
Hawa panas juga sedang dirasakan sepasang supir dan anak majikan yang sedang melakukan perjalanan pulang menuju tempat kostnya. Setelah tadi ada sedikit hambatan karena kedatangan dua wanita yang penuh ke anehan, kini saatnya mereka merehatkan diri dari rutinitas.
Meski kegiatan mereka terbilang tidak terlalu sibuk, tapi mereka tetap butuh yang namanya istirahat. Lagian panasnya terik matahari membuat mereka malas untuk mampir ke berbagai tempat. Maka itu mereka memilih pulang ke tempat kost sebagai pilihan yang tepat.
Hingga sampai tempat tujuan, tak ada pembicaraan yang berarti diantara keduanya. Sebenarnya sang supir ada unek unek yang ingin dia tanyakan, tapi dia memilih bertanya nanti saja saat sampai berada di tempat kost.
Dan sekarang mereka telah turun dari mobil dan menuju kamar mereka. Meski mereka menyewa dua kamar, tapi yang sering digunakan malah kamar si wanita.
Hanya karena rasa nyaman, mereka jadi lupa diri kalau perbuatan mereka itu salah. Bisa saja suatu saat hubungan itu terbongkar tanpa mereka sadari, tapi untuk saat ini mereka hanya merasa aman dan nyaman satu sama lain.
Sebelum masuk ke kamar Karin, Iqbal terlebih dahulu masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian. Mungkin karena tempatnya bebas, Iqbal hanya memakai boxer dan kaos tanpa lengan jika sudah berada di kamar kostnya. Berbeda waktu masih tinggal di rumah Karin. Iqbal hampir tidak pernah memakai pakaian seperti itu.
Saat Iqbal sudah selesai berganti pakaian, tiba tiba dia mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. Iqbal segera saja membuka pintu.
"Permisi Mas Iqbal," sapa seorang pria yang Iqbal kenal sebagai pemilik kost.
"Iya Pak Amar. Ada apa yah?" tanya Iqbal begitu tahu siapa yang mengetuk pintu.
"Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Mas Iqbal, Apa Mas Iqbal ada waktu?"
"Oh tentu, Pak, silahkan. Mau bicara di sini apa di bawah, Pak?"
"Kalau boleh disini saja, karena ini menyangkut urusan pribadi."
Iqbal tercenung, dahinya berkerut. Tapi tak lama kemudian dia mempersilahkan masuk sang pemilik kost. Mereka berdua pun memilih duduk di lantai. Karena di kamar Iqbal memang tidak ada kursi.
"Maaf, Pak. tidak ada air minum," ucap Iqbal merasa tak enak. Pasalnya dia memang tidak sedia air minum. Ada air mineral dalam kemasan cup satu dus, tapi dia letakkan di kamar Karin. Karena pusat kegiatan mereka lebih banyak dilakukan di kamar Karin, makanya semua keperluan dan fasilitas di taruh di sana.
"Tidak apa apa, Lagian saya cuma sebentar kok. Saya cuma mau menyampaikan pesan dari bapaknya Mbak Karin."
"Tuan Martin nitip pesan, Pak?" tanya Iqbal dengan wajah penuh heran dan tanda tanya.
Pak Amar mengangguk sembari mengulas senyum. "Iya. Dia cuma bilang agar saya mengawasi kalian juga. Tapi Bapak Martin juga bilang, kalau kamu disuruh menjaga anaknya dengan baik. Sepertinya Pak Martin sangat percaya sama kamu, Nak Iqbal?"
Iqbal sontak tersenyum canggung. "Itu memang tugas saya, Pak. Tanpa Tuan Martin minta, saya memang sudah berkewajiban menjaga Non Karin."
Pak Amar pun manggut manggut. "Saya harap, kamu bisa menjaga amanat Bapak Martin dengan baik, Mas Iqbal."
"Maksud Bapak?" tanya Iqbal dengan dahi yang berkerut.
"Saya sebagai pemilik Kos memang membebaskan siapapun disini tidur bersama meskipun lawan jenis sekalipun. Tapi saya sebagai orang tua, melihat kegelisahan Tuan Martin karena anak perempuannya tinggal diluar rumah. Saya harap Mas Iqbal bisa menjaga diri, biar bagaimanapun kalian laki laki dan perempuan. Mas Iqbal pasti ngerti kan? Maksud dari perkataan saya?"
Iqbal langsung terbungkam. Dia hanya bisa mengangguk dan tersenyum kecut. Nyatanya, dia telah merusak kepercayan Tuan Martin. Pikiran Iqbal berkelana. Dia menjadi tidak fokus dengan lawan bicaranya.
"Ya udah, Mas Iqbal. Cuma itu yang mau saya sampaikan," ucap Pak Amar membuyarkan keterdiaman Iqbal. Pak Amar pun akhirnya pamit setelah selesai menyampaikan pesan yang dia bawa.
Iqbal tiba tiba menjadi kalut. Rasa bersalah karena merusak kepercayaan Tuan Martin seketika menyeruak. Dia memang menjaga Karin dengan baik, tapi dia juga yang telah merusak Karin. Iqbal terduduk dilantai bersandar pada pintu yang terbuka. Pikirannya mendadak kalut.
"Iqbal? Kamu lagi ngapain?" tanya Karin yang baru saja keluar kamar dan mendapari Iqbal terduduk di lantai.Iqbal mendongak kemudian mengulas senyum.
"Kamu kenapa duduk disini? Kamu belum makan lih," ucap Karin memperingati.
Iqbal menghela dalam dalam nafasnya lalu dengan kasar dia hembuskan. "Non, kayaknya kita jangan terlalu sering tidur bareng deh."
...@@@@@...