TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 223


Di dalam sebuah kamar, seorang pemuda sedang merapikan pakaiannya ke dalam tas dengan pikiran yang sangat berkecamuk. Ada amarah yang tidak bisa dia lontarkan atas tuduhan yang dia terima dari suami, orang tua, serta mertua majikannya. Dia ingin berteriak, dia ingin menyangkal dan membela diri. Tapi tuduhan dari suami majikannya sungguh membuat pemuda itu terpojok. Bahkan dengan enteng, mereka memecat pemuda itu dan melempar uang di mukanya.


inilah yang Rizal takutkan, tuduhan ingin menikmati harta dan numpang hidup enak sangat melukai dirinya. Mungkin dia memang salah telah melakukan hubungan dengan majikannya, tapi itu bukan karena harta yang dia incar. Dia tulus menyayangi majikannya. Jalan hidup yang majikannya hadapi membuat Rizal mengerti, kekayaan bukan satu satunya sumber kebahagiaan. Masih banyak kebahagian lain yang tidak bisa diukur dengan harta. Seperti hubungan ranjang yang dia dapatkan dari majikannya.


"Jangan pulang dulu, nanti nunggu keputusan Non Miran, Zal," Saran Mbak Sari sambil membawa nampan berisi makanan unruk sarapan Rizal. Nampan itu Sari letakkan dilantai di hadapan Rizal.


"Ya ampun, Mbak. Nggak perlu repot repot," ucap Rizal merasa tak enak karena sudah dibawakan makanan. Dia memang belum sarapan. Karena pagi pagi, Rizal sudah mendapat omelan beserta tuduhan dan pemecatan juga penghinaan.


"Repot apaan, orang cuma sarapan. Udah dimakan, jangan mikirin apa yang baru saja terjadi. Yang bisa memecat kamu cuma Non Miran. Karena dia yang mempekerjakan kamu, bukan orang tuanya."


"Tapi kan, aku udah diusir, Mbak. Masa iya aku tetap disini? Seperti nggak punya malu."


"Apa kamu mau mengecewakan Non Miran? Kamu pergi tanpa pamit ke dia, bagaimana perasaanya coba? Dia sudah kecewa dengan Tuan Tomi, keluarganya, masa kamu akan buat dia kecewa juga?"


Rizal terbungkam, apa yang dikatakan wanita di hadapannya memang benar. Rizal memilih menarik nampan dan menikmati makanan yang ada disana.


"Sekarang Non Miran sedang berjuang sendirian di depan. Coba kamu bayangkan bagaimana perasaannya saat ini?"


"Iya, Mbak, aku ngerti, maaf. Aku sendiri juga bingung harus berbuat apa. Aku ingin membantunya tapi takut dia semakin dipojokan."


"Kamu disini saja. Bagi Non Miran, mungkin akan lebih tenang jika kamu masih disini."


"Baiklah, makasih ya, Mak?" Mbak Sari menangguk. "Eh, Mbak. Emang Mbak Sari tahu hubunganku dengan Non Miran?"


"Hahaha ... Rizal, Rizal. Emangnya aku bodoh," ujar Mbak Sari. "Aku juga tahu, kalau hampir tiap tengah malam, kamu diam diam ke kamar Non Miran."


"Astaga!" wajah Rizal langsung memerah dan tertunduk malu.


Rizal terdiam sambil perlahan menikmati sarapannya. Pikirannya juga mencerna ucapan Sari yang kebanyakan mengandung kebenaran. Rizal pun merasa bersalah karena hampir saja dia pergi tanpa memikirkan nasib Miranda tanpa dia akan bagaimana.


Sementara itu di ruang tamu, perdebatan masih berlangsung dan makin memanas. empat orang tua yang ada disana menatap tajam pria yang sekarang berubah jadi tersangka.


Di awal perdebatan, pria itu sering tersenyum dengan jumawanya. Seakan akan dialah pemenang dari drama rumah tangga yang dia perankan. Dia bahkan menunjukkan sikap mengejek pada sang istri, seolah mengatakan, "Aku yang menang dan kamu menyerah saja."


Tapi, senyum kebanggaan yang dia kembangkan, seketika melayu dan lesu. Rasa percaya dirinya hilang. Keyakinannya yang kuat untuk mempertahankan egonya luluh lantak saat wanita yang menjadi istrinya secara perlahan mulai membuka aibnya.


Pria itu tidak bisa berkutik. Dia terduduk dan tertunduk. Dia terbungkam dan hatinya kalut luar biasa. Dia berada di dalam pilihan yang sulit. Mengaku atau tidak mengaku, hasilnya akan tetap sama, aib dan rumah tangganya yang penuh kepalsuan terbongkar.


"Tom, bilang sama kita, apa yang sebenarnya terjadi? jujur saja sama kita."


Tomi mendongak, memandang semua orang yang ada dihadapannya. kemudian dia kembali menunduk.


"Aku ..."


Semua mata tertuju pada Pria yang sedang menunduk itu. Pria pengecut, yang melemparkan kesalahan kepada orang lain. Miranda menyeringai, dia melihat lembaran uang yang dia tidak tahu kenapa uang itu bertebaran di lantai.


Disaat Tomi masih terbungkam, orang tua Miranda dikejutkan dengan sesuatu yang membuat mereka tercenganga.


"Maafkan kami, besan. Gara gara anak kami, Miranda tidak bahagia."


Deg!


...@@@@@...