TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 58 (Iqbal)


Berada dalam satu kamar dengan wanita cantik dengan pakaian yang sangat minim, mungkin memang sering dibayangkan oleh kebanyakan laki laki pada umumnya. Begitu juga dengan seorang Iqbal. Dia juga sering membayangkan kejadian seperti itu. Tapi iqbal tidak pernah menyangka kalau apa yang dia bayangkan akan terwujud detik ini juga.


Ya. Detik ini, Iqbal sedang dalam satu kamar dengan wanita cantik dan juga minim. Setelah beberapa saat tadi si wanita tiba tiba datang dan memaksa masuk. Entah apa yang akan dilakukan anak kedua dari majikannya ini. Bisa bisanya dia dengan santainya masuk ke kamar laki laki. Dan kamar itu adalah kamar pembantunya.


"Non Aleta? Ngapain kesini?" tanya Iqbal. Agar tidak terjadi fitnah, Iqbal pun membuka pintu lebar lebar. Tapi Aleta malah mendelik dan mendorong pintu menutupnya.


"Jangan keras keras ngomongnya, nanti ada yang dengar, bagaimana?" hardik Aleta sedikit berbisik. Iqbal hanya mengeryit dahinya pertanda kalau dia masih terkejut.


Setelah Aleta menutup pintu, dia menyodorkan botol. "Kaki aku sakit, tolong pijitin, yah?"


Iqbal menerima botol itu dengan bingung. Pijat? Di dalam kamar? Yang benar saja? Dada Iqbal tiba tiba bergemuruh dengan pikiran yang sudah berkelana kemana mana. Bagaimana bisa dia akan memijit kaki mulus milik anak majikannya? Iqbal benar benar dibuat jungkir balik pikirannya.


Sementara Aleta, setelah menyerahkan botol, dia langsung berbaring di atas kasur Iqbal. Posisinya tengkurap dengan memakai rok yang tidak terlalu ketat, bahkan bergelombang membuat paha bagian belakang Aleta terlihat begitu halus.


"Pijat, di ruang tengah aja yuk, Non?" ajak Iqbal disela sela pikirannya yang kacau. Memandang tubuh Aleta, sungguh membuat jiwa laki lakinya meronta. Tapi Iqbal masih sadar, dia anak majikan.


"Nggak mau, sini aja. Udah lakukan Iqbal, cepat!" ucap Aleta sedikit membentak namun dengan suara yang terbilang lirih. Dia takut, Mbak Inah yang ada di kamar sebelah mendengarnya.


Iqbal pun tidak bisa menolak. Dia hanya supir dan majikan lebih berkuasa, begitu juga anak anak majikan. Iqbal pun duduk di tepi kasur membuka botol berisi minyak berbau wangi dan menuangkannya beberapa tetes ketelapak tangan kirinya.


"Mana kaki yang sakit, Non?" tanya Iqbal. Aleta bukannya menjawab, dia diam dan menunjukkan paha bagian belakang dengan tangannya.


Sejenak Iqbal menggelengkan kepalanya. Dengan dada yang berdegup kencang, Iqbal mulai meletakkan tangannya di paha mulus wanita yang tengkurap di kasurnya. Iqbal yang pada dasarnya tidak pandai memijat, akhirnya hanya melakukan gerakan asal. Cuma naik turun dan sedikit menekan layaknya memijat kaki sendiri.


"Tinggal bagian depan, Bal." ucap Aleta beberapa saat kemudian setelah kaki bagian belakang dipijat lumayan lama.


Tanpa menunggu persetujuan Iqbal, Aleta langsung berbalik badan menjadi telentang. Mata Iqbal seketika terbelalak. Bukan karena Aleta yang sekarang telentang tapi apa yang dilihat Iqbal membuat benda tersembunyi miliknya langsung menegang.


Entah sadar atau tidak, rok yang dipakai Aleta sedikit tersingkap keatas dan memperlihatkan sesuatu yang indah dan tanpa dibungkus segitiga bermuda. Sungguh pemandangan yang menguji iman di dada.


Tangan Iqbal bergerak naik turun memijat paha Aleta dengan mata Iqbal mencuri pandang ke arah gundukan yang indah milik wanita itu. Sedangkan Aleta, matanya terpejam menikmati pijatan lembut dari tangan kekar sang supir.


Deru jantung Iqbal semakin tak karuan saat Aleta memberi perintah pijatannya agar ke atas sedikit lagi. Bagaimana bisa Aleta dengan mudah memerintahkan hal itu, bisa bisa tangan Iqbal menyentuh gundukan yang membuatnya tak tenang. Tapi mau bagaimana lagi, Iqbal tak mampu menolak. Iqbal langsung melaksanakannya.


Setiap telapak tangan Iqbal keatas selalu hampir saja jari jarinya menyentuh gundukan indah itu. Jiwa laki laki Iqbal semakin bergejolak. Sesuatu yang tersembunyi di dalam celananya semakin menegang dan meronta serta berdenyut hebat seperti ingin mengeluarkan sesuatu. Karena semakin besarnya tekanan yang sangat menggoda, Iqbal langsung menghentikan pijatannya.


"Non, sudah dulu yah? Perutku mules banget aku mau ke toilet," ucap Iqbal beralasan. Tanpa menungu persetujuan, Iqbal langsung saja lari ke toliet dan bermain solo di sana.


Sementara di dalam kamar, Aleta bangkit dan tertawa kecil. "Kamu polos banget sih, Bal. Aku jadi semakin tertantang untuk mendapatkanmu."


Setelah bergumam, Aleta beranjak dan pergi meninggalkan kamar Iqbal dengan hati senang.


...@@@@@...