
Tak lama kemudian, Rizal dan Miranda telah sampai di kediamannya. Mata Miranda memicing saat turun dari mobil, dia melihat mobil yang dikendarai Tomi juga masuk tak lama setelahnya. Miranda merasa heran karena tidak biasanya Tomi pulang jam segini.
"Mas Tomi? Tumben jam segini udah pulang?" tanya Miranda begitu melihat Tomi turun dari mobilnya.
"Papih sama mamih mau datang, makanya aku buru buru pulang." balas Tomi dan hal itu membuat Miranda terkejut.
"Kok mendadak?" tanya Miranda panik.
"Makanya aku cepat pulang." balas Tomi. "Rizal, tolong belanjaan bawa ke belakang dan suruh Sari masak buat makan malam yang banyak. Karena Tuan besar mau datang."
"Baik, Tuan."
Miranda dan Tomi bergegas masuk sedangkan Rizal mengambil belanjaan di dalam mobil kemudian membawanya menuju belakang lewat samping rumah.
"Kenapa urusan dapur yang belanja Tuan Tomi terus ya?" gumam Rizal pada dirinya sendiri, tak lama kemudian dia menyadari sesuatu dan segera menepuk keningnya.
"Wajarlah Tuan Tomi yang belanja, secara dia kan kelainan."
Sesampainya di belakang, Rizal langsung memberi tahu apa yang diperintahkan Tuan Tomi. Sari pun mengangguk tanda mengerti kemudian dia kembali fokus ke layar ponselnya.
Benar saja, begitu siang berganti malam, orang tua Tomi datang. Seperti biasa Miranda dan Tomi berakting dengan baik seolah olah mereka keluarga bahagia. Mereka pun saling berpelukan dan bertanya kabar.
"Mamih kenapa nggak ngabarin kita mau datang kesini? Kalau mamih ngabarin kan biar aku jemput." ucap Miranda yang mengambil tempat duduk di sebelah ibu mertuanya.
"Sengaja, Mir. Tuh Papih yang minta. Katanya buat kejutan." jawab Mamih mertua.
"Ada ada aja si Papih loh," balas Tomi.
"Kayak nggak tahu aja Papih kamu, Tom." balas Mamih mertua lagi.
Seandainya boleh jujur, Miranda sebenarnya enggan berada di posisi seperti ini. Bersikap pura pura bahagia. Miranda tahu pasti ujung ujungnya mereka akan menanyakan soal anak, sedangkan Miranda yakin kalau anak mereka tidak suka sama perempuan. Tidak berselera sama sekali.
Memang benar, ada beberapa laki laki yang menyimpang tetap bisa punya anak. Namun dibalik itu, mereka tetap dengan gejolaknya dan melakukan penyimpangan dibelakang keluarga. Apa itu tidak menjijikkan? Apa lagi katanya penyakit itu tidak bisa disembuhkan. Bagaimana mau sembuh kalau mereka sangat menikmati penyimpangan tersebut.
"Gimana? Apa ada kabar baik?" tanya Papih mertua.
Benar saja apa yang baru saja Miranda pikirkan. Mertuanya pasti akan melempar pertanyaan yang menjurus ke arah cucu.
"Masih berusaha, Pih," Jawab Tomi seperti biasa. Miranda tahu, suaminya pasti sangat gusar dan tidak nyaman jika sudah dilempar pertanyaan seperti itu. Begitu juga Miranda, dia ingin sekali berbicara jujur, namun entah kenapa mulutnya seakan tercekat tiap kali ingin mengatakan yang sebenarnya.
"Adikmu aja anaknya mau dua loh, Tom. Padahal kan kamu duluan yang nikah," timpal mamih mertua. Dan hal ini sudah terbiasa mereka alami, dibanding bandingkan. Wajarlah jika adiknya Tomi cepat punya anak. Orang dia lelaki tulen. Nikah saja karena hamil duluan. Tapi masih mending kan kalau adiknya lelaki sejati. Tidak seperti kakaknya. Hanya badan yang gagah dan perkasa, tapi senjatanya malah salah jalan.
"Namanya belum rejeki, gimana lagi, Mih." ucap Tomi. Kelihatan banget dia sudah malas dengan pertanyaan pertanyaan seperti itu.
"Coba deh, kalian periksa ke dokter?" saran Papih mertua.
"Sudah, Pih. Kita berdua sehat kok. Memang belum dipercaya saja punya momongan." balas Tomi lagi dan kali ini jawabannya adalah dusta belaka. Boro boro periksa ke dokter, rencana buat cek aja Tomi tidak mau.
"Mih, Pih, Miran ke belakang dulu yah? Mau ngecek makanan, sudah siap apa belum," ucap miranda beralasan. Dia hanya ingin menghindar dari situasi seperti ini. Segera saja Miranda beranjak menuju dapur.
"Kalian yakin, sudah melakukannya?" tanya Papih begitu Miranda sudah pergi dan tak kelihatan tubuhnya.
"Sudah, Pih. Orang belum dikasih, gimana lagi," dusta Tomi.
"Awas aja kalau kamu bikin malu keluarga!" ancam Papih.
"Sudah, Pih. Nanti Miranda dengar, nggak enak." ucap Mamih menengahi.
Seketika ketiganya terdiam hingga Miranda kembali ke ruang tamu dan memberi tahu makanan sudah siap.
Saat mereka semua menuju meja makan, Papih melihat Rizal sedang membantu pekerjaan Sari di dapur. Tatapannya begitu tajam ke arah Rizal sampai yang di tatap merasa bingung sendiri.
"Kenapa ada pekerja laki laki di rumah ini?" tanya papih yang membuat Miranda dan Tomi terperangah.
...@@@@@...