
"Jangan bergerak atau pisau ini akan tembus ke perutmu."
Jamal terperangah. Dia menoleh ke sisi mobil yang lain dan matanya melihat Selin sedang di bekap mulutnya.
"Non Selin!" pekik Jamal dengan wajah berubah panik.
"Diam!" bentak seorang pria yang berdiri di belakangnya.
Jamal terkesiap. Matanya terus memandang Selin yang sedang ketakutan. Tubuh Selin ditarik paksa supaya mengikuti langkah yang membekapnya. Sedangkan Jamal perlahan memutar badannya dengan pandangan terbagi dua, antara memandang Selin dan pria yang saat ini menodongkan pisau ke arah.
"Siapa kalian? Hah!" teriak Jamal lantang.
"Diam!Atau pisau ini tembus ke perutmu!" ancam pria berkepala plontos.
Jamal harus bisa menenangkan dirinya. Dia tidak boleh panik. Mata Jamal mengedar ke area parkir dan sialnya, tempat itu sepi. Sedangkan Selin masih berusaha membelot, tapi tenaganya kalah telak dengan pria yang menjerat pinggang Selin dengan tangannya.
"Cepat! Seret cewek itu ke dalam mobil!" titah pria sambil terus mengarahkan belatinya ke arah Jamal.
Jamal terus berpikir mencari cara untuk menghadapi mereka. Jamal melihat kalau yang membekap Selin tidak memegang pisau atau benda berbahaya lainnya. Jamal sepertinya mendapat ide.
"Satpam tolong!" teriak Jamal. Kedua orang itu sontak menoleh ke arah pandang yang sama dengan Jamal. Senyum licik tersungging di bibir Jamal. Saat mereka menoleh.
"Haaaat!"
"Akh!" teriak si kepala plontos saat tangan yang memegang pisau kena tendangan Jamal hingga pisau itu terjatuh. "Kurang aj ..."
Dak!
"Akh!" teriak si kepala plontos saat hendak memberi bogem mentah, justru paha sebelah kiri kena telapak sepatu Jamal dengan keras.
"Sial! Kau ..."
Dak!
"Akh!"
Brug!
Pria berkepala plontos tersungkur ke belakang saat telapak sepatu Jamal berhasil mendorong dadanya dengan keras.
"Berhenti!" teriak si rambut agak grondrong. "Berhenti, atau cewek ini aku habisi!" ancamnya.
Jamal pun terdiam, dia terus bersikap waspada sambil terus mencoba mendekat ke arah pria yang membekap Selin.
Sedangkan si kepala plontos berusaha bangkit dengan menahan rasa sakit di dada dan pahanya. Amarahnya membuncah. Matanya tajam menatap Jamal.
"Akh!" si plontos memegangi hidungnya yang berbenturan dengan lantai parkir yang kasar.
"Berhenti! Sialan!" bentak si rambut grondrong makin keras. Wajahnya terlihat panik melihat si plontos sukses tersungkur oleh pemuda yang mereka remehkan. Si gondrong bingung hendak berbuat apa. Terus membekap Selin atau menolong si plontos yang sedang dibuat mainan oleh Jamal.
Jamal menatap tajam kepada si gondrong. Jamal juga melirik si plontos yang hendak bangkit lagi tapi gagal karena dengan sangat keras, Jamal menendang tubuh yang belum sepenuhnya berdiri hingga tubuh itu kembali terhuyung membentur mobil orang lain yang terparkir dan kembali terjatuh ke lantai.
"Berhenti!" teriak si gondrong semakin keras hingga kedua tangannya melonggar. Hal itu tidak Selin sia siakan. Selin berinisatif menginjak kaki si gondrong dengan keras.
"Akh!" teriak si gondrong hingga Selin terlepas dari jeratan tangannya. Dia hendak meraih Selin kembali, tapi sayang gerakannya terbaca oleh Jamal. Pemuda langsung berlari dan menerjang bahu si gondrong hingga dia terpental ke samping.
Brug!
Selin langsung menyongsong tubuh Jamal dan memeluknya sangat erat.
"Jamal, aku takut," rintih Selin dan tangisnya langsung pecah.
"Jangan takut, kita aman, sekarang Non Selin masuk ke dalam cari bantuan ya?" ucap Jamal sambil terus mengawasi dua orang penjahat itu.
"Tapi aku takut," rengek Selin.
"Jangan takut, kita harus mengamankan mereka sebelum mereka kabur, cepat! Cari bantuan ke dalam,"
Disaat Selin dan Jamal sedang berbicara, si gondrong bangkit. Dia melayangkan bogem ke arah Jamal. Untung Jamal selalu waspada. Dengan cepat dia melepas pelukan Selin dan menerjang gomen itu dengan tendangan. Si gondrong tak terima, dia hendak menyerang lagi tapi kembali Jamal berhasil menyerangnya.
Dak!
Kali ini dada dia yang menjadi sasaran hingga dia terdorong dan membentur mobil lain. Bersamaan dengan itu, ada lima orang keluar dari gedung Mall.
"Tolong!" teriak Selin. "Mas tolong kami, mas!"
Kelima orang itu terkejut dan langsung mendekat.
"Ada apa, Mbak?"
"Tolong panggilan keamanan. dua orang ini mau menculik saya."
"Baik, Mbak."
Salah satu dari kelima orang itu lari masuk ke dalam kembali, sedangkan yang lainnya, membantu Jamal mengamankan dua orang tersebut.
...@@@@...