
"Let."
"Hum."
"Apa Mami sama Papi masih marah?"
"Nggak tahu, orang dari tadi kita di kamar."
"Karin hebat, Ya. Bisa nantangin Mami kayak gitu? Gila! Aku juga baru tahu, selama ini dia tertekan juga dengan sikap mereka. Aku pikir, hidup dekat dengan orang tua, lebih enak. Aku jadi ngerasa bersalah dengan Karin, Let."
"Sama, Bel, aku juga. Dari semalam aku mikir, kalau Karin bahagia sendirian karena dekat dengan Mamih dan Papih. Tapi nyatanya, dia malah tertekan juga dengan sikap orang tua kita. Aku jadi menyesal, telah membuat dia menderita gara gara fitnahan kita."
"Mungkin kita harus beneran minta maaf sama Karin, Let. Kita telah salah besar. Karena fitnahan kita, dia jadi semakin tertekan dengan sikap Mami dan Papi."
"Oke, aku setuju. Apapun tanggapan Karin nanti seperti apa, aku sih pasrah aja. Kita yang salah dari awal."
"Ya udah yuk ah turun, kita tengok Rio dan Candra yuk."
"Yuk."
Kedua kakak beradik itu segera turun dari ranjangnya dan beranjak keluar kamar. Mereka menuruni anak tangga dan saat mereka tiba di lantai bawah, mereka lihat Mami dan Papinya sedang sarapan.
"Mami sama Papi belum pulang?" tanya Aleta sembari ikut duduk di meja makan. Begitu juga dengan Belinda. Mereka seakan lupa tentang kejadian yang mereka perbuat semalam, sehingga mereka bersikap sangat santai kepada orang tuanya.
"Emang kenapa kalau Mami sama Papi belum pulang? Kalian mau merencanakan hal gila lagi?" tanya Martin dingin.
"Ya ampun Papi, bukan gitu. Orang tanya doang juga."
"Jangan diulangi lagi, kalau kalian berbuat di luar batas lagi, Papi nggak akan diam saja, akan Papi menjebloskan kalian ke dalam penjara."
"Astaga! Iya, Pi, iya, maaf."
"Mami kenapa diam? Mami sakit?" kini Aleta yang bersuara.
Terlihat, Amanda menghela nafasnya dalam dalam. Suasana hatinya sungguh sedang tidak baik. Kejadian semalam, cukup membuat hatinya terguncang hebat. Apa lagi, dengan mata kepala sendiri, Amanda melihat anak yang selama ini selalu patuh dan penurut, menjadi anak yang pemberontak. Amanda tidak menyangka, Karin akan bertindak sejauh itu. Merusak dirinya sendiri dan menyerahkan tubuhnya kepada Iqbal. Ini sungguh kejadian diluar nalar pikiran. Amanda ingin menyangkal dan menganggapnya itu hanya mimpi, tapi nyatanya, itu sungguh terjadi.
"Mami makan, Mi," kembali Aleta bersuara, menyadarkan lamunan Amanda.
"Apa yang akan Papi lakukan pada Iqbal dan Karin?" Amanda bertanya sembari mencoba menyendok makanannya.
"Ya nyuruh Iqbal untuk tanggung jawab lah, Mi. Walaupun anak kita yang salah, tapi Mami lihat, kan? Tanggung jawab Iqbal bagaimama?"
"Terus kalau mereka di pisahkan dan Karin hami, Mami siap seumur hidup dibenci anak sendiri?"
"Tapi masa depan Karin masih panjang, Pi."
"Astaga, Mami! Mami mau Karin menderita? Oke, nanti Papi ngomong sama Iqbal suruh tingggalin Karin. Tapi Mami harus siap, seumur hidup dibenci sama anak anak," Martin seketika berdiri dengan amarah yang dia tahan.
"Mami kenapa sih gitu amat? Mami sebenarnya ingin anaknya menderita apa bahagia sih? Bukannya mendukung keputusan Papi, malah nambah pikiran Papi aja. Sama suami sendiri aja nggak kasian, apa lagi sama anak anak," ucap Belinda merasa kesal dengan sikap Amanda.
"Kita nggak ingin jadi anak durhaka, Mi. Tapi kalau Mami sikapnya kayak gini, anak mana yang bakalan tahan? Mami ingin anak anak bahagia dengan cara Mami, tapi apa Mami nggak mikir perasaan anak anak Mami?" sambung Aleta.
"Udah, Let. Kita tengok Candra dan Rio aja. Yuk," ajak Belinda.
Dan kini Amanda terduduk sendirian di meja makan. Airmatanya luruh. Suami dan anak anaknya memusuhi dirinya. Amanda tergugu.
"Kenapa nggak ada yang mau mengerti perasaanku? Kenapa semua menganggap aku seakan akan ibu yang jahat? Apa aku salah, ingin yang terbaik untuk anak anakku? Kenapa? Hiks ... hiks ..."
Sementara orang yang sedang dibicarakan, saat ini baru sampai di tempat kosnya.
"Maaf, Ya, pak. Mobilnya kelamaan," ucap Iqbal kepada bapak kost sambil menyerahkan kunci mobil.
"Tidak apa apa, Mas Iqbal. Toh, disini juga ada mobil mas Iqbal," balas Bapak kost sambil menyerahkan kunci mobil Iqbal.
"Ya udah, kalau gitu saya ke kamar dulu Pak, sekali lagi maat ya, Pak."
"Monggo, silakan."
Iqbal segera saja beranjak, menyusul Karin yang sudah dulu masuk ke dalam kamar kost.
"Jadi kita hari ini piknik aja?"
"Iya, dong."
"Ya udah, aku mandi dulu."
"Aku ikut."
"Ayo."
...@@@@@...