TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 234 (Jamal)


"Makasih, Mang Samsul."


"Mau dianterin ke terminal nggak?"


"Nggak usah, Mang. Nanti aku pesan ojol aja."


"Ya udah, hati hati, aku mau kembali ke kantor."


"Oh ya. Ini kunci mobil Non Selin, Mang."


Mang Samsul menerima kunci mobil dari Jamal, kemudian dia kembali pergi menuju kantor. Samsul memang diminta Gustavo untuk mengantar Jamal sampai ke terminal, tapi Jamal hanya meminta antar sampe rumah saja.


Jamal memandang nanar rumah majikannya. Rumah yang selama dua bulan ini menjadi tempat dia mengabdi dan berlindung. Rumah yang memberi Jamal pengalaman yang tidak terduga dengan orang orang yang menempatinya. Dan tentu saja, pengalaman manis dengan wanita muda pengisi hatinya.


Pada akhirnya, Jamal harus meninggalkan semua kenangan yang pernah terjadi di rumah ini. Kesalahan yang dia lakukan, memaksa dia berpikir kalau hidup tidak selamanya akan manis.


Dengan dada yang masih terasa sesak, Jamal melangkah pelan dan enggan menuju kamarnya.


"Loh, Mal? Udah pulang?" tanya Mbok Sum yang terlihat kaget dengan kemunculan Jamal di jam siang begini.


"Iya, Mbok," jawab Jamal sambil memaksakan diri untuk tersenyum. Lantas dia bergegas melangkah menuju kamarnya. Mbok Sum yang sedang duduk santai di belakang rumah, sudah pasti merasa heran. wanita tua itu merasakan ada yang beda pada sikap Jamal.


Jamal terduduk di atas kasur. Dia memandang sekeliling suasana kamar tidurnya. Tidak ada yang istimewa, tapi tempat ini juga memberi kenangan tersendiri dalam hidupnya.


Jamal tak ingin berlama lama larut dalam kenangan dan penyesalan. Dia segera membereskan pakaiannya yang bertambah banyak karena dibelikann anak majikannya. Terpaksa sebagian pakaiannya dia masukkan ke kardus yang dia ambil dari dapur. Ponsel dari Selin untuk sang adik pun dia taruh jadi satu bersama ponsel miliknya di dalam satu tas selempang bersama dompet dan yang lainnya.


"Loh, loh, loh, Jamal! Kamu mau kemana?" tanya Mbok Sum beberapa saat kemudian. Dia terkejut saat melihat Jamal menenteng tas dan sebuah kardus.


"Mau pulang kampung, Mbok," jawab Jamal pelan.


"Kenapa mendadak banget, ada masalah?" tanya Mbok Sum penuh selidik


"Nggak ada, Mbok, lagi pengin pulang aja," jawab Jamal dusta. Tidak mungkin Jamal mengatakan yang sebenarnya. Biar bagaimanapun dia harus menjaga nama baik Selin dan dirinya.


"Bener?" Jamal mengangguk. "Tapi kok bawaannya banyak banget? Apa nggak akan balik lagi kesini?"


"Oh ya udah, hati hati, salam aja buat keluarga."


"Baik, Mbok. Nanti aku sampaikan."


Tak lama kemudian, Ojol yang Jamal tunggu datang juga. Jamal kembali pamit pada Mbok Sum dan penjaga rumah. Tak lupa, dia juga nitip salam untuk Non Selin dan Gustavo. Akhirnya Jamal pun berangkat dengan perasaan sedih tak terkira.


Rasa sedih juga sedang dirasakan oleh putri Tuan Gustavo. Air matanya luruh saat dia membaca pesan pamit dari supirnya.


Di atas kursi kebesarannya, Gustavo memandang anaknya dengan kesedihan juga. Dia juga tidak ingin melihat anaknya sedih seperti itu.Apa lagi dirinyalah yang membuat sang anak sesedih itu.


Gustavo sadar betul atas tindakannya. Tapi dia memisahkan Jamal dan Selin bukan ingin memisahkan selamanya. Sudah pasti Gustavo akan menuntut pertanggung jawaban Jamal.


Tapi biarlah kedua anak muda itu terpisah dahulu. Biar bagaimanapun Jamal juga harus tangggung jawab kepada orang tuanya. Orang tua Jamal pasti percaya kalau Jamal bekerja dengan baik. Dan Jamal harus bisa meraih kepercayaan orang tuanya kembali.


Gustavo beranjak dan melangkah mendekati sang anak. Dia duduk disamping sang anak dan mengusap kepalanya.


"Jangan terlalu sedih, kalau Jamal pria yang bertanggung jawab, dia pasti kembali, Sayang."


"Kalau orang tuanya melarang kembali bagaimana, Pa? Apa lagi jika mereka tahu, awal kejadianya bagaimana? Nanti mereka menganggap Selin yang buruk, bagaimana? Selin takut, Pa. Selin hanya anak haram."


"Hust, nggak ada istilahnya anak haram, Sayang. Jangan berpikiran seperti itu."


"Tapi Selin tetep takut, Pa, hiks ... hiks ..." Selin menangis dipelukan ayahnya. Gustavo juga ikut merasakan kesedihan dan ketakutan yang Selin rasakan.


Sementara itu di dalam bus, Jamal hanya terdiam menatap pemandangan tepi jalan. Sesekali matanya juga memandang foto Selin yang di jadikan layar pembuka dan latar menu saat ponsel dinyalakan. Sesekali senyumnya terbesit. Bayangan wajah Selin dan segala tingkah manjanya, membuat bibir Jamal tersungging senyum.


Jamal mnghirup udara dalam dalam dan menghembuskan udara tersebut secara perlahan. Gemuruh di dadanya sedikit menguap saat mata Jamal terus memandang senyum dalam foto Selin.


"Tunggu aku, Non. Aku pasti kembali."


...@@@@@...