TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 122 (Iqbal)


"Dan, Non Karin juga saat ini sebenarnya sedang sendirian, Tuan."


"Apa? Sendirian? Kata kamu, dia tinggal di apartemen temannya?" tanya Martin bertubi tubi. Wajah kaget dan khawatirnya jelas sekali terlihat.


Amanda sendiri juga tidak kalah kagetnya mendengar penuturan Iqbal. Rasa khawatirnya semakin bertambah karena selama yang dia tahu, jangankan tinggal sendirian, Karin sama sekali tidak pernah mau jika disuruh menginap di rumah temannya. Tapi kali ini, dia tidak menyangka Karin akan mengambil keputusan tersebut.


"Ya biarkan saja sih, Pih? Kan ini maunya Karin? Biar dia bisa mandiri, nggak bergantung terus sama orang tua," ucap Belinda tiba tiba di tengah suasana yang sedang memanas, perempuan itu malah mengatakan sesuatu yang bisa menyulut emosi orang tuanya.


Martin langsung menatap tajam putri sulungnya itu. Dilihat dari raut wajahnya, Belinda memang sama sekali tidak menunjjukan rasa khawatir sama sekali.


"Kamu ngomong kayak gitu, apa kamu sudah bisa mandiri? Disuruh kerja di kantor aja kamu nggak mau, yang ada minta uang terus buat main," sungut Martin.


Tentu saja Belinda terkesiap mendengar ucapan ayahnya. Walaupun kenyataannya memang benar, tapi tetap dia tidak terima dengan ucapan sang ayah.


"Kok Papih malah ngomong kayak gitu? Bukankah Papih tahu aku nggak suka kerja di kantor? Aku tuh penginnya buka butik, Pih, bukan kerja di kantor," protes Belinda merasa tak terima dengan ucapan ayahnya.


"Terus mana buktinya? Mana bukti kalau kamu memang ingin buka butik? Dua kali loh Papih ngasih modal, tapi dua kali juga butiknya nggak pernah ada, uangnya juga habis entah kemana, setiap ditanya soal ini pasti jawabannya sama, iya kan?" sontak saja Belinda terbungkam dengan ucapan Martin. Kalau sudah ngomongin soal ini, dia memang tidak bisa membantah.


Sementara di sebelahnya Belinda, Aleta hanya senyum senyum mengejek kakaknya. Setidaknya dia lebih baik memilih diam daripada dia juga kena kritik Papihnya, ngeri.


"Ya udah deh, Bal, kalau kamu nggak keberatan, mending kamu temenin Karin, mau? Saat ini yang bisa dekat sama dia cuma kamu," ucap Amanda tiba tiba.


Iqbal awalnya terkejut mendengar ucapan Amanda. Tapi tentu saja dia dengan senang hati mau menemani anak majikannya.


"Loh kok malah Iqbal disuruh nemenin Karin, Mih? Biarin aja lah, dia sendirian? Orang itu kemauan Karin," protes Belinda lagi.


Tentu saja Belinda keberatan. Dia sudah membayangkan malam ini akan tidur dengan Iqbal tanpa gangguan lagi malah gagal dengan ucapan Amanda.


"Tolong, ya, Bal, temenin Karin? Saat ini cuma kamu yang bisa saya andalkan, dan kabarin saya secepatnya kalau ada apa apa," ucap Amanda tanpa mempedulikan protes anak sulungnya.


"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya mau siap siap dulu," jawab Iqbal.


"Maaf, Tuan. Saya belum memiliki rekening bank. Rencananya nanti setelah dapat gaji dari sini baru mau bikin," ucap Iqbal jujur. Lagian dia mana mungkin punya rekening Bank kalau di kampung saja jarang sekali pegang uang.


"Ya udah, kamu siap siap aja dulu, nanti ketika mau berangkat, kamu temui saya dulu," titah Martin.


"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Iqbal. Kemudian dia beranjak menuju kamarnya dengan hati riang dan pikiran yang berkelana kemana mana.


Sementara Karin, sejak Iqbal pergi, dia memilih tidur guna melepas lelah setelah bermain ranjang dengan Iqbal. Dia masih tidak menyangka akhirnya dia menyerah dan memilih menyerahkan mahkotanya kepada Iqbal sebagai bentuk kecewa atas sikap keluarganya.


Selama ini, Karin sudah berusaha menjadi anaknya baik dan penurut. Bahkan saat pacaran pun dia tidak pernah melebihi batas selain ciuman. Tapi saat ini dia mengambil jalan yang mungkin akan membuat orang tuanya akan semakin tak mempercayainya. Tapi bukankah jalan ini juga karena sikap mereka?


Sebagai manusia, Karin juga memiliki sisi egois tersendiri. Dan dia kali ini juga ingin bertindak egois daripada bertahan tapi tidak ada kepercayaan sama sekali.


Karin yang sedang tertidur nyenyak merasa terganggu saat mendengar bel apartemen berbunyi berkali kali.


"Ih, siapa sih yang datang? Gangggu orang tidur aja," gerutu Karin sembari bangkit dan beranjak keluar kamar dengan langkah gontai.


"Iqbal!" pekik Karin begitu pintu apartemen di buka.


"Hai," ucap Iqbal sambil tersenyum manis dan masuk.


"Kok kamu ada disini?" tanya Karin heran.


"Papih kamu yang nyuruh aku nginep disini."


"Apa!"


...@@@@...