TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 160


Dalam hati Karin bertanya, apa gerangan yang membuat papinya siang siang dan panas begini, datang ke kosannya? Apa ada pengaduan lagi tentang dirinya? Ingin rasanya Karin bertanya pada supir papinya, pasti jawabannya tidak tahu. Wajar jika supir pribadi tidak tahu, Tuan Martin tidak pernah memberi tahu alasan dia datang kesuatu tempat seperti saat ini.


Sementara Iqbal yang sedari tadi terdiam, langsung menghampiri Mang Kardi. Meski Iqbal anak baru, dia orangnya mudah akrab dengan orang orang yang ada di rumah Karin, termasuk dengan Mang Kardi. Mungkin karena mereka satu profesi dan sama sama dari kampung, jadi obrolan mereka terlihat sangat nyambung. Padahal dari segi usia, mereka beda jauh.


Sama halnya dengan Mang Kardi, supir khusus yang di gunakan Aleta dan Belinda juga udah tua. Entah kenapa Mami sama Papi memilih yang tua, tapi untuk Karin malah pakai supir yang muda. Mungkin karena memang sudah takdirnya, Iqbal dan Karin bertemu dengan jalan seperti itu.


"Karin!" merasa ada yang menyebut namanya dan suara yang menyebut namanya adalah suara yang sangat familiar, Karin pun segera menoleh.


"Papi?" ucap Karin datar. Tidak terlalu terkejut meski banyak pertanyaan yang dia ingin dia lontarkan.


"Dari mana? Kok baru pulang?" tanya Martin begitu dia berdiri disebelah anaknya.


"Dari kampus," jawab Karin singkat. Martin menghela dalam nafasnya dan perlahan menghembuskannya. Sikap anaknya masih dingin sejak kejadian Martin meminta anaknya bertukar supir.


"Kapan pulang? Kamu nggak kangen sama Mami?" tanya Martin sedikit berharap.


Tentu saja sebagai seorang anak, Karin kangen sama orang yang melahirkannya. Kangen dengan papi dan kedua kakaknya. Kangen kehangatan keluarga yang dulu hangat. Jika bisa mengulang waktu, Karin ingin kembali ke masa kecil saja. Masa dimana kedua kakaknya masih suka ngajak dia main masak masakan tanpa rasa iri dan pertengkaran yang berarti.


"Karin masih betah disini, Pi," jawab Karin sembari membuang muka karena tidak mau papinya tahu kalau dia sedih.


"Tinggal di apartemen aja ya? Nanti papi belikan, yang nggak jauh dari kampus," ucap Martin. Sebagai orang tua, dia tetap tidak tega melihat tempat tinggal anaknya. Meski tempat kost nya terlihat nyaman, tapi Martin tetap ingin memberi yang terbaik untuk anaknya.


"Tidak perlu, Pi," jawab Karin.


"Kenapa? Bukankah lebih baik, kamu tinggal di apartemen?"


"Nggak, Pi, mending disini aja. Papi jangan melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan Belinda dan Aleta iri."


Deg!


Sementara di tempat lain. Tepatnya di dalam sebuah apartemen. Setelah melalukan ronde kedua, terlihat Belinda sedang memakai pakaiannya.


"Masa cuma main dua ronde doang sih, Bel? Nggak asyik ah," protes Rio yang sedang berbaring di sofa tanpa menggunakan apa apa di tubuhnya.


"Kan lain kali masih bisa dilanjut, Ri. Kayak nggak ada waktu aja buat ketemu," balas Belinda sembari merapikan rambutnya yang berantakan setelah selesai mengenakan pakaiannya.


"Nggak usah khawatir, sekarang aku makin punya alasan jika ingin keluar. Lagian aku masih butuh bantuan kamu untuk menjebak Iqbal, Ri."


"Terus yang menyelidiki mereka, jadi nggak?"


"Jadi lah, semakin banyak cara, semakin mudah aku dapatin Iqbal."


"Baiklah, Nanti aku hubungi orangnya."


Bersamaan dengan itu. Bel apartemen Rio berdering. Tentu saja, Rio langsung terlonjak panik.


"Ada tamu tuh, Ri."


"Iya aku tahu. Kamu mending sembunyi dulu yah?" pinta Rio langsung bangkit dan segera memakai pakaiannya.


"Kenapa? Kok kamu panik gitu? Pacar kamu?" tanya Belinda heran.


"Bukan. Ini sumber hidupku. Kalau aku ketahuan bawa cewek lain kesini bisa mampus aku. Kamu mending ngumpet dulu deh, Bel, Plis?" terang Iqbal sembari memohon.


"Sembunyi dimana?" ucap Karin dengan wajah bingungnya.


"Ikut aku," ucap Rio sembari beranjak menuju arah dapur. Beruntung di situ ada kamar mandi, Rio meminta Belinda masuk ke dalam sembari bilang agar Belinda mau menunggu sebentar disana.


"Astaga! Aku kayak cewek selingkuhan aja," gerutu Karin sedikit kesal begitu Rio pergi.


Rio langsung membereskan barang barang yang berserakan di sekitar sofa untuk menghilangkan jejak dan menaruhnya di kolong sofa.


"Lama amat sih buka pintunya?" protes seorang wanita begitu Rio membuka apartemen.


"Maaf Tante, tadi aku lagi tidur," balas Rio sambil pura pura menguap dan memasang wajah lesu. Sandra langsung masuk dan duduk di sofa.


"Kok kayak bau wangi parfum disini?"


...@@@@@@...