
"Bejo gimana? Apa dia ketangkap?".
"Nggak tahu, kamu coba masuk dan selidiki."
"Mana bisa? Nanti aku malah dicurigai, gimana?"
"Mereka belum melihat wajah kamu, cepat kamu turun dan selidiki, kamu masuk ke toilet. Kemungkinan Bejo ada disana."
Baiklah."
"Ingat, bertindaklah seperti pembeli, terus pura pura ke toilet dan jangan sampe pengunjung curiga."
"Oke, aku tahu, tenang aja."
Salah satu preman yang lain pun turun. Sebelum melangkah, dia mencoba menenangkan hatinya agar tidak grogi. Tak lama kemudian dia beranjak menuju Caffe dimana temannya berada.
Begitu masuk caffe, dia sedikit terkejut, pasalnya hanya ada beberapa pengunjung yang ada disana. Dia pun melangkah menuju meja pelayan buat menyempurnakan perannya.
"Mbak, aku minta americano dingin ya?" pesan preman itu pada salah satu pelayan.
"mau diminum disini atau?"
"Bungkus aja, Mbak."
"Baik, tunggu sebentar."
"Mbak, apa aku bisa numpang ke toilet?"
Tanpa menaruh rasa curiga sang pelayan mempersilakan. Tapi disaat si preman hendak melangkah, telinganya mendengar dari salah satu karyawan kalau polisi akan segera datang ke caffe ini. Dia pun mengumpat dalam hati dan segera melangkah menuju toilet.
Begitu masuk ke dalam toilet, mata si preman membelalak melihat rekannya terkapar di lantai dengan tangan dan kaki yang terikat. Dia segera mendekat ke arah temannya itu.
"Kamu nggak apa apa?" tanya preman itu panik.
"Cepat, lepasin talinya, kita harus lari," ucap rekannya yang terluka lebam di wajahnya.
"Benar, kita harus keluar dari sini, sebentar lagi polisi datang."
Rizal yang merasa mendengar ada suara berisik lantas berinisatif mengintip keluar. Sontak saja Rizal terkejut melihat ada orang yang yang hendak melepaskan penjahat yang menyerang Miranda.
Rizal membiarkan Miranda yang belum sadarkan diri, dan langsung keluar serta berteriak, "Apa yang kamu lakukan? Hah!"
Sontak kedua preman itu terkesiap. Pria yang hendak menolong temannya langsung bangkit dengan tatapan tajam dan menantang.
"Kamu siapa? Hah! Berani kamu sama saya!" gertaknya.
"Nggak ada takutnya aku melawan pengecut kayak kalian!" balas Rizal tak kalah sengit.
Preman terlihat semakin mengerang frustasi karena serangannya tak satupun mendarat di tubuh Rizal dan melumpuhkannya. Dia mengangkat salah satu kakinya dan hendak menendang Rizal tapi pemuda itu lebih gesit dan peka. Kaki Riza terangkat dan di tendangnya tulang betis kaki preman itu dengan keras.
"Aaakh!" teriak preman kesakitan.
Tak berhenti sampai situ, disaat si preman sedang goyah, Rizal langsung mengambil ancang ancang terus melompat, menerjang si preman dengan tendangan ke perutnya.
"Aaakh!" teriak preman hingga terpental.
"Sepertinya di toilet terjadi perkelahian lagi, cepat kamu lihat," ucap pelayan wanita kepada rekannya saat dia mendengar teriakan dan kegaduhan.
"Aku rasa juga begitu," balas pelayan laki laki sambil melangkah cepat menuju toilet. Benar saja, sesampainya si pelayan di toilet, dia melihat orang yang tadi pesan americano sedang tekapar.
"Apa yang terjadi?" teriak si pelayan geram.
"Dia komplotan orang itu, cepat panggil polisi!" perintah Rizal lantang.
"Polisi sedang dalam perjalanan."
Preman yang kedua bangkit hendak menyerang kembali, tapi gerakan Rizal lebih lincah. Seperti ahli bela diri sejati, Rizal mengambil kuda kuda dan langsung bergerak cepat dan mengangkat tubuhnya dengan kaki kanan maju dan menerjang dada si preman hingga kembali terjerembab.
Nguing nguing nguing!
"Polisi datang!" seru si pelayan saat mendengar sirine mobil polisi. Dia langsung keluar menyambutnya.
Dan tak butuh waktu lama, empat polisi masuk ke dalam toilet. Dua orang langsung mengamankan kedua preman dan dua orang lagi meminta keterangan dan penjelasan dari Rizal dan pelayan juga para pengunjung.
"Kebetulan korban belum sadarkan diri, Pak. Pengaruh obat biusnya kuat sekali," jawab Rizal sambil menunjuk Miranda yang masih terpejam.
"Sebaiknya dibawa ke rumah sakit terdekat, biar orang orang itu kami yang menangani," balas Polisi memberi solusi.
"Rencana saya juga begitu, Pak. Saya menunngu bapak datang, karena saya takut jika saya langsung kerumah sakit, mereka akan kabur. Karena kami yakin mereka adalah orang suruhan."
"Baik, kami akan segera menyelidikinya."
"Kalau begitu saya akan membawa Miranda ke rumah sakit."
"Silakan, salah satu rekan saya akan ikut dengan anda."
"Baik, Pak. Terima kasih."
Rizal langsung menangkat tubuh Miranda dan membawanya keluar. Sedangkan di luar sana, satu preman bertambah panik melihat polisi datang.
"Sial! Aku lebih baik kabur! Aku nggak mau ketangkap."
...@@@@@...