
Mendengar pengakuan Iqbal, tentu saja membuat Karin merasa kesal. Bagaimana mungkin kedua kakaknya menyukai Iqbal? Bukankah selera mereka tinggi? Bukan seorang supir? Tapi apa ini? Belinda dan Aleta mengejar Iqbal? Buat apa? Buat dipengaruhi juga?
Sungguh Karin dibuat heran dengan jalan pikiran dan sikap kedua kakaknya. Mereka seperti menyimpan dendam pada sang adik karena sang adik melakukan kesalahan besar, dan dendam itu mereka lampiaskan saat ini.
Padahal dulu, waktu mereka masih berjauhan, hubungan mereka sangat baik. Sering telfonan, bertukar kabar dan sebagainya. Tapi saat mereka hidup bersama, sikap baik mereka hanya beberapa saat saja.
Jujur, sebagai adik, Karin rindu masa masa yang dilalui bersama Belinda dan Aleta. Karin rindu saat mereka piknik bertiga dan mereka menjaga Karin di tempat nenek. Karin rindu kasih sayang yang mereka berikan saat Karin masih kecil. Karin rindu segalanya tentang hal yang sering dia lakukan dengan kedua kakaknya.
"Kita nyari tempat lah, Bal. Aku lagi males pulang," pinta Karin.
"Baik, Non."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Iqbal melirik ke arah samping. Wanita di sebelahnya sedari tadi diam dan sedang irit bicara. Sungguh, Iqbal jadi merasa tak enak hati karena sudah berkata jujur kepada Karin tentang kedua kakaknya. Padahal niat Iqbal memberi tahu, agar Karin tak salah paham. Tapi sekarang, Karin malah mendiamkannya.
Mobil menepi dan berhenti di sebuah taman yang cukup ramai. Dalam pikiran Iqbal hanya ada taman saat Karin meminta nyari tempat buat singgah.
"Mau turun atau di sini saja, Non?" tanya Iqbal kepada wanita yang telah menciumnya tiga kali. Tanpa menjawab, Karin segera membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. Iqbal menghela nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Kemudian dia pun ikut keluar dari mobil dan mengikuti langkah kaki Karin.
"Bang, minta satu porsi, tolong antar sebelah sana ya?" ucap Karin pada kepada pedagang batagor. Begitu juga Karin pesan satu cup es jeruk kepada pedagang di sebelah gerobag batagor.
Iqbal hanya mengulas senyum melihat kelakuan anak majikannya. Dia kembali mengikuti langkah Karin hingga wanita itu duduk di atas rumput.
Taman ini lumayan ramai saat ini. Apalagi cuaca cerah sangat mendukung, membuat taman ini semakin ramai saat waktu semakin bertambah.
Kini, satu piring batagor dan satu cup es jeruk ada dihadapan Iqbal dan Karin. Yang awalnya hanya duduk berhadapan, Karin memilih bergeser ke arah Iqbal hingga kini duduk mereka bersebelahan.
Karin mulai menusuk batagor dengan garpu dan menyantapnya. Setelah memasukkan bagator ke mulutnya. Karin mengambil lagi dan kini dia arahkan sendok ke mulut Iqbal.
Iqbal yang sedari tadi terdiam melihatnya, seketika terperanjat melihat sikap Karin yang hendak menyuapinya.
Iqbal tak sanggup menolak, apa lagi Karin memasang wajah marah. Langsung saja Iqbal membuka mulutnya.
"Apa kamu menyukai Belinda dan Aleta, Bal?" satu pertanyaan lolos dari bibir Karin setelah beberapa menit dia terdiam. Tangannya tetap aktif memasukkan batagor ke mulutnya dan mulut Iqbal. Sungguh Iqbal tidak menyangka, mereka seperti orang pacaran. Tentu saja Iqbal senang diperlakukan seperti ini.
"Suka dalam artian apa dulu, Non?" tanya Iqbal sambil menguyah batagor yang baru saja masuk ke dalam mulut.
"Ya terserah kamu, Bal? Kamu kan laki laki, nggak mungkin kan kamu nggak menyukai mereka?" tanya Karin dengan arah mata yang terbagi antara menatap Iqbal dan batagornya.
"Ya elah Non. Laki lali normal manapun kalau melihat Non Belinda dan Non Aleta pasti mereka suka lah, begitu juga aku," balas Iqbal santai. Dia masih tetap menerima suapan yang Karin berikan.
"Yakin, hanya sebatas itu? Nggak lebih?" tanya Karin memastikan.
"Iya lah, emang harus sebatas apa?" balas Iqbal seraya merekahkan senyum manisnya.
"Ya kali aja kamu sukanya lebih spesial, Bal? Secara, mereka tak hanya cantik tapi juga seksi loh." Iqbal malah tergelak mendengar penuturan Karin barusan.
"Kalau suka yang lebih spesial ya kayaknya nggak mungkin lah, Non. Aku siapa dan mereka siapa,"
Karin pun akhirnya tersenyum sedikit mendengar ucapan supirnya. Dia kembali melanjutkan menikmati batagornya yang tinggal separuh. Tak lupa juga dia menyuapi Iqbal.
Iqbal terus menatap Karin dalam dalam, dia tahu ketakutan anak majikannya yang satu ini. Dia paham kenapa sampai Karin bertanya seperti itu.
"Non Karin tenang saja, aku akan selalu percaya sama Non Karin kok."
Seketika Karin menoleh dan menatap lekat wajah supirnya.
...@@@@@...