberapa menit yang lalu. Kini mereka merebahkan badan dengan posisi Jamal memeluk erat tubuh Selin dari belakang.
"Mal," panggil Selin.
"Hum," sahut Jamal.
"Puas?"
"Puas sekali. Non Selin?"
"Sama, Mal," Jamal tersenyum mendengaranya kemudian dia mencium pundak Selin dari belakang dan semakin mengencangkan pelukannya.
"Mungkin salah satu faktor orang selingkuh karena mencari kepuasan seperti ini, Mal?" tanya Selin dengan tatapan menerawang.
"Bisa jadi, Non," balas Jamal.
Selin membalikan badan, menghadap ke atas namun wajahnya menoleh ke arah Jamal. "Nanti kalau kamu mencari kepuasan lain, ngomong aja sama aku ya, Mal? Jangan sembunyi-sembunyi."
Jamal tertawa kecil kemudian membelai lembut pipi Selin. "Mana berani aku, Non. Aku sih nggak bisa janji untuk nggak celup sana celup sini. Aku hanya harus sadar diri aja, Non. Ini aja kalau bukan Non Selin, aku nggak akan mungkin merasakan kenikmatan secepat ini."
"Maka itu, nanti jika kamu ingin menikmati yang lainnya, kamu bilang. Jangan main belakang atau selingkuh. Aku nggak mau dikhianatin lagi, Mal," cicit Selin dan lagi-lagi Jamal mengulas senyum.
"Selama aku masih kerja pada Non Selin, aku akan selalu berusaha hanya lubang Non Selin yang aku masukin, aku nggak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha tidak mengecewain Non Selin."
Selin merasa senang mendengarnya dan mereka saling melempar senyum kemudian mereka juga saling menempelkan bibir dalam-dalam dan sangat ganas.
...@@@@@...