TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 96 (Iqbal)


Panik. Tentu saja semua panik. Karin yang mungkin sudah sangat tertekan karena orang tuanya memilih pergi diam diam karena sudah merasa lelah dengan sikap orang tuanya. Martin kini terduduk lemas di ruang keluarga. Amanda hanya bisa menangis dan sedang dihibur oleh kedua anak perempuannya. Aleta dan Belinda hanya terdiam dengan ekspresi wajah yang susah diartikan. Entah mereka merasa sedih atau hanya pura pura sedih, cuma mereka berdua yang tahu. Lagian awal masalah Karin berdatangan karena ulah mereka berdua.


Iqbal yang ada di sana bersama Mbak Inah dan yang lain pun hanya terdiam kebingungan. Dalam hati Iqbal merasa bersalah pada Karin. Semalam Karin ke kamarnya pasti karena Karin ada masalah. Apa lagi teringat dengan jelas saat Karin memeluknya begitu pintu kamar terbuka, Karin wajahnya begitu kusut.


Yang membuat Iqbal menyesal adalah semalam Iqbal mengabaikannya. Dia terlalu asyik berkirim chat dengan teman temannya sampai dia lupa ada seseorang yang sedang membutuhkannya. Bahkan Karin menunggu lama tapi Iqbal malah tidak peka. Berharap pagi ini Karin sudah baik baik saja dan akan memaafkannya, tapi yang terjadi malah diluar dugaannya. Karin pergi dari rumah.


"Kan Mamih sudah bilang, Pih. Mamih sudah peringatin. Jangan ditukar. Kenapa Papih malah ngomong sama Karin? Lihat sekarang hasilnya?" ucap Amanda sambil terisak.


"Papih hanya mencobanya, mih. Papih pikir dia nggak akan keberatan tukeran supir," ucap Martin lesu.


"Tapi lihat, kan hasilnya?" bentak Amanda. "Lagian Mamih juga heran, kenapa kalian maksa maksa tukeran supir, kenapa? Kan dari awal Mamih sudah bilang Iqbal jatahnya Karin. Kenapa kalian ingin mengusiknya?" tanya Amanda sedikit keras kepada dua anak disampingnya.


"Kami nggak ada maskud apa apa kok, Mih?" kilah Belinda.


"Iya, Mih. Apa salahnya tukeran supir? Heran, curigaan mulu," timpal Aleta.


"Wajar Mamih curiga!" sungut Amanda membentak Aleta.


Iqbal terperangah mendengar semuanya. Jadi Non Karin semalam habis bertengkar dengan Tuan Martin karena mau ditukar posisi supirnya? Itulah salah satu pertanyaan yang timbul dalam benak Iqbal saat ini. Juga ada pertanyaan tentang pertukaran supir yang Belinda dan Aleta ajukan. Sungguh Iqbal tak habis pikir kenapa kedua kakak Karin ingin sekali bisa bersamanya?


"Iqbal, beberapa hari ini selama kamu mengantar Karin, kira kira, kemana saja tempat yang kalian kunjungi?" tanya Martin kepada Iqbal yang sedang berdiri disisi Mbak Inah.


"Tidak banyak, Tuan. Paling sering duduk di taman dan main di Mall," jawab Iqbal jujur.


"Tidak, bersama saya. Kayaknya Non Karin nggak punya teman, tiap hari di kampus sendirian."


Deg!


Hati Martin dan Amanda mencelos. Sebenarnya Karin memiliki teman yang banyak. Dulu bahkan teman temannya sering main ke rumah. Namun sejak terjadi rumor, Karin dilarang bergaul bersama teman temannya oleh Martin dan Amanda. Bahkan kemarin saja Martin malah menyuruh Karin mengurangi belajar kelompoknya.


"Ya udah, Bal. Apa kamu bisa ke kampus Karin? Tolong kamu coba cari disana, nanti saya biar nyuruh yang lain mencari di tempat lainnya," titah Martin.


"Baik, Tuan," ucap Iqbal dan dia langsung pergi melaksanakan perintah Tuan Martin.


Sepanjang perjalanan pikiran Iqbal terus tertuju pada Karin dan rasa sesalnya karena mengabaikan anak majikan yang satu itu. Iqbal tahu saat ini hanya dia yang membuat Karin nyaman dan tetap bertahan di rumah itu. Namun, pengabaian yang Iqbal lakukan membuat Karin semakin yakin kalau di rumah itu Karin hanya sendirian. Itulah perkiraan yang ada dipikiran Iqbal.


Tak lama kemudian sampailah Iqbal di tempat parkir kampus Karin. Setelah mobil terparkir, Iqbal langsung keluar, tapi dia bingung harus bertanya pada siapa karena dia sendiri tidak tahu, yang mana teman-teman Karin. Iqbal merasa frustasi, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Iqbal melihat pos satpam dan dia mencoba bertanya kesana. Tapi satpam yang menjaga tidak tahu yang mana mahasiswa yang bernama Karin. Iqbal semakin frustasi. Namun Iqbal dapat informasi kalau hari ini lagi tes semester jadi kemungkinan mahasiswa akan berangkat semua jadi Iqbal mending di suruh nunggu. Iqbal pun menurutinya.


Hingga beberapa jam menunggu, sosok Karin tak kunjung kelihatan dari banyaknya mahasiswa. Iqbal pun tak pantang menyerah. Dia terus menunggu. Hingga pada saat dia sedang menghampiri pedagang minuman, mata Iqbal melihat sosok yang dia cari turun dari ojeg online. Iqbal senang bukan main. Dia langsung mendekat dan menarik tubuh Karin hingga tubuh wanita itu memutar dan jatuh dalam pelukannya.


"Akhirnya kamu ketemu, Non."


...@@@@...