TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 156


"Aleta, kamu baru pulang?" tanya Amanda yang sedang duduk di ruang tengah sembari menonton drama di televisi dengan judul ku menangis. Wanita itu tertegun saat melihat putri keduanya masuk sembari berjalan mengendap endap menuju tangga yang letaknya tak jauh dari ruang tengah. Tentu saja seketika Amanda langsung terkesiap dan berbalik badan ke arah Amanda sambil cengengesan.


"Hehehe ... Iya, Mi. Leta ke kamar dulu ya? Capek," jawab Aleta dengan gugup dan kembali hendak melangkah menaiki anak tangga.


"Pulang Sendiri? Belinda mana?" tanya Amanda dengan tatapan penuh selidik. Sontak Aleta menghentikan langkah kakinya. Dadanya berdegup lebih kencang saat pertanyaan tentang Belinda muncul. Dengan ragu, Aleta perlahan berbalik badan lagi ke arah Amanda.


"Biasa, Mi. Lagi mencari pernak pernik buat butiknya nanti," jawab Aleta mencoba tenang. Kening Amanda berkerut.


"Mencari pernak pernik buat butik?" Aleta mengangguk. "Masa dari kemarin kemarin mencari pernak pernik belum dapat juga?"


"Ya nggak tahu, Mi. Buktinya hari ini masih tetap nyari," jawab Aleta.


Tapi entah kenapa Amanda merasa kalau kali ini, anak keduanya itu tidak jujur. Dilihat dari gelagatnya, Aleta nampak menyembunyikan sesuatu.


"Kamu lagi nggak bohongin Mami kan, Let?" tanya Amanda dengan tatapan tajam penuh ketidak percayaan.


Tentu saja pertanyaan Amanda membuat Aleta terperangah. Sejenak Aleta merasa bingung mencari jawaban untuk membantah pertanyaan Sang Mami.


"Siapa yang bohong? Mami nggak percaya sama kita?" bukannya menjawab, Aleta malah balik bertanya alih alih menutupi kebohongannya.


"Bukannnya Mami nggak percaya, tapi ..."


"Udahlah, Mi, nggak usah menyangkal. Dari dulu Mami sama Papi memang nggak pernah percaya kan, sama aku dan Belinda? Hingga Mami dan Papi memaksa kita pulang agar kalian bisa mengekang dan mengatur hidup kita, iya kan?"


Sontak Amanda terkesiap mendengar tuduhan anaknya. Meski ada sedikit kebenaran dalam tuduhan tersebut, tapi sebagai orang tua, Amanda hanya ingin melindungi anaknya agar tidak terlalu jauh dalam bergaul.


"Apa perlu kita melakukan hal seperti Karin keluar dari rumah ini, Mi?"


Deg!


Sementara itu di sebuah apartemen.


Slurup!


Mendapat pujian dari Rio, Belinda semakin semangat melahap dan memainkan benda menegang yang ukurannya besar untuk seukuran orang pribumi.


Rio menjeda permainan mulut Belinda sejenak karena dia merasa capek dan kurang rileks saat benda miliknya di nikmati dengan cara berdiri. Pemuda itu lantas duduk dan bersandar. Dengan buas, Belinda kembali menyerang benda menegang tersebut.


"Aahh ... " Rintihan penuh rasa nikmat juga keluar dari mulut Rio. Sesekali tangan Rio menyibak rambut Belinda yang tergerai dan menggengamnya. Tangan satunya juga tidak dibiarkan menganggur. Rio menggunakan tangan sarunya memijat bukit kembar yang bergelantung indah dan menggemaskan.


Puas memainkan senjata dengan mulut, kini Belinda meminta Rio segera melakukan penyodokan. Wanita itu sudah tak tahan ingin segera di koyak dan di obok obok lembah nikmatnya oleh benda menegang milik Rio yang besar.


"Pakai pengaman yah? Biar kita tidak was was dan sering main kalau ketemu," pinta Rio.


"Emang kamu punya stok?"


"Ada, di laci sebelah ranjang, kamu ambilin gih."


Belinda segera bangkit menuju kamar Rio. Sedangkan Rio melepas semua celana yang tadi hanya diturunkan sebatas lutut. Tak butuh waktu lama, Belinda pun kembali dengan membawa sebungkus alat pengaman merk ternama. Dia menyobek pembungkusnya, mengambil isinya, dan juga memasangkannya pada benda menegang milik Rio.


"Stok nya banyak banget, apa sering ada cewek yang datang kesini?" tanya Belinda sambil memasang alat pengaman tersebut.


"Ya begitulah," ucap Rio sekenanya. Dia tidak mungkin jujur kalau hanya wanita saja yang pernah main diapartemennya.Tapi juga laki laki kaya yang sekarang menjadi ATM untuknya.


Setelah alat pengaman terpasang sempurna, Belinda langsung membentangkan kakinya diantara tubuh Rio. Karena sudah sangat berpengalaman, Belinda mampu mengarahkan sendiri benda menegang itu masuk ke dalam lembah nikmatnya. Sedangkan Rio, dia hanya memperhatikan apa yang Belinda lakukan sembari kedua tangannya bermain di dada Belinda.


"Aakh ..." mulut Belinda mengeluarkan suara kenikmatan yang sedang menjalar di tubuhnya saat benda menegang milik Rio perlahan masuk dan memenuhi lembah nikmat hingga terasa sesak.


"Gila! Menggigit banget punya kamu, Bel," racau Rio keenakan. Belinda hanya tersenyum nakal kemudian perlahan pinggangnya bergerak.


"Enaknya, aakh ..."


...@@@@@@...