
"Aku harus melakukan sesuatu."
Iqbal memang harus bertindak. Dia tidak ingin Karin masuk jebakan. Iqbal berpikir keras. Hingga beberapa saat kemudian Iqbal menemukan sebuah cara dan Iqbal langsung mengutak atik ponselnya.
Disaat bersamaan, Belinda menyerahkan minuman yang diminta oleh Karin. Tanpa rasa curiga sedikitpun Karin meminumnya. Belinda pun tersenyum sinis merasa senang karena rencananya setengah berhasil.
"Mana makanannya?" teriak Belinda sambil berbaur ke arah Candra dan Rio. "Sebentar lagi kalian beraksi, target sudah masuk perangkap," bisik Belinda.
"Siap," jawab kedua pria itu kompak.
Karin tidak mencurigai apapun tentang mereka. Sedari tadi dia makan dan minum, Karin merasa aman aman saja. Hingga beberapa saat kemudian, setelah Karin minum setengah gelas air soda yang Belinda ambilkan. Tiba-tiba kepala Karin merasa pusing.
"Kamu kenapa, Rin? Kamu sakit?" tanya Aleta saat melihat Karin memegangi kepalanya.
"Nggak tahu ini, Let. Kepalaku pusing banget," balas Karin. Dan saat dia hendak berdiri, tiba tiba Karin ambruk di atas sofa yang Karin duduki.
Bruk!
"Karin!" pekik Aleta.
"Biarin, Let. Itu obat tidurnya sudah bekerja," ucap Belinda santai. Aleta yang tahu maksud perkataan Belinda hanya ber oh saja. "Rio, Candra, sekarang tugas kalian."
"Oke," sahut Rio. "Ayo Can."
"Siap."
Mereka berdua melangkah ke tempat Karin berada. Saat mereka sudah berada di dekat Karin dan hendak mengangkat tubuh Karin.
Prok, prok, prok.
Suara tepuk tangan sontak membuat ke empat orang yang ada disana. Mereka langsung menoleh.
"Iqbal!" pekik Belinda dan Aleta nampak terkejut.
"Oh, jadi ini alasan, kenapa kalian ngajakin Karin kesini? Gila!" ucap Iqbal dengan sinis.
"A-apa maksud kamu?" tanya Belinda tergagap.
"Nggak usah pura pura deh, Non. Aku sudah dengae semua rencana kalian, tega yah? Sama saudara sendiri berbuat keji seperti itu," sindir Iqbal sengit.
"Kamu ngomong apa sih, Bal? Nggak usah ngaco deh," kilah Belinda mencoba bersikap tenang. Tapi sayang Iqbal tak bisa dikelabui.
"Hanya demi membuat aku bertekuk lutut di hadapan kalian, kalian tega mau menfinah adik sendiri? Hebat! Kalian sungguh tidak punya hati," tuduh Iqbal dengan geram. belinda dan Aleta semakin terkesiap mendengar apa yang Iqbal katakan. Bagaimana mungkin Iqbal tahu rencananya.
"Kalian akan membuat Karin seolah olah Karin tidur dengan dua pria itu, Lalu mereka selfi, terus fotonya kalian gunakan untuk menghasut aku dan Tuan Martin, benarkan? Astaga! Rencana kalian rapi sekali."
Belinda dan Aleta semakin tersudut dan geram sendiri karena rencananya diketahui oleh Iqbal. Segala umpatan hanya mampu mereka ucapkan dalam hati. Merek pun berpikir keras untuk menyangkal semuanya.
"Nggak usah banyak omong deh kamu! Kalau berani, lawan aku, kita duel!" gertak Candra dan melangkah maju dan melayangkan bogeman kearah Iqbal.
Duk!
"Ahkh!"
Duk!
"Aakh."
Tangan candra kembali ditarik dan dihempaskan hingga pemuda itu tersungkur ke belakang Iqbal. Candra mengerang kesakitan. Dan tentu saja semua yang melihatnya panik.
Rio yang merasa tak terima temannya dibuat tersungkur, lanngsung maju dan melayangkan tendangan. Sayang sekali tendangan Rio langsung mendapat sambutan tendangan telapak kaki Iqbal dengan keras.
Dak!
"Akh!" pekik Rio sambil memegangi tulang betisnya yang kesakitan. Rio mencoba bangkit tapi Iqbal langsung melayangkan tendangan memutar.
"Haaaaaat!" teriak Iqbal.
Dak!
"Akhh!" teriak Rio, Aleta dan Belinda bersamaan saat kaki Iqbal mendarat telak di pipi Rio hingga dia jatuh diaatas meja.
Brak!
Candra bangkit dan mencoba menyerang Iqbal dari belakang. Sayangnya Iqbal terlalu peka. Ketika Candra mengangkat salah satu kakinya, Iqbal menekuk lutut sembari memajukan kaki kanannya dan mendarat di tulang betis dengan keras.
Dak!
"Akhh!" Candra goyah dan jatuh tepat di depan Iqbal. Beruntung Iqbal segera menghindar, jadi tubuh Iqbal jatuh ke lantai, tidak menimpa dirinya.
"Bawa kedua pria kalian ke kamar, cepat!" bentak Iqbal kepada Belinda dan Aleta yang ketakutan. "Cepat!"
"Ba-baik, Bal," ucap Aleta dan Belinda tergagap. Mereka langsung menangkat tubuh dua pria itu dan memapahya ke dalam kamar. Aleta memapah Rio, Belinda memapah Candra. Iqbal mengikutinya dari belakang dengan tatapan tajam.
"Masukan mereka dalam satu kamar!" bentak Iqbal lantang.
Sesuai perintah, Aleta dan Belinda memasukan dua pria itu di kamar yang mudah dijangkau. Iqbal melihat kamar yang belinda masuki, kuncinya tergantung di lubang di lubang pintu. seketika Iqbal merubah rencananya. Saat mereka masuk, Iqbal menutup pintu dari luar dan menguncinya.
"Iqbal! Buka ... Iqbal!" teriak Aleta dan Belinda.
"Sebelum Tuan Martin datang, kalian akan aku kurung dalam kamar!"
Wajah Aleta dan Belinda langsung memucat.
...@@@@@@...