TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 106 (Jamal)


Jamal dan Selin yang sedang menikmati mandi bersama seketika dibuat kalang kabut saat mendengar bel apartemen berbunyi. Mereka mendadak panik karena yang tahu apartemen ini hanya Selin dan Gustavo.


Setelah mengadakan musyawarah untuk mufakat secara kilat, akhirnya mereka memutuskan Jamal yang membuka pintu. Jamal segera bangkit dari acara berendamnya dan bergegas memakai pakaiannya yang berserakan di kamar Selin.


"Tuan Gustavo?" ucap Jamal begitu pintu apartemen dibuka dan dugaan mereka benar, yang datang papahnya Karin. "Maaf, Tuan tadi aku lagi mandi."


"Nggak apa-apa, Mal. Mana Selin?" tanya Gustavo sembari melangkah masuk.


"Dikamar, Tuan. Mungkin pintunya di kunci," balas Jamal dan Gustavo langsung saja menuju kamar yang digunakan Selin.


Benar saja, kamar itu terkunci dari dalam. Gustavo mengetuk dan memohon beberapa kali tetap pintu itu tak terbuka. Selin memilih diam di dalam kamar. Bukan karena dia takut telah tidur dan melepaskan mahkotanya bersama Jamal, tapi dia masih kecewa dengan kenyataan akibat ulah Gustavo.


Kecewa dan sakit hati, tentu saja sangat Selin rasakan. Selin tak menyangka, papah bisa setega itu kepada Sandra. Hingga Selin menyadari dan mengambil kesimpulan kalau Sandra selingkuh dengan Rio adalah sebagai wujud balas dendam. Selin mencoba menerima kenyataan itu meski pahit.


"Selin, sayang! Buka pintunya bentar? Papah pengin ngomong," ucap Gustavo untuk kesekian kalinya, tapi tak ada jawaban sama sekali.


"Mungkin, Non Selin lagi tidur, Tuan," ucap Jamal dusta. Dia tahu di dalam Selin sedang tidak tidur tapi Jamal tidak mungkin jujur.


Gustavo pun menyerah. Dia memilih mundur dan melangkah gontai menuju sofa. Wajah pria itu sangat kusut. Mungkin dia lelah. Entah lelah karena perkerjaan atau lelah karena masalah yang sedang dia hadapi. Sedangkan Jamal setia berdiri tak jauh dari keberadaannya.


"Duduk, Mal. Jangan berdiri terus," perintah Gustavo.


"Baik, Tuan," balas Jamal. Dan dia memilih duduk di sofa seberang.


Berkali-kali Gustavo terlihat sangat berat menghembus nafasnya. Matanya sesekali memandang ke arah kamar dimana anaknya berada.


"Apa Selin semalam mabuk berat banget, Mal?" tanya Gustavo menatap supir anaknya.


"Iya,Tuan. Makanya saya kesusahan membawa Non Selin pulang, Tuan," balas Jamal. Kali ini dia berkata jujur.


Gustavo tersenyum getir. Rasa bersalahnya semakin menyayat. Dia tidak menyangka, kini dia jadi penyebab anaknya mabuk berat. Sesuatu yang tidak pernah dia ajarkan, tapi kenyataannya karena rasa kecewa kepada orang tuanya, Selin memilih mabuk sebagai jalan untuk mengurangi beban pikirannya.


"Baik, Tuan. Tapi sepertinya saya harus pulang dulu ambil beberapa baju, Tuan. Dari semalam saya pakai baju ini," balas Jamal menyanggupi.


"Biar nanti saya suruh Mbok Sum nganterin bajumu kesini, kamu jaga Selin saja. Saya takut dia akan kabur kalau nggak diawasi, Mal."


"Baiklah, Tuan. Terima kasih."


Gustavo hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia bangkit dan beranjak menuju ke kamar Selin kembali.


"Sayang, maafin Papa karena ngecewain kamu. Tapi siapapun kamu, kamu tetap anak Papa, Sayang. Jaga diri baik-baik. Papah akan menunggu kamu sampai kamu mau maafin Papa," rintih Gustavo terdengar sangat pilu.


Bahkan di dalam kamar, Selin hanya terdiam dan terisak. Dia juga sangat menyayangi ayahnya, tapi dia masih kecewa dengan kenyataan yang ada. Dia belum siap menatap wajah ayahnya. Dia belum siap dengan kenyataan kalau dia adalah anak seorang selingkuhan. Dia belum siap segalanya.


akhirnya Gustavo memilih pulang. Kesalahannya membuat Gustavo seperti hidup sendirian tanpa sandaran. Sandra memilih pergi karena tak kuat dengan ulahnya dan dia takut anaknya juga akan memiilih pergi dengan kenyataan yang ada.


"Non, buka! Papa Non Selin sudah pulang Buka yah?" pinta Jamal beberapa saat kemudian setelah Gustavo benar-benar pergi.


Tak perlu menunggu lama, pintu kamar pun terbuka. Selin langsung menghambur ke dalam pelukan Jamal dengan isak tangis yang ada.


"Sabar ya, Non? Semua pasti akan baik-baik saja," ucap Jamal sembari mengusap lembut kepala wanita yang ada dalam pelukannya.


"Kamu jangan pulang, aku nggak mau sendirian," rengek Selin manja. Seketika senyum Jamal terkembang tipis.


"Siapa yang mau pulang? Orang aku akan tetap disini," balas Jamal masih dengan membelai lembut rambut Selin.


"Makasih, Jamal," ucap Selin tulus dan dia semakin kencang memeluk Jamal.


"Sama-sama, Non," balas Jamal dan dia juga semakin kencang membalas pelukan Selin. Untuk sesaat mereka terdiam dan hanya pelukan yang mereka lakukan.


...@@@@@...