
"Jangan ingkari kata hatimu, Mas Tomi, semua yang kelihatan baik baik saja, bisa jadi itu hanya topeng untuk menutupi kebusukan yang terjadi, seperti rumah tangga Mas Tomi yang digunakan sebagai senjata untuk menutupi kekurangan Mas Tomi sendiri."
Seketika, Tomi menatap tajam pemuda yang sedang cengengesan dihadapannya. Padahal selama mereka jalan berdua, Tomi tidak pernah menceritakan masalah keluarganya. Baik kepada Rio maupun ke pria lain selain Didi.
Tidak mungkin Rio tahu segalanya dari Didi, karena Tomi tahu sejak pertemuan terakhirnya, Didi bersama istri dan anaknya sedang pergi keluar pulau.
Terus bagaimana bisa tebakan Rio benar mengenai pernikahannya yang hanya dijadikan topeng. Sungguh Tomi tidak menyangka, menjebak Rio demi kenikmatannya yang salah, malah bisa menjadikan ancaman bagi rahasia keluarga yang selama ini di tutupi.
"Lebih baik kita pulang," ucap Tomi tiba tiba. Tentu saja hal itu menimbulkan tanda tanya dalam benak Rio.
"Pulang? Kok mendadak? Baru jam segini?" tanya Rio mengeluarkan rasa herannya.
"Aku capek, tenang saja, aku akan tetap ngasih uang sama kamu, jangan khawatir," ucap Tomi mencoba bersikap biasa saja. Padahal hatinya gusar bukan main. Semua yang Rio katakan membuat hatinya kalut bukan main. Dugaan dan rasa takut pun muncul dalam benaknya. Bagaimana jika Miranda memang selingkuh dengan Rizal? Bagaimana jika Rizal juga tahu keburukannya ? Bagaimana jika Rio juga berniat membongkar aibnya? Tidak! Tomi tidak ingin semua itu terjadi.
Mendengar kata uang, seketika Rio menyeringai senang. "Baiklah, aku ke toilet dulu, Mas?" pamit Rio kemudian dia beranjak menuju ke toilet terdekat.
Sementara di tempat duduk yang lain, pembicaraan serius pun terjadi diantara tiga pemuda yang berprofesi sebagai supir. Tentu saja mereka membicarakan tentang dua wanita yang tadi menghampiri mereka dan sekarang sudah pergi karena ketiga pemuda tersebut bersikeras menolak foto bersama dengan dua wanita bernama Belinda dan Aleta.
"Gila, gila! Ada yah wanita seperti itu?" ucap Rizal mengungkapkan keheranannya.
"Dan aku nggak bohong, kan? Kalian lihat sendiri sikap mereka gimana saat bersamaku?" tanya Iqbal guna memastikan kalau dia tidak bohong sama sekali.
"Tapi mereka benar benar cantik sih, Bal? Gila! Pahanya mulus benar?" ungkap Jamal yang tadi sempat memegang paha Belinda secara tak sengaja.
"Jangan kan pahanya yang menggiurkan, isi di dalam celananya juga bagus banget. Tembem gitu, mana nggak ada bulunya lagi," tentu saja, Jamal dan Iqbal melongo mendengarnya.
"Kamu udah pernah lihat, Bal?" tanya Rizal antara percaya dan tidak percaya.
"Ya udahlah, orang mereka berdua kalau di rumah nggak pernah pakai underwear. Entah apa alasannya," terang Iqbal dan lagi lagi sukses membuat kedua sahabatnya melongo.
"Sebagai cowok normal, melihat wanita secantik itu dengan lubang yang mulus, biarpun bekas, aku tetep pengin lah. Cuma ya gitu, aku jaga perasaan Karin aja. Meski dia ngijinin aku main sama kakaknya kalau terdesak," terang Iqbal berapi api.
"Tapi kalau mereka nggak ditindak, tetap kasian Karin, Bal. Setidaknya coba kamu rundingkan saran kita sama Karin. Kalau Karin setuju, laksanakan," ucap Rizal.
"Iya, Bal. Daripada nanti kamu duluan yang ketahuan oleh orang tua Karin, yang ada Karin semakin nggak dipercaya dan kamu pastinya dipecat," sambung Jamal.
"Gampang lah, nanti aku coba bicarakan. Mulai sekarang juga aku kalau main mau pake pengaman aja lah, buat jaga jaga. Kasian Karin kalau hamil," ucap Iqbal.
"Ide bagus, aku juga bakalan pake pengaman aja," sambung Rizal.
"Ya udah, nanti kita beli aja sepulang dari sini," ucap Jamal. "Aku mau ke toilet dulu ya, baru kita pulang."
Setelah mendapat jawaban dari dua sahabatnya, Jamal bergegas menuju toilet terdekat. Banyaknya pengunjung di petang hari membuat toilet yang ada lumayan penuh. Jamal pun terpaksa menunggu beberapa saat karena semua toilet pintunya tertutup.
"Eh supir belagu ada disini," Jamal yang sedang bersandar menunggu antrian tiba tiba dikejutkan dengan suara seseorang keluar dari bilik toilet yang ada dibelakangnya.
Jamal hanya menatap sekilas dan dan mengabaikan Rio yang menatap Jamal penuh kebencian.
Melihat ada bilik kosong, sontak saja Jamal melangkah menuju bilik tersebut sembari menghindari pria yang sedang menyeringai. Bukan Jamal takut, tapi malas berhadapan dengan orang seperti Rio.
Tapi gerakan Jamal mendadak berhenti saat Rio berkata, "Bagaimana reaksi Selin jika supir kesayangannya baru saja duduk mesra dengan cewek di tempat wisata?"
Deg!
@@@@@@