TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 125 (Jamal)


"Apa benar yang di katakan mereka, Rio?" tanya Pak Dosen penuh penekanan.


"Iya, Pak," ucap Rio pelan. Dia tidak ada pilihan lain lagi selain menjawab pertanyaan tersebut.


"Apa alasannya? Sampai kamu sok berkuasa seperti itu?" tanya Dosen tajam dan sedikit nylekit di hati.


"Dia merebut pacar saya, Pak," Dosen sontak terperangah mendengar pengakuan Rio. Begitu juga dengan Jamal.


Bagaimana bisa Rio mempunyai pikiran kalau Jamal merebut pacarnya. Pacar yang mana? Bukankah Rio dan Selin sudah putus? Atau jangan jangan Rio melihat Jamal pergi dengan Sandra? Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Jamal saat ini.


"Apa benar begitu, saudara ... "


"Jamal, Pak."


"Ah iya, apa benar yang dikatakan Rio, saudara Jamal?"


"Tidak, Pak. Saya malah tidak tahu pacar yang mana, saya sendiri juga nggak kenal sama dia," sanggah Jamal tenang.


"Jangan bohong kamu, orang udah jelas kamu merebutnya!" bentak Rio lantang dengan menatap tajam ke arah Jamal.


"Diam kamu! Siapa suruh kamu bicara!" hardik Pak dosen tajam kepada Rio.


Disaat mereka sedang berdebat, Selin pun datang. Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, Selin menghampiri Jamal. Tentu saja kedatangan Selin membuat semua yang ada di sana terkejut, terutama Jamal dan Rio.


"Jamal! Kamu nggak apa apa? Kok pipinya lebam?" tanya Selin penuh rasa khawatir. dia pun mengusap lembut pipi supirnya.


Rio yang menyaksikan kemesraan Selin dan Jamal di depan matanya, sontak saja langsung terbakar amarah. Namun saat ini dia tidak bisa berbuat apa apa, karena masih dalam persidangan.


"Apa kamu pacarnya Rio?" tanya Pak dosen begitu Selin berdiri di sebelah Jamal.


"Pacar Rio?" Pak Dosen mengangguk. "Bukanlah, Pak. Amit amit punya pacar seperti dia. Kita udah mantan," jawab Selin penuh penekanan.


Rio terperangah, jawaban Selin membuat hatinya seperti tersayat. Wajahnya sendu menatap wanita yang pernah dia sakiti itu.


"Lah? Gimana sih, Ri? Kamu bilang katanya kamu masih pacaran sama dia?" tanya salah satu temannya yang merasa kaget juga dengan mendengar pengakuan Selin.


"Iya, Ri? Ini yang benar yang mana?" sahut teman yang satunya.


"Ya yang aku tahu, Rio emang beberapa bulan yang lalu pacaran sama Selin, Pak. Terus kata Rio, Selin selingkuh sama anak itu. Ya udah sebagai teman kami bantu dia dong, Pak," jawab salah satu temannya.


"Ya, tolong menolong itu bagus, tapi kalau tujuannya akan menganiaya orang ya berarti kalian salah. Sekarang yang punya masalah Rio, tapi kalian ikut dijebloskan ke dalam penjara? Apa kalian mau?" ucap Pak Dosen menakut nakuti. Dan seketika, Rio dan yang lainnya mendongak, menunjukkan wajah ketakutan mereka.


"Duh, Pak. Masa sampai dijebloskan ke penjara. Kan Bapak lihat kami yang bapak belur? Kenapa kami yang di penjara?" protes Rio tak terima. Tapi dia tetap tak merasa bersalah.


"Iya, Pak. Saya juga nggak salah. Saya hanya ngikutin Rio saja," protes teman Rio.


"Iya, Pak. Yang dipenjara Rio saja, Pak. Kami hanya ngikutin perintah dia," protes teman yang satunya.


Pak dosen tersenyum sinis. Selin menatap tajam dan Jamal menatap datar.


"Kalian memang yang babak belur, tapi yang mengawali menyerang duluan siapa? Memangnya bukti cctv nggak cukup kalau Rio yang menyerang duluan?" balas Pak Dosen santai. Namun ketiga pemuda itu semakin pucat. Jelas saja siapapun takut masuk penjara. Apa lagi mereka yang masih berstatus mahasiswa.


"Sekarang semua keputusan ada ditangan saudara Jamal. Mau kasus ini di bawa ke jalur hukum dengan tuduhan penyerangan atau kalian minta maaf dan hanya mendapatkan hukuman dari kampus?"


Ketiganya kembali terkesiap dan mereka sontak berpikir. Kedua teman Rio setuju meminta maaf pada Jamal dan memilih di hukum pihak kampus. Tapi Rio sendiri diam belum menentukan pilihannya.


Jamal pun dengan suka rela menerima permintaan maaf dua teman Rio. Dan kini semua mata menatap ke arah Rio yang masih terdiam.


"Kamu kenapa diam, Ri? Sudah sana minta maaf," ucap temannya.


"Iya, nunggu apa lagi?" sambung teman yang lain.


Rio mendongak dan menatap Jamal serta Selin dengan amarah yang bergemuruh di dadanya.


"Harusnya kamu tidak percaya Jamal begitu saja, Sel. Dia cowok brengsek dan tak sebaik yang kamu kira," semuannya sontak terperangah mendengar ucapan Rio saat ini.


"Maksud kamu?" tanya Selin dengan tatapan tajam penuh kebencian.


"Tadi aku lihat, Jamal tadi berduaan dengan mama kamu."


Deg!


...@@@@@...