
Setelah mengantar Rio pulang ke apartemennya, Tomi memilih langsung meluncur menuju ke rumahnya. Jika bukan karena ucapan Rio, mungkin saat ini, Tomi bisa saja menginap di apartemen Rio dan menghabiskan malam yang panas bersamanya. Tapi ucapan Rio tentang kemungkinan Miranda selingkuh dengan Rizal cukup mengganggu pikirannya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit, sampailah Tomi di kediamannya. Terlihat mobil Miranda belum terparkir berarti Rizal belum pulang. Tomi tahu kalau Rizal hari ini ijin libur dan meminjam mobil Miranda untuk pergi bersama kedua temannya.
Begitu mobil terparkir sempurna, Tomi bergegas turun, dan beranjak menuju ke dalam rumah. Ketika kakinya menginjak di ruang tengah, Tomi melihat Miranda sedang duduk dan ngobrol bersama Sari.
"Kamu sudah pulang, Mir?" tanya Tomi saat sudah dekat dengan Miranda.
"Sudah, kamu tumben pulang cepet?" jawab Miranda sambil melempar pertanyaan untuk pria yang saat ini sedang duduk di kursi seberang.
"Kenapa? Nggak suka?" pertanyaan Tomi tentu saja membuat Miranda mengerutkan keningnya. Sari yang merasa akan ada perdebatan memilih undur diri ke belakang.
"Nggak suka? Pertanyaan macam apa itu? Biasanya juga aku bertanya kayak gini bukan?" cerca Miranda yang merasa aneh dengan sikap suaminya.
"Kamu lagi nungguin Rizal?" tanya Tomi mengalihkan pembicaraan. Tapi tentu saja pertanyaan tersebut semakin membuat Miranda merasa aneh. Bahkan tatapan Tomi yang tajam membuat keanehan itu semakin terasa.
"Enggak lah, kan aku udah ijinin dia libur, lagian dia bilang pulang jam sembilan, terus ngapain ditungguin?" kilah Miranda. Untuk kali ini terpaksa dia berbohong karena keanehan yang dia rasakan.
"Sebaiknya kamu jangan terlalu percaya sama Rizal deh, Mir? Dia tidak selugu yang kamu kira."
Deg!
Miranda tercengang mendengar ucapan Tomi. Apa maksudnya tapi berbicara seperti itu? Apa ini salah satu cara agar Tomi mendapatkan Rizal? Atau ada tujuan lain? Berbagai macam dugaan mendadak muncul dalam benak Miranda.
Terlihat Tomi mengambil ponsel dalam sakunya terus jarinya bergerak beberapa saat kemudian tak lama setelah itu ponsel Miranda bersuara. Wanita itu membuka ponselnya dan betapa terkejutnya dia saat melihat foto yang di kirim Tomi.
"Apa kamu yakin? Cewek yang bergalayut di lengan Rizal hanya sekedar teman?" tanya Tomi mencoba memrpovokasi Miranda.
Tentu saja hati Miranda panas melihat Rizal dalam keadaan tersenyum dengan perempuan bernama Belinda yang bergelayut manja saat memaksa Rizal foto bareng.
"Terus hubunganku dengan foto ini apa?" justru kini gantian Tomi yang tercengang. Miranda terlihat santai saja menanggapi foto yang dia kirim. Tomi berpikir jika Miranda ada hubungan dengan Rizal, pasti wanita itu akan marah. Tapi ini apa? Miranda terlihat santai dan bersikap biasa saja.
Padahal tanpa Tomi sadari, Miranda sedang menahan amarahnya. Dia merasa dibohongi oleh Rizal. Tentu saja dia akan menuntut penjelasan. Miranda menahan amarahnya karena dia merasa aneh dengan sikap Tomi.
"Kalau pun Rizal punya pacar, ya hak dia kan, Tom? Lagian dia juga masih muda," sambung Miranda.
"Marah? Marah buat apa?" balas Miranda seakan acuh.
Tomi pun pasrah. Dia berkesimpulan kalau Rizal dan Miranda memang tidak ada hubungan selain hubungan supir dan majikannya. Tanpa menjawab pertanyaan Miranda, Tomi memilih bangkit meninggalkan Miranda menuju kamarnya.
Bagitu tubuh Tomi menghilang, Miranda kembali menyalakan ponselnya dan mengirim foto tersebut kepada Rizal.
Deg!
Rizal yang sedang fokus mengemudi sontak terkejut saat membuka pesan yang Miranda kirim.
"Ah, sial!" umpat Rizal kesal.
"Kenapa kamu, Zal?" tanya Iqbal yang duduk disebelahnya. Rizal pun menyerahkan ponselnya kepada Iqbal. Sontak Iqbal dan Jamal yang duduk di jok belakang langsung melihat ponsel Rizal.
"Loh, ini kan ..." ungkap Iqbal tanpa melanjutkan kata katanya.
"Jadi Rio serius dengan ancamannya?" ucap Jamal dengan wajah sama kesalnya.
"Bakalan perang nih aku nyampe rumah," ucap Rizal panik.
"Jangan jangan Selin sudah terima foto yang sama lagi?" kini Jamal pun ikutan panik.
Hingga sampai ke tempatnya masing masing, mereka diliputi kepanikan yang luar biasa. Bahkan mereka sempat ragu untuk pulang karena takut mendapat kemarahan dari wanitanya masing masing.
Dengan perasaan was was, Rizal memarkirkan mobilnya begitu sampai di kediamannya. Dia bahkan diam sejenak di dalam mobil sambil memikirkan alasan yang tepat jika ditanya oleh Miranda.
Setelah merasa bisa menguasai hatinya, Rizal pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah lewat samping. Begitu Rizal hendak sampai kamar.
"Sudah puas kencannya?"
Deg!
...@@@@@@...