
Hari kini menjelang petang. Dari arah sebuah kediaman yang sangat megah, seorang pria nampak bergegas memasuki rumahnya begitu dia keluar dari mobil setelah pulang dari rumah sakit. Pria yang akrab dipanggil Tuan Martin itu, sedang tergesa gesa untuk menemui sang istri guna meminta penjelasan.
Begitu sampai di dalam rumah, pria itu bergegas naik kelantai dua menuju kamarnya. Saat tangan kanannya membuka pintu kamar, betapa terkejutnya Martin dengan apa yang dia lihat. Sang istri yang bernama Amanda sedang memasukkan baju bajunya ke dalam koper.
"Apa yang sedang Mami lakukan?" tanya Martin sedikit keras dari ambang pintu. Lantas dia mendekati sang istri yang mengulas senyum sekilas saat menatap dirinya.
"Seperti yang Mas lihat, aku sedang membereskan pakaianku," balas Amanda lembut dan pelan, tapi cukup membuat Martin kaget.
Martin semakin dibuat tercengang saat mendengar sang istri merubah nama panggilannya. "Mih? Maksud Mami apa sih? Kenapa Mamih bersikap kayak gini?"
Amanda kembali mengulas senyum dan memandang suaminya. "Bukankah kamu akan menceraikan aku, Mas?"
Deg!
Martin terkesiap mendengarnya. Ternyata ancamannya untuk bercerai penyabab istrinya merubah panggilannya. "Mi, kemarin Papi hanya ..."
"Hanya mengancam? Meskipun itu sebuah ancaman, kan kamu sempat cerita pada Karin, Mas. Kamu kecewa sama saya, kamu sudah nggak tahan dengan sikap saya. Oke, aku akui, mungkin aku memang salah dalam mendidik anak anak," balas Amanda dengan mata yang mulai basah.
"Tapi Mih, aku hanya ..."
"Jangan jadikan kata cerai untuk permainan, Mas. Apa lagi kamu laki laki. Harusnya pantang mengucapkan kata cerai walau hanya dalam emosi. Tapi mau bagaimana lagi, kamu sudah niat dalam hati, aku bisa apa, Mas?"
Martin terbungkam. Dia tidak bisa membalas ucapan istrinya. apa yang dikatakan Amanda memang benar.
"Kamu tidak perlu merasa jadi suami dan ayah gagal, Mas. Disini aku lah yang gagal menjadi istri dan ibu. Maka itu, aku tidak ingin membuat kesalahan lagi. Maafin aku, Mas. Maafin aku jika selama ini aku menjadi istri yang buruk buat kamu," Amanda langsung menghampus air matanya. Dia menutup koper dan menurunkannya dari atas ranjang. Kakinya melangkah mendekati sang suami. Amanda mengajak Martin untuk berjabat tangan.
mata mereka saling beradu. Airmata keduanya mulai membanjir. Tapi Amanda masih menunjukkan senyum tegarnya.
"Aku pamit, Mas."
Martin bukannya membalas, dia malah menarik tangan Amanda dan memeluk tubuhnya dengan erat. "Jangan seperti ini, Mi. Papi tahu, Papi keterlaluan. Maaf, karena Papi sempat berpikir untuk menceraikan Mami. Maaf, Mi. Jangan tinggalin Papi. Kita perbaiki semuanya ya?"
Amanda hanya terdiam sambil terisak. Kedua orang yang beranjak tua itu, larut dalam isak dan pikirannya masing masing.
"Gimana ceritanya sih, Bal? Kok bisa, Mami membawa kamu kesini?" tanya Karin yang masih belum percaya dengan kejadian beberapa puluh menit yang lalu.
"Aku juga nggak tahu, Non. Orang kemarin saat aku pulang dari rumah temen, Nyonya Amanda sudah ada dirumah dan sedang ngobrol sama keluargaku. Yang bikin aku tambah heran, mereka saling tertawa kayak nggak ada masalah gitu," ungkap Iqbal.
Karin nampak manggut manggut. "Berarti kamu nggak tahu, awal ceritanya Mami sama orang tua kamu terlihat akrab?"
Iqbal mengangguk. "Pas aku datang aja, aku cuma ikut ngobrol sebentar. Itu aja Nyonya cuma ngasih aku perintah untuk ikut ke kota, Kenapa kamu nggak cerita kalau kamu kecelakaan?"
Karin tersenyum sejenak. "Aku nggak mau menambah beban pikiran kamu. Mendengar kamu kesulitan mendapat maaf dari orang tua aja, aku udah sedih dan merasa bersalah banget. Bagaimana mungkin aku tega menambah beban pikiran kamu, Bal."
Iqbal pun turut mengulas senyum. "Ya udah lupakan. Yang penting kita sekarang udah dapat restu. Tinggal usaha kita aja bagaimana menjaga kepercayaan orang tua kita."
Karin mengangguk sembari tersenyum.
"Sekarang sudah malam, kamu lebih baik tidur, aku mau ke toilet dulu."
Lagi lagi Karin mengangguk. Iqbal lantas turun dari brangkar dan melangkah menuju toilet. Sedangkan Karin merebahkan tubuhnya sembari menunggu Iqbal. tak butuh waktu lama, Iqbal pun keluar dari toilet dan duduk di bangku dekat brangkar Karin terbaring.
"Bal."
"Hum? Apa?"
"Kangen."
Iqbal langsung tersenyum. "Kan aku udah ada disini. Masa masih kangen?"
"Kangen tidur sambil memegang isi celana kamu, Bal."
"Astaga!"
...@@@@@...