TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 216


"Ih, kenapa nggak di balas balas sih." Iqbal.


"Biarin aja lah, mending tidur. supir nyebelin." karin.


Keduanya sama sama meletakkan ponselnya begitu saja di atas kasur masing masing. Yang pria nampak risau, yang wanita nampak kesal. Perdebatan di dalam mobil, cukup membekas di hati dan pikiran mereka


Sangat wajar jika Selin merasa khawatir akaj masa depannya karena masa lalunya. Siapun orangnya, pasti tidak ingin dicap sebagai anak haram. Meski dalam hukum manapun tidak ada yang namanya anak haram, tapi tanggapan masyarakat lebih mengerikan daripada penjelasan hukum.


Seorang pria saja, meski dibilang hatinya lebih kuat dari wanita, jika disinggung terus sebagai anak haram, pasti hatinya akan tetap merasakan sakit. Apalagi Selin, yang hanya seorang wanita.


Sekarang Selin bahkan sadar, kenapa keluarga besar Gustavo dan Sandra, selalu bersikap acuh. Dan kenapa Gustavo tidak pernah mengajak Selin ke rumah keluarganya. Itu semua karena masa lalu Selin.


Dan sekarang, apa mungkin keluarga Jamal akan dengan mudah menerimanya juga? Kalau pun keluarga Jamal bisa menerima, apa mungkin keluarga besarnya mau menerima? Pusing bukan? Dan pastinya menyesakkan bagi yang menjalaninya.


Kebenaran tetap kebenaran. Serapi apapun akan ditutupi, pasti lama lama, akan mencuat juga. Sekarang yang Selin pikirkan adalah bagaimana caranya bilang sama Gustavo tentang kenyataan lainnya yang terjadi antara Selin dan Jamal.


Karena terlalu banyak pikiran, dan juga tubuh yang sangat lelah. Akhirnya mata wanita itu harus menyerah oleh rasa kantuk yang luar biasa.Selin pun terlelap dan malam pun terus merayap.


Hingga waktu kini berganti. Pagi datang bersama mentari yang masih bersembunyi. Sedangkan Jamal sudah berkeringat di pagi ini oleh pekerjaan rutin setiap hari.


"Mal, apa benar? Dalang penyekapan Non Selin itu adalah Nyonya Sandra?" tanya Mbok saat Jamal mendekatiny dan mencomot mendoan yang baru matang.


"Benar, Mbok Sum tahu dari mana?" tanya Jamal sambil menguyah mendoannya.


"Gimana ceritanya, Mal? Katanya mereka, kamu yang lawan seorang diri? Wah! Hebat kamu ya, Mal."


"Siapa dulu, dong, Mbok? Jamal," balas pemuda itu sambil menaik turunkan alisnya.


"Baguslah, Jadi Non Selin kemana mana aman kalau kamu memang pandai bela diri."


Jamal hanya bisa manggut manggut sambil cengengesan. Lalu seperti biasa, dia akan mengambil gelas dan mengisinya dengan gula pasir, teh celup dan air panas. Setelah itu teh manis hangat, dia bawa ke kursi belakang rumah.


Sambil istirahat dan menungu waktu tugas mengantar majikan kesayangan. Jamal akan memilih main game sebelum sarapan dan mandi. Jamal beranjak sejenak menuju kamar, mengambil ponsel dan kembali ke tempat semula. Jamal menyalakan ponselnya. Matanya memicing saat melihat pesan masuk. Dan Matanya berubah melotot saat melihat isi pesan tersebut.


Tak terasa waktu kini beranjak mendekati siang. Dan tugas Jamal adalah mengantar anak majikannya kemana pun dia ingin pergi. Tapi sayang hari ini, Selin sedang dalam mode ngambek. Sedari tadi gadis yang sudah tidak perawan itu diam dan dingin banget sikapnya pada supir yang selalu tersenyum manis padanya.


Berbagai cara Jamal lakukan agar si wanita hilang ngambeknnya. Tapi nyatanya yang ada Jamal malah frustasi sendiri karena usahanya selalu gagal.


Saat berada di lampu merah, entah apa yang Jamal lakukan hingga Selin penasan. Jamal nampak sedang mencari sesuatu.


"Mana ini? Kok nggak ada sih," umpat Jamal sambil celingukan kesana kemari.


"Cari apa sih?" tanya Selin ketus. akhirnya dia membuka suara karena merasa penasaran.


"Aduh! Dimana ya? Kok nggak ada?" gumam Jamal mengacuhkan Selin yang penasaran setengah mati.


"Cari apa sih, Mal? Udah mau lampu hijau itu?" ucap Selin sedikit membentak.


"Nah, ketemu," ucap Jamal sambil menatap Selin.


"Apa?"


"Suara Non Selin, kirain hilang kemana," jawab Jamal sambil cengengesan. Selin pun mendengus dan segera berpaling menyembunyikan wajah merah meronanya karena malu. Ingin dia tersenyum tapi mencoba Selin tahan. Gengsi pada pria yang sedang cengengesan sambil melajukan mobilnya.


Sementara di tempat lain, tepatnya di salah satu unit apartemen mewah. Seorang wanita melangkah malas menuju pintu utama apartemennya.


"Siapa sih? Ganggu orang aja jam segini," gerutu wanita itu. Dengan malas dan kesal dia membuka pintu apartemennya.


Betapa kagetnya wanita itu, saat melihat dua orang berdiri di depan pintu. Wajahnya seketika pias dan perasaanya tidak enak.


"Pak Polisi!" pekik wanita itu terbata.


...@@@@@...