
"Sebenarnya Jamal lagi kena masalah, Mak, Pak."
"Masalah? Masalah apa?"
Jamal menghirup udara dalam dalam agar hati yang bergemuruh bisa dia tenangkan. Jamal menunduk dengan kedua telapak tangan saling menggenggam erat.
"Jamal telah berhubungan badan dengan anak majikan Jamal, Mak."
"Maksudmu, Mal?" tanya Emak dengan suara sedikit lebih keras. Dengan mata menatap tajam, Emak ingin memastikan apa yang baru saja dia dengar. Bapak juga tak kalah terkejutnya mendengar pengakuan putra pertamanya.
Jamal memberanikan diri menatap kedua orang tuanya. "Maafkan Jamal, Mak, Pak. Jamal hilaf."
Emak langsung terbungkam. Airmatanya seketika luruh. Dadanya bergemuruh. Mulutnya mengucap istighfar beberapa kali. Begitu juga dengan Bapak. Dia sama kecewanya dengan Emak.
"Kenapa bisa sampai kamu hilaf, Mal? Kenapa?" tanya Bapak berusaha menahan amarahnya. Sedangkan Emak tangisnya semakin menjadi.
"Ampuni Jamal, Pak. Jamal salah. Jamal tidak bisa menjaga diri."
"Bagaimana ceritanya?" desak Bapak dengan suara sedikit meninggi. Nampak sekali pria paru baya itu ingin meluapkan emosi pada putra pertamanya.
Mau tidak mau Jamal pun menceriakan kejadian yang membuat dia jadi semakin sering berhubungan badan. Tidak ada yang ditutup tutupi. Jamal benar benar mengungkap semua, hingga dia dipecat. Tangis Emak semakin histeris, sedangkan dada Bapak semakin begemuruh.
"Harusnya kamu bisa mencegahnya Jamal? Kenapa malah keterusan?" cerca Bapak semakin geram setelah mendengar pengakuan anaknya.
"Maaf, Pak," Jamal semakin menunduk.
"Astaga, Jamal! Dimana pikiran kamu? Hah! Apa kamu bangga melakukan itu semua? Apa kamu benar benar lupa kalau agama bahkan melarangnya? Apa kamu tidak memikirkan perasaan orang tuamu, saat kamu berkali kali melukan dosa itu? Dimana otak kamu, JAMAL!" bentak Bapak. Marah dan kecewa melebur jadi satu pada pria itu. Sedangkan Emak, tangisnya semakin menderas. Dia tidak bisa mengatakan hal apapun untuk anaknya. Dia terlalu kecewa dengan kelakuan anak pertamanya.
Jamal hanya bisa tertunduk, airmatanya ikut luruh. Menyesal, sudah pasti. Tapi hanya ini yang bisa Jamal lakukan. Meminta maaf.
"Apa karena kamu hidup di kota, maka kamu bangga melakukannya? Bahkan kamu tidak memikirkan perasaan orang tua kamu. Apa karena kamu sudah hebat, bisa mencari uang sendiri, jadi kamu nggak peduli dengan orang rumah?" maki Bapak semakin menjadi.
"Tidak, Pak. Tidak. Jamal minta maaf."
Emak bangkit. Dia sama sekali tidak memandang anaknya. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju kamar. Ditutupnya pintu kamar. Emak kembali meraung.
"Sekarang kamu sudah puas kan? Melihat Emak malu dan hancur perasaannya?" tuduh Bapak. Lantas dia beranjak pergi keluar rumah entah kemana. Yang pasti mungkin untuk menenangkan diri.Dengan sesenggukan Jamal bangkit menuju kamar Emaknya.
"Mak, Maafin Jamal, Mak. Maafin Jamal, hiks ... hiks ..." ucap Jamal sembari beberapa kali mengetuk pintu, tapi Emak sama sekali tidak merespon. Emak terlalu kecewa dengan apa yang dilakukan sang anak.
Berkali kali Jamal mengetuk pintu kamar sambil meminta maaf. Tapi dia tak mendapat respon apapun dari dalam. Hingga akhirnya Jamal menyerah dan memilih masuk ke dalam kamarnya, guna merenungi kesalahannya.
Jamal berbaring di kamarnya. Pikirannya sungguh kacau. Dia bahkan memikirkan hal buruk yang bisa saja terjadi. Jamal dliputi rasa takut dan rasa bersalah. Saking kacaunya pikiran dan suasana hati, Jamal akhirnya terlelap karena merasa lelah.
Hingga beberapa jam kemudian, Jamal terbangun. Saat matanya terbuka, tangannya meraih ponsel guna melihat waktu. Selain melihat waktu yang ternyata sudah masuk tengah hari, Jamal juga mengecek pesan yang masuk.
Senyum Jamal terkembang saat membaca pesan dari wanita yang katanya hari ini bolos kuliah. Jamal lantas bangkit dan meregangkan badannya, lalu segera dia membalas pesan yang masuk.
Saat sedang membahas orang tuanya, Jamal sontak teringat kalau orang tuanya sedang marah saat ini. Setelah membalas pesan dari Selin,Jamal langsung berdiri dan beranjak keluar kamar.
Rumah nampak sepi, pintu kamar orang tuanya juga masih tertutup. Jamal menghela nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Apa Bapak sedari pagi keluar, belum pulang juga?" gumamnya. Jamal lantas melangkah menuju kamar mandi untuk buang air dan cuci muka.
Setelah urusan kamar mandi selesai, Jamal melangkah dan berhenti di depan pintu kamar emaknya.
"Mak, Emak!" panggil Jamal. Tapi hening tak ada sahutan. Jamal kembali mencoba memanggil Emaknya.
"Loh! Mas Jamal ada di rumah?" tanya Akmal yang kelihatannya baru pulang sekolah.
"Aku memang ada dirumah, emang kenapa?" tanya Jamal yang merasa bingung dengan pertanyaan adiknya.
"Enggak, kirain Mas Jamal ikut ke rumah sakit jagain Emak."
"Apa? Emak masuk rumah sakit?"
...@@@@@...