TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 238 (Rizal)


Rizal tercengang mendapat ancaman dari Tomi. Bukannya dia tidak takut dengan ancamannya itu, tapi Rizal cukup syok mendengarnya.


Merusak rumah tangga orang? Apa mungkin Non Miran dan Tuan Tomi jadi bercerai? Rizal harusnya senang bukan? Tapi entah kenapa Rizal malah menjadi gundah.


"Zal," panggil Mbak Sari sambil menepuk lengannya.


"Eh, iya, Mbak?" tanya Rizal agak tergagap.


"Kamu nggak apa apa?" Mbak Sari bertanya kembali. Mungkin dia tahu hati Rizal sekarang sedang gundah.


"Hehehe ... nggak apa apa kok, Mbak," kilah Rizal. Tidak mungkin dia jujur kalau hatinya sedang bimbang.


Rizal juga punya hati dan pikiran. Tidak mungkin dia mau berada dalam posisi seperti ini. Berbahagia dengan merusak kebahagian orang lain. Tidak, Rizal tidak ingin berada pada posisi ini.


Tapi semua ini memang sudah terjadi. Mungkin saja semua ini memang jalan yang harus terjadi. Jalan yang harus Rizal lewati untuk bertemu jodoh. Karena yang Rizal tahu, tidak semua jodoh datang dengan cara yang biasa.


Rizal kembali memperhatikan apa yang sedang terjadi di ruang tamu. Sidang keluarga nampaknya belum selesai. Entah ada kejutan apa lagi yang bisa membuat Rizal merasa tidak enak hati.


Ya, suasana di ruang tamu memang masih tegang. Lantaran sekarang yang dibahas adalah tentang status anak adopsi yang dilakukan orang tua Miranda.


"Sekarang, apa yang akan kalian inginkan? Kenapa kalian bisa bersikap seperti itu kepada Miranda? Kalau kalian berniat menyiksa anak kalian? Kenapa kalian mengadopsinya?" tanya Papi mertua bertubi tubi. Siapapun yang tahu keadaan seperti itu pasti sangat heran.


kedua orang tua Miranda nampak diam. Mereka tidak ada satupun yang berani menjawab pertanyaan besannya.


"Mi, Pi, maaf," kini giliran Miranda yang bersuara. "Aku nggak tahu, alasan apa yang menyebabkan kalian membenciku. Maaf jika aku sebagai anak angkat, tak tahu diri, atau mungkin anak apalah terserah pemikiran kalian. Maaf atas segala dosa yang mungkin sering aku lakukan, hingga kalian bisa berbuat seperti ini. Dan aku juga tidak lupa, meskipun kalian membenciku, aku ucapkan terima kasih karena telah merawatku sampai sebesar ini. Sekarang jika kalian ingin membuangku kembali, silakan."


Kedua orang itu terkesiap mendengar ucapan Miranda. Mereka hanya bisa menatap tanpa mengeluarkan suara. Entah apa yang sedang mereka pikirkan saat ini, yang pasti dari tatap mata keduanya, mengandung tatapan arti yang berbeda.


"Ya sudah," Papi mertua kembali bersuara, "Sekarang keputusan ada di tangan kamu, Mir. Kamu mau cerai silakan, mau bertahan juga silakan. Kamu udah gede, udah dewasa, tentuin sendiri jalan yang ingin kamu ambil."


"Makasih, Mi, makasih, Mami sama Papi masih peduli sama Miranda. Maaf, karena Miranda belum bisa membuat kalian bahagia," balas Miranda penuh sesal.


Drama di ruang tamu pun berakhir juga. Orang tua Miranda memilih pergi tanpa ada kata apapun untuk anak angkatnya. Mereka menolak untuk sekedar sarapan apalagi menginap. Jujur, Miranda sangat kecewa dengan sikap mereka. Entah mereka merasa bersalah atau tidak. Kedua orang tua Miranda memang menunjukan tatapan yang berbeda. Tatapan Papi seperti tatapan orang yang menyesal, sedangkan tatapan Mami tatapannya masih terlihat ada amarah disana.


Sementara orang tua Tomi, memilih menikmati sarapan bersama Miranda. Mereka malah terlihat lebih dekat setelah saling terbuka. Mereka menikmati sarapan dengan berbagi cerita ringan dan juga awal mula perselingkuhan mereka.


Sedangkan Rizal memilih diam di dalam kamarnya. Ingin kelluar tapi dia was was karena masih ada orang tuanya Tomi. Biar bagaimanapun, Rizal merasa tidak enak hati karena telah merusak rumah tangga anak mereka.


"Apa supir yang bersamamu itu, anak yang kemarin Papi lihat, Mir?" tanya Papi disela sela menikmati sarapannya.


"Iya, Pi," jawab Miranda merasa tak enak.


"Jika kamu ingin menikah dengan dia, apa dia sudah memiliki pegangan? Bukankah nantinya dia berkewajiban menafkahi kamu?"


"Dia punya rencana untuk buka usaha sendiri, ya tak jauh dengan bidang yang aku geluti, tapi setidaknya dia sudah ada rencana untuk masa depan nanti."


"Ya baguslah, kalau ada apa apa, jangan sungkan hubungi Mami sama Papi."


"Iya, Pi, makasih."


Sedangkan Tomi, sejak meninggalkan perdebatan, dia memilih pergi mencari tempat untuk menenangkan diri. Dia masih tidak terima dengan keputusan orang tuanya yang mendukung perceraian diririnya dengan Miranda.


"Sepertinya orang tua Rizal harus tahu kelakuan anaknya di sini. Apa mereka akan bahagia jika anaknya berhasil merusak rumah tangga majikannya?" gumam Tomi penuh kebencian.


...@@@@@...