
Plok! Plok! Plok!
"Aahh ... oughh ..."
Suara benturan dari dua badan yang menyatu, bercampur suara rintihan kenikmatan dari dua mulut menggema dari dalam sebuah kamar. Dengan keringat yang sudah membajiri badan, sang wanita yang berada dipangkuan sang pria bergerak naik turun dengan nafas yang sangat menderu. Sementara si pria, duduk manis dan bersandar. Kedua tangannya memegangi pinggang si wanita, dan mulutnya menyesap pucuk bukit yang bergelayut indah bergerak mengikuti gerakan naik turun sang pemilik tubuh.
Masalah berat yang baru saja mendera, nyatanya tak dapat membendung hasrat yang bergejolak dalam diri mereka. Lama dalam posisi seperti itu membuat si wanita merasakan sesuatu akan segera meledak keluar.
"Sayang, aku mau sampai," racau si wanita. Si pria tak tinggal diam. Dia lantas membantu dengan menggerakan pingganganya maju mundur semakin cepat. Hingga beberapa kali hentakan yang dia lakukan, tubuh si wanita mengejang dan bergetar hebat.
"Akh!" lengkingan panjang tanda pelepasan datang bersama tubuh yang mengejang. Di dalam sana, di dalam lubang nikmat itu, sesuatu yang hangat meleleh pada batang yang masih tertancap.
Miranda ambruk dalam pelukan sang supir. Nafasnya menderu. Kini permainan diambil alih oleh Rizal. Dibaringkannya tubuh wanita itu, dicabut sejenak batang menegangnya, dan dia merebahkan diri di samping Miranda.
Pinggang Miranda dimiringkan sedikit dan satu kakinya diangkat. Benda menegang milik Rizal, dimasukan kembali lewat belakang.
Plok! Plok! Plok!
Kembali suara benturan badan terdengar berpacu dengan suara rintihan kenikmatan. Hingga beberapa menir berjalan, Rizal pun merasakan ada yang ingin segera keluar. Tanpa pikir panjang, Rizal semakin cepat menggerakan pinggangnya, menghentak lembah nikmat Miranda hingga sangat dalam. Dan, setelah beberapa kali hentakan kini tubuh Rizal menegang dan bergetar.
"Akh ... akh ... akh ..."
Air kental dan putih, menyembur di dalam lubang nikmat beberapa kali. Dan permainan pun usai.
Dengan nafas sama sama menderu, Rizal meneluk tubuh Miranda dari belakang. Tak ada kata dari keduanya. Mereka saling diam, sama sama melepas lelah, dan mereka bahagia.
Disaat Miranda sedang merasakan bahagia dengan supir pribadinya, di tempat lain, jusru sang suami sedang merasa panik luar biasa. Dia tidak menyangka, rencana yang sudah tersusun dengan sempurna, malah gagal total. Sudah dipastikan gagalnya rencana Tomi juga akan menjadi jalan kandasnya pernikahannya. Dan yang pasti, keluarga Miranda pasti akan tahu betapa tidak bahagianya anak mereka selama menikah dengan Tomi.
"Apa mungkin Papi masih mau membantuku?" gumamnya. Tomi sungguh terlihat sangat frustasi.
Sementara itu nomer telfon Rio pun tidak aktif. Sekarang Tomi benar benar bingung harus melakukan apa, agar yang dia takutkan tidak akan terjadi. Meski peluangnya sangat tipis, Tomi berharap Miranda mau memaafkan dan tidak menggugat cerai dirinya. Hanya itu harapan Tomi saat ini.
Tomi pulang kerja dengan perasaan yang sangat kacau. Entah apa yang akan dia lakukan saat ini. Permintaan maaf kepada Miranda yang dia kirim lewat pesan chat, tak ada satupun yang Miranda balas. Berkali kali telfon juga tidak mendapat respon.
Setelah mengirim foto orang suruhannya berada di kantor polisi, dan juga peringatan akan mengumpulkan seluruh anggota keluarga, Tomi tidak mendapat respon apapun dari Miranda. Dalam benak, Tomi menganggap kalau Miranda mungkin sedang menenangkan diri.
Ya memang benar, Miranda saat ini sedang menenangkan diri. Tapi menenangkan diri dalam pelukan sang supir. Bagi Miranda saat ini, tidak ada tempat yang lebih menenangkan selain berada dalam pelukan Rizal.
"Kapan kita akan pulang, Non?" tanya Rizal setelah beberapa saat mereka terdiam guna melepas lelah.
"Mungkin besok, Zal. Tapi kita nggak akan pulang ke rumah," jawab Miranda. Kemudian dia telentang menatap Rizal yang berbaring miring dengan tangan menopang kepalanya. Sedangkan tangan satunya, aktif bermain di dada Miranda.
"Terus kita pulang kemana?" tanya Rizal lagi dengan dahi berkerut.
"Kita pulang ke butik aja, aku males ketemu Tomi. Aku baru mau pulang ke rumahya nanti aja, setelah oranng tua kami datang. Aku ingin mengakhiri sandiwara pernikahan kita."
"Oh, baiklah. Semoga semuanya berjalan lancar sesuai dengan apa yang Non Miran inginkan."
"Makasih, Zal. Aku nggak tahu, apa jadinya jika nggak ada kamu bersamaku."
Rizal hanya tersenyum. Tangan Miranda terangkat dan membelai pipi Rizal dengan lembut.
"Zal."
"Hum? Apa?"
"Apa kamu mau, menikah denganku?"
...@@@@@...