TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 213


"Aku yakin, tidak ada satu pun laki laki, yang mau menikah denganku, Mal," ucap Selin terdengar sendu. Gadis itu melempar pandangannya ke arah jalan. Jamal yang mendengarnya malah terkekeh pelan.


"Nggak mungkin, Non Selin itu cantik, baik, pengertian, perhatian. Pokoknya Non Selin paket lengkap. mana ada laki laki yang nolak dengan pesona cantiknya, Non Selin," ungkap Jamal. Meski terdengar getir, nyatanya Jamal memang ngomong apa adanya.


Biar bagaimanapun, sebagai laki laki normal, Jamal juga suka sama anak majikannya. Apa lagi, Jamal sudah menikmati luar dalamnya wanita itu. Tapi kalau dilihat dari latar belakang. Jamal dan Selin bagai langit dan bumi. Bahkan Jamal saja hanya bekerja pada orang tuanya Selin. Mana berani Jamal berharap lebih.


"Tapi aku hanya anak haram, Mal."


Deg!


Mata Jamal agak melotot, dia langsung menoleh sekilas ke arah Selin terus kembali fokus menghadap ke arah jalan.


"Maksud Non Selin?" tanya Jamal.


"Kamu tadi dengar kan? Kalau Mama Sandra bukan Mama kandung aku? Aku hanya anak dari hasil selingkuhan Papa dengan wanita lain," ucap Selin mencoba tegar. Padahal hatinya sangat bergemuruh. Dia hanya ingin mencoba mengurangi beban yang menyesakkan jiwanya.


Jamal yang mendengarnya juga sangat terkejut. Hidup anak majikannya benar benar berbanding terbalik dengan kemewahan yang Selin nikmati.


"Apa aku boleh tahu, cerita selengkapnya?" Jamal bertanya dengan rasa ragu. " Tapi kalau Non Selin nggak mau cerita, ya nggak apa apa, Non."


Selin menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Matanya lurus menatap jalanan depan. Kepalanya miring bersender pada kaca mobil.


"Waktu aku baru lahir ..." Selin menceritakan semuanya. Dia ceritanya intinya saja yang dia tahu. Tapi hal itu cukup membuat dadanya kembali sesak. Apa lagi saat menceritakan kisahnya bersama Sandra.


"Dulu mama Sandra itu sangat baik. Bahkan dia sangat tulus menyayangiku. Tapi saat Papa kembali berbuat salah, dari situlah Mama sandra mulai berubah. Aku sering ditinggalkan, di abaikan. Meski Mama Sandra tidak pernah marah marah, tapi aku merasa, kasih sayang yang dia berikan untukku, perlahan menghilang.Aku tahu Mama Sandra pasti sakit banget dengan pengkhianatan Papa, sampai dia nekat berbuat sejauh itu. Aku tidak sepenuhnya nyalahin Mama Sandra. Mungkin dia hanya ingin melampiaskan sakit hatinya dengan cara merebut Rio dan kamu."


Jamal terdiam. Untuk saat ini, dia tidak bisa memberi komentar apa apa. Jamal hanya mampu mangulurkan tangannya dan menggenggam tangan Selin serta mencium punggung tangannya dalam dalam.


"Sekarang aku tidak berharap banyak, Mal. Entah aku bisa menikah atau tidak."


"Jangan pesimis seperti itu dong, Non? Pasti ada, bahkan banyak yang mau sama Non Selin."


"Hahaha ..." Selin tertawa sumbang. "Sekarang aku tanya sama kamu? Seandainya kamu mau sama aku, apa orang tua kamu juga mau menerimaku saat mereka tahu aku hanya anak yang dilahirkan dari perselingkuhan?"


Deg!


Jamal terkesiap. Apa yang Selin tanyakan, tidak mampu Jamal Jawab.


"Kamu nggak bisa jawab, kan, Mal? Aku tahu, aku tidak akan mudah di terima."


"Sudah. Non Selin jangan terlalu mikirin seuatu yang belum terjadi. Oke? Kalau memang kita ada jodoh, pasti akan ada jalan yang membuat kita bersatu. Jadi tolong, Non Selin jangan berpikir terlalu jauh. Kita tidak tahu, takdir kita kedepannya akan gimana," ucap Jamal sedikit tegas. Selin sontak terdiam dengan memalingkan wajahnya.


Obrolan berakhir saat mobil telah sampai di tempat tujuan. Begitu mobil terparkir, Selin langsung turun tanpa cium pipi Jamal, seperti yang sering dia lakukan beberapa hari ini. Jamal hanya bisa terdiam dengan pandangan terus ke arah Selin hingga dia masuk ke dalam rumah.


Dengan langkah gontai, Jamal memasuki kamarnya. Hari ini dia sungguh sangat lelah dari hari biasanya. Jamal langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Ucapan Selin tentu saja menjadi pikiran utamanya. Jamal juga tidak ingin berpisah dari wanita itu. Bahkan Jamal juga berharap dia dan Selin berjodoh. Tapi dia juga takut, hubungan mereka tidak ada restu orang tua. Selain perbedaan mencolok antara si kaya dan si miskin, masa lalu Selin juga bisa menjadi kendala hubungannya.


"Kenapa harus serumit ini, Tuhan!" jerit Jamal dalam hati.


...@@@@@@...