TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 104 (Iqbal)


Suasana di dalam sebuah apartemen nampak begitu hening. Meski di dalamnya ada dua manusia, tapi dua anak manusia itu hanya saling diam dalam pelukan. Keduanya saling menyalurkan ketenangan dan kenyamanan setelah sedikit berselisih. Entah apa arti hubungan supir dan anak majikan itu, tapi yang pasti keduanya menikmati setiap perlakuan lembut diantara mereka.


"Jangan abaikan aku lagi," Rengek Karin. Nadanya terdengar sangat sedih. "Aku sudah kehilangan rasa nyaman di keluargaku, dan kamu semalam malah ikutan mengabaikanku."


"Iya, maaf ,ya?" balas Iqbal lembut. Rambut Karin dia belai pelan. Karin semakin menenggelamkan kepalanya di dada Iqbal.


"Semalam padahal aku mau ngasih yang kamu minta, tapi kamu malah nyebelin," rutuk Karin sambil terus mengusap gundukan di bawah perut Iqbal. Iqbal mengernyitkan keningnya dan mencerna ucapan Karin.


"Ngasih yang aku minta?" tanya Iqbal sembari memikirkan apa yang dia minta dari Karin dan seperrinya dia memang lupa.


"Lupa? Ya udah," balas Karin, dan tangannya menghentikan gerakan mengusapnya.


"Ah iya, aku ingat," seru Iqbal dengan wajah bersinar. "Minta sekarang boleh nggak?"


"Nggak boleh, nggak ada kesempatan lagi," tolak Karin.


Karin hanya mengulas senyum kemudian dia melepas pelukannya dan beranjak meninggalkan Iqbal menuju ke dalam kamar. Tanpa di ajak, Iqbal langsung saja berdiri mengikuti Karin hingga ke kamar.


"Iqbal!" pekik Karin saat melihat sang supir masuk ke dalam kamarnya. "Ngapain kamu kesini? Sana keluar dulu, aku mau ganti baju."


"Non Karin selalu begitu, nggak tanggung jawab. Udah mengusap punyaku sampai berdiri dan tegang malah main kabur gitu aja," gerutu Iqbal sambil berjalan mendekat ke arah Karin. "Tanggung jawab ini dilemesin."


"Astaga! Masa di elus-elus bentar doang bisa tegang?" tanya Karin tak percaya.


"Nggak percaya ya buka saja ini celanaku," balas Iqbal. Karin menatap wajah serius Iqbal. Antara percaya dan tidak percaya, Karin meraih ikat pinggang Iqbal dan melepaskannya, di susul resleting Iqbal dibukanya.


Saat celana sudah dibuka, tangan Karin masuk ke dalam boxer dan betapa kagetnya dia karena apa yang dikatakan Iqbal benar.


"Bener kan udah tegang?" ketus Iqbal tapi Karin malah cengengesan. "Tanggung jawab itu dilemesin?"


"Iya, iya, bawel," sungut Karin gemas.


Setelah puas perang bibir, Karin menurunkan badannya hingga wajahnya tepat berada di depan boxer Iqbal yang sedang berdiri. Diturunkannya celana dan boxer itu hingga selutut dan digenggamnya senjata Iqbal yang sudah menegang. Karin mendongak menatap Iqbal dan mereka saling tersenyum. Tanpa memutus tatapan matanya, Karin mulau mencium dan menijilati milik Iqbal.


"Enak banget, Non," racau Iqbal. Gerakan kepala Karin makin gencar maju mundur di sambil bertekuk lutut di hadapan Iqbal. Jilatannya juga makin liar.


"Non, pindah yuk di ranjang," usul Iqbal dan Karin menyetujuinya.


Iqbal tetentang di atas ranjang. Agar gerakannya makin mudah, Iqbal melepas semua celananya. Iqbal pun melepas kaosnya hingga membuat mata Karin terpana dengan dada bidang dan perut rata penuh rori sobek milik Iqbal.


"tubuh kamu bagus banget, Bal. Pantes, Belinda dan Aleta pengin banget main sama kamu," ungkap Karin penuh rasa kagum.


"Tapi aku penginnya main sama kamu dulu, Non, meski entah kapan," cicit Iqbal hingga nembuat Karin tertawa lirih.


Sebelum melanjutkan acanya makan milik Iqbal, Karin dan Iqbal melakukan perang bibir terlebih dahulu. Perang bibir itu semakin panas. Diluar dugaan, Karin melepas perang bibirnya dan mengendus serta mecium bagian tubuh Iqbal yang lain, dari leher hingga ke bawah perut dan kembali mulut Karin bermain dengan rudal Iqbal.


Lagi-lagi mata Iqbal tak lepas dari kegiatan Karin di bawah perutnya. Dengan diiringi racauan kenikmatan, tak terasa Iqbal ingin mengeluarkan air nikmat yang sudah tak bisa dia tahan lagi hingga akhirnya menyemburlah air putih nan kental membasahi bibir tangan Karin.


"Lega," ucap Iqbal tanpa dosa sedangkan Karin hanya mendengus karena Iqbal tidak bilang pada saat air itu akan keluar. Karin bergegas ke kamar mandi buat berkumur. Iqbal terkekeh melihatnya.


Namun beberapa menit setelah itu, mata Iqbal membelalak saat melihat Karin keluar kamar mandi.


"Non Karin!" pekik Iqbal tapi dia tak melanjutkan kata katanya. Dia terlanjur terpana dengan apa yang dia lihat. Apalagi Karin kembali naik ke ranjang dan berdiri dengan lututnya diantara kepala Iqbal tanpa memakai celana apapun.


"Nih, katanya pengin makan punyaku?" tawar Karin dan Iqbal masih menatap tak percaya.


...@@@@@...


Jika ada yang bertanya, kok kisahnya gini amat? Aku jelaskan ya? Di sinopsis ada kata "sempat mencicipi nikmatnya dosa" nah dari sana sudah jelas kalau di sini para pemuda tidak ada yang sah dulu. Namanya juga terjebak dalam kisah yang tak biasa. Lagian kalau udah mencium bau pernikahan, karyaku tuh biasanya akan segera tamat dan disini perjalanan ketiganya masih jauh. Ini baru kisah sendiri sendiri, belum lagi kalau ketiganya sudah berkumpul, kisahnya makin unik. Jadi othor minta para reader tetap bersabar dan terus setia mengiikuti dan mendukung tiga pemuda yang awalnya lugu menjadi suhu. Terimak kasih.