
Waktu perlahan menuju siang. disaat kebanyakan orang sedang sibuk dengan pekerjaan dan aktifitas lainya, di sebuah ruang tamu di dalam apartemen, dua anak manusia sedang terengah terengah mengatur nafas setelah menuntaskan gejolak panasnya di pagi ini.
Keduanya melepas lelah dengan berbaring diatas sofa dalam posisi si pria memeluk si wanita dari belakang. Mereka tak peduli dengan keringat yang bercucuran membasahi tubuh mereka.
"Seandainya disini nanti, anakku tumbuh gimana, Non?" tanya Jamal sambil membelai perut wanita cantik didepannya. Wanita bernama Selin pun jadi ikutan mengusap perutnya sendiri dan berakhir diatas punggung tangan Jamal.
"Kalau mau tanggung jawab ya kita rawat sama sama," balas Selin santai.
"Aku udah ngeluarin banyak benih di dalam panya kamu loh, Non? Semalam sama barusan, bisa aja kan salah satunya tumbuh," ungkap Jamal.
"Enak yah? ngeluarin di dalam?"
"Enak banget, Non. bikin nagih," balas Jamal sambil cengengesan. Tangan yang sedari tadi berada di perut, Jamal pindahkan ke bukit kembar Selin.
"Ya udah, nanti main lagi dan masuknya di dalam terus aja yak, Mal?" titah Selin yang suskes membuat Jamal terkejut.
"Main lagi? Bukankah kita harus pulang, Non?" tanya Jamal.
"Aku kan sudah bilang, aku nggak kamu pulang. Aku lagi malas ketemu papah," sungut Selin.
"Loh, kalau nggak pulang terus aku gimana?" tanya Jamal bingung.
"Kamu nggak mau menemani aku disini? Kalau nggak mau, ya udah sanah kamu pulang!" usir Selin. Dia segera bangkit dan beranjak meninggalkan Jamal menuju kamar dengan wajah cemberut.
"Astaga! Bukan begitu, Non," ucap Jamal. Dia pun bangkit dan duduk terus mengacak ngacak rambutnya merasa frustasi. Jamal segera beranjak menyusul Selin ke kamar yang tadi mereka tempati. Di lihatnya Selin sedang berbaring dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut.
Jamal mendekat, namun disaat bersamaan dia mendengar ponselnya berdering. Jamal langsung mengambil ponselnya dari dalam saku celananya yang tergeletak di lantai.
"Ini Papah telfon, mau ngomong nggak?" ucap Jamal begitu dia melihat nama si penelpon.
"Nggak mau!" jawab Selin ketus tanpa membalikkan badan.
Jamal langsung mengangkatnya. Ketika Tuan Gustavo bertanya, Jamal terpaksa berbohong kalau Selin berada di kamarnya. Jamal terpaksa bohong, kalau Selin sedang tidur di dalam kamarnya. Selian menanyakan keadan Selin, Gustavo juga menyuruh Jamal menjaganya. Jamal otomatis mau melaksanakannya.
"Tuh, Tuan nyuruh aku nemenin Non Selin disini," ucap Jamal begitu telfon berakhir.
"Kalau terpaksa ya nggak usah, mending pulang sana! Aku sendirian juga nggak apa apa," sungut Selin tanpa menoleh. Jamal mengulas senyum tipis kemudian dia ikut naik keranjang dan memasukan setengah badannya ke dalam selimut yang sama dan ikut berbaring serta memeluk Selin dari belakang. Jamal mencium punggung Selin dalam dalam.
"Yakin lah, emang aku takut," balas Selin ketus.
"Ya udah, mungkin ini waktunya aku pulang kampung, nggak ada lagi yang dikerjakan di rumah Non Selin," ucap Jamal sembari hendak bangkit, tapi Selin langsung berbalik badan, menahan tubuh Jamal dan membenamkan kepalanya ke dada pemuda itu serta memeluk sang supir erat erat.
"Apa kamu tega membiarkan aku sendirian?" rajuk Selin. Jamal pun tersenyum. Pelukannnya semakin erat.
"Emang kenapa?" tanya Jamal masih pengin meledek.
"Nanti kalau aku sedih kayak gini, larinya ke siapa?" rajuk Selin persis anak kecil.
"Makanya nyari pacar, biar ada temannya," ledek Jamal.
"Nggak mau, yang ada entar aku diselingkuhin lagi," cicit Selin dan Jamal malah terkekeh, "Kamu utang penjelasan sama aku loh, Mal."
"Utang penjelasan? Penjelasan apa?" tanya Jamal bingung.
"Kamu dapat kartu nama Mamah darimana?" tanya Selin mengingatkan.
"Oh, yang itu?" Selin mengiyakan.
Jamal pun langsung menceritakan pertemuannya dengan Sandra dan menceritakan semua tawaran tawaran Sandra. Selin yang mendengarnya sunguh sangat terkejut. Mamah sampai segitunya mengingkan Jamal.
Jamal juga menceritakan kondisi orang tuanya di kampung hinga dia sempat kepikiran dengan tawaran Sandra.
"Lain kali kalau ada apa apa, cerita sama aku, Mal? Ya udah nanti aku kirim uang buat bantu keluarga kamu," ucap Selin.
"Nggak usah, Non. Non Selin sudah banyak banget ngasih ke aku," tolak Jamal merasa tidak enak.
"Nggak apa apa, uangku nggak bakalan habis semuanya kalau hanya sekedar membantu kamu," ucap Selin memaksa.
"Baiklah, makasih ya, Non," ucap Jamal namun Selin tak menjawab. Dia malah semakin menenggelamkan kepalanya di dada Jamal dan Jamal pun menyambutnya dengan memeluknya begitu hangat.
...@@@@@...