TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 204


Selin masih memeluk Jamal dengan sisa rasa takut yang masih menghinggap. Meski dua pria yang menyerangnya kini telah diamankan di pos sekuriti beserta belati sebagai barang bukti. Nyatanya, kejadian yang baru saja Selin alami cukup mengguncang jiwanya. Ini adalah pertama kalinya Selin mengalami peristiwa mengerikan seperti ini.


Jamal terus mencoba menenangkan anak majikannya. Saat ini hanya itu yang bisa Jamal lakukan. Entah siapa mereka dan apa motifnya, Jamal belum tahu banyak karena saat ini mereka berada di ruang terpisah tapi masih dalam satu tempat. Mereka berada di pantri. Sedangkan ruang keamaanan ada disebelahnya.


Gustavo juga sudah dihubungi. Betapa terkejutnya dia saat mendengar kabar ada yang menyerang anaknya. Gustavo merasa selama menjalankan bisnis, dia tidak pernah memiliki musuh. Bahkan sejak Karin kecil, Gustavo belum pernah mendengar ada rekan bisnis yang membencinya. Hal itu dikarenakan, Gustavo memang selalu bersikap baik, bijak dan tegas dalam menghadapi rekan bisnis.


Kemungkinan besar yang terlintas pada pikiran Gustavo adalah, Selin di serang oleh salah satu wanita yang pernah dia sakiti. Gustavo sadar, dia yang suka celup sana celup sini pasti pernah menyakiti wanita lain. Wanita mana yang sanggup menolak pesona Gustavo. Meski dia sudah tidak muda lagi, tapi pesonanya masih sanggup meluluh lantakan hati wanita.


Jawaban dari semua dugaan yang tumbuh dalam hatinya, akan Gustavo temukan dalam beberapa meter lagi. Saat ini Gustavo sedang dalam perjalanan bersama supirnya guna mendatangi tempat kejadian Selin dibekap.


Sementara itu, Jamal sedang membujuk Selin untuk menyaksikan jalannya interogasi. Dengan segala kelembutan kata kata, akhirnya Selin mau mengikuti jalannya interogasi. Dan beberapa saat kemudian mereka berpindah ruangan, dimana dua pria sebagai tersangka terduduk dilantai dengan kaki dan tangan terikat.


"Maaf, Pak. Boleh saya merekam saat mereka di interogasi? Kali saja suatu saat nanti bisa buat bukti," pinta Jamal, tak lama setelah dia datang. Sedangkan Selin masih diam tanpa mau melepas Jamal sama sekali.


"Oh, silahkan," jawab sekuriti. Kemudian sekuriti itu bersama rekannya langsung menginterogasi dua pria yang sedang terduduk pasrah.


Satu persatu mereka dikasih pertanyaan. Awalnya mereka sama sekali tidak mau memberi tahu tentang siapa yang menyuruh mereka. Tapi saat mereka diancam kasusnya akan dilimpahkan ke polisi, betapa terkejutnya Jamal dan Selin mendengar pengakuan dari dua orang tersebut.


"Namanya Sandra."


Betapa kagetnya sepasang anak manusia itu. Terutama Jamal. Dia terlihat sangat syok. Apa lagi saat dua orang itu mengungkapkan kalau Sandra ingin Jamal minta maaf dan bertekuk lutut serta mau menuruti kemauan wanita itu. Maka itu Sandra melakukan drama penculikan Selin agar Jamal mau minta maaf dan memasrahkan tubuhnya untuk Sandra.


Pagi tadi setelah berdebat dengan Jamal, Sandra memang memanggil dua orang itu untuk memberi tugas yaitu menculik Selin. Mereka bertemu disebuah caffe sekitar kampus dan merencanakan semuanya. Mereka memantau gerak gerik Jamal hingga Jamal dan Selin keluar dari kampus dan mereka mengkutinya.


Jamal tidak menyangka Sandra akan berbuat sejauh ini demi mendapatkannya. Bahkan Sandra ingin menculik dan mencelakai Selin demi obsesinya agar bisa merasakan isi celana Jamal.


"Kalau boleh tahu, siapa Sandra, Mas? Mbak? Apa kalian mengenal nama itu?" tanya sekuriti.


Jamal bingung menjawabnya. Ingin menjawab dia adalah ibu kandung wanita yang sedang memeluknya tapi talut wanita itu malu.


"Iya, saya mengenalnya, Pak," jawab Jamal pelan tapi jelas.


"Dia adalah ibu ..."


"Bukan!" ucap Selin lantang hingga ucapan Jamal terpotong dan dia tentu saja kaget dengan sanggahan Selin.


"Non,"


"Dia bukan ibu saya, Jamal! Dia bukan ibu saya!" seru Selin dengan mata yang berkaca kaca.


Semua yang ada disana sontak heran termasuk Jamal. Bagaimana Selin bisa bicara seperti itu dengan lantang? Apa Selin sangat frustasi sampai dia tidak mengakui Sandra sebagai ibunya? Benak Jamal bertanya tanya. Diraihnya kembali kepala Selin dan dibenamkan ke dadanya.


"Dia bukan ibu aku, Jamal. Dia bukan ibu aku," rintih Selin dengan tangis yang sudah pecah.


"Selin!" sebuah suara membuat semua yang ada disana kaget dan menoleh.


"Papah," ucap Selin.


Ya, Gustavo datang dengan wajah panik. Selin langsung melepas pelukannya dari Jamal dan berpindah ke dalam pelukan ayahnya.


"Kamu nggak apa apa, Sayang?" tanya Gustavo sembari memeluk anaknya.


"Mamah sandra, Pah. Mamah Sandra jahat."


"Sandra? Kenapa dengan mama Sandra, nak?"


"Dia jahat, Pa. Dia akan menculik Selin dan merebut Jamal."


"Apa!"


...@@@@@@@...