TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 172


"Sialan, si Tomi! Jadi dia serius mencurigai aku saat ini?" ucap Miranda dengan dada yang bergemuruh. Kecewa dan rasa marah bergelut jadi satu di dalam dada. Miranda sungguh tidak nyangka kalau Tomi akan bertindak sejauh ini.


Amarah Miranda meluap tak terbendung setelah mengetahui ada motor yang mengikutinya saat berangkat tadi pagi. Awalnya Miranda pikir dugaan Rizal salah, tapi saat gerak geriknya terbaca, baru Miranda langsung tersadar kalau mobil mereka memang ada yang mengikuti.


Beruntung, Rizal langsung punya inisiatif agar orang suruhan Tomi bisa dikelabui dan nyatanya berhasil. Hingga mereka sampai butiq, mereka bersikap biasa saja seperti layaknya supir dengan majikan. Dan mereka juga bersikap seolah olah mereka tidak tahu kalau mereka sedang diawasi.


Tadinya Miranda ingin langsung menghubungi Tomi dan menanyakan semuanya, tapi Rizal mencegahnya. Kata Rizal percuma kalau cuma bertanya tanpa bukti, yang ada Tomi akan mengelak dan menyuruh orang suruhannya agar berhati hati.


"Tapi kita nggak bisa diam kayak gini, Zal? Kita juga harus bertindak, Tomi udah keterlaluan," ungkap Miranda penuh kekesalan. Saat ini dia dan Rizal ada di kantor Miranda.


"Iya saya tahu, Non. Tapi kita nggak boleh gegabah. Apa Non Miran ingin hubungan kita cepat ketahuan?" ucap Rizal yang saat ini duduk di sofa yang ada di ruangan Miranda.


"Kesal aku tuh, Zal. Selama ini padahal dia yang egois, dia yang seenaknya ngatur aku. Masa iya aku nggak boleh mencari kepuasan batin? Yang benar saja," dumel Miranda bersungut sungut. Sepertinya apa yang menjadi beban dalam hatinya selama ini, dia muntahkan saat ini juga.


"Sabar Non miran. Kita pikirkan jalan keluarnya ya? Aku yakin pasti ada jalan," ucap Rizal lembut sembari menggenggam tangan wanita di sisinya yang sedang dalam emosi tinggi. Baru kali ini, Rizal melihat Miranda meluapkan emosi. Mungkin emosi yang sudah lama dia tahan selama memiliki suami yang menganggapnya istri pajangan saja.


"Lagian ya Non, yang aku pikirkan itu gini, kalau kita ketahuan selingkuh, apa yang akan dilakukan Tuan Tomi? Sedangkan dia jelas jelas nggak doyan dengan perempuan," ucap Risal lagi mengeluarkan unek uneknya.


"Iya sih, Zal, aku sendiri juga nggak tahu dia maunya apa kalau seandainya kita ketahuan selingkuh. Mau bilang orang tuaku? Mana berani dia. Mau aku bongkar kedoknya?" ucap Miranda masih dengan kekesalan yang bersarang di dadanya.


"Nah, berarti Miranda juga punya kartu as dia. Jika dia berani macam macam, Non Miran bisa menggunakan kelemahan dia untuk melemahkannya," usul Rizal.


"Benar juga, kenapa aku nggak kepikiran ya, Zal? Awas aja kalau Tomi berani macam macam, aku buka sekalian aib dia," balas Miranda dengan lantanga.


"Sampai tadi aku mengikuti mereka hingga ke butiq, aku sama sekali nggak melihar hal yang mencurigakan, Mas. Mereka bersikap wajar sebagaimana mestinya," terang Candra saat ditanya tentang hasil kerjanya selama beberapa jam mengikuti dan mengamati Miranda Dan Rizal.


"Kamu yakin?" tanya Tomi dengan tatapan penuh damba kepada pria di hadapannya.


"Ya yang aku lihat sih begitu, tapi aku akan berusaha lebih keras lagi kok, Mas. Kalau istri Mas Tomi beneran selingkuh pasti nanti akan ada jejak yang tertinggal," ucap Candra yakin.


Wajar jika Candra seyakin itu. Pasalnya dia sendiri, pekerjaannya menjadi selingkuhan wanita kesepian atau wanita yang kurang puas dengan pelayanan suaminya. Dan dia sendiri sudah sering mendapat masalah karena jejak perselingkuhan yang tak sengaja tertinggal meski sudah serapi mungkin di tutupi.


"Baiklah, aku percaya dengan kamu, Can," ucap Tomi. "Oh iya Candra, apa aku boleh tanya sesuatu?"


"Tanya apa, Mas? Silakan tanya aja," ucap Candra sambil meraih cangkir kopi yang memang disandingkan untuk dia.


"Selain menjadi mata mata, Apa pekerjaan kamu yang lainnya, Can? Kalau dilihat dari penampilannya, kayaknya nggak mungkin pekerjaanmu cuma itu aja?" tanya Tomi agak hati hati. Takut pertanyaannya menyinggung perasaan si lawan bicara.


"Yah, selama ini ya aku kerja nggak nentu, Mas. Asal ada duit aja, aku sikat, Kenapa? Mas Tomi minat memberi aku pekerjaan apa?" Mendengar pertanyaan seperti itu sontak senyun Tomi langsung terkembang dengan manisnya.


"Sepertinya aku bisa bantu," ucap Tomi sambl tersenyum penuh arti.


...@@@@@@...