
"Pak, kira kira kalau aku main di tempat kerja Mas Jamal, boleh nggak ya?"
"Mana boleh, orang tempat kerja kok buat main. Lagian, kamu kan sekolah."
"Ya nanti kalau aku libur," jawab Akmal terus dia menyeruput es teh dihadapannya. "Kata Mas Jamal, majikannya baik kok, Mas Jamal juga pernah nawarin aku maen kalau libur.
Bapak hanya bisa menghirup udara dalam dalam lalu menghembuskannya secara kasar. Bagaiman mungkin Jamal menawari adiknya seperti itu, jika pada kenyataannya Jamal entah bisa kembali bekerja di tempat yang sama atau tidak.
Kecewa, sudah pasti. Bahkan Bapaknya Jamal masih merasakan kecewa hingga detik ini. Bapak tidak habis pikir, anak kalem dan polos seperti Jamal bisa melakukan hal diluar batas seperti itu.
Sungguh Jamal tidak berpikir kedepannya akan bagaimana. Bagaimana jika keluarga besarnya tahu? Bagaimana tanggapan warga? Jamal sungguh tidak berpikir dampak malu keluarganya.
Begitu juga yang dirasakan Emak. Tidak beda jauh dengan apa yang dirasakan suaminya. Saking terkejutnya akan kelakuan Jamal, Emak sampai tidak bisa berkata apa apa. Rasa marah dan kecewa yang berlebih, seakan mengunci mulutnya untuk memaki anak pertamanya.
Saking kecewanya, Emak bahkan sampai terbaring di rumah sakit karena darah tingginya kambuh. Beruntung Emak masih bisa ditangani dan tidak terkena gejala stroke.
Saat ini di dalam ruangan Emak di rawat, Jamal sedang berusaha memohon ampunan pada wanita yang telah melahirkannya. Jamal sungguh tidak menyangka, dia akan didiamkan Emak seperti ini. Ini bukan Emak yang biasanya jika sedang marah pada anak anaknya. Emak biasanya berteriak dan membentak, bukan diam seperti ini. Sungguh Jamal sangat gusar dan serba salah jika didiamkan.
"Mak, Jamal mohon, ampuni Jamal, Mak. Jamal minta maaf. Jamal tahu Jamal salah. Tapi tolong jangan diamkan Jamal."
"Terus Emak harus ngomong apa, Mal? Apa Emak harus bangga dengan perbuatan anaknya yang memalukan? Apa Emak harus bersyukur karena kamu bisa tidur dengan anak dari orang yang memberi kamu rejeki? Emak harus bagiamana, Mal?"
Jamal kembali terdiam. Pertanyaan Emak tak ada satupun yang mampu Jamal jawab. Dia hanya bisa menatap Emak dengan pandangan pilu. Tangannya masih menggenggam erat tangan Emaknya.
"Kamu hanya bisa memikirkan dirimu sendiri, Mal. Kamu nggak mikirin gimana perasaan para orang tua. Orang tua kamu, majikan kamu. Kamu hanya mikir yang penting kamu merasa enak dan senang, iya kan?"
"Jamal tahu Jamal salah. Jamal tidak berpikir kedepannya, maafin Jamal, Mak."
"Terus kalau sudah minta maaf, apa semuanya sudah selesai begitu? Apa kamu nggak mikir kalau anak majikan kamu hamil? Harusnya kamu mikir resiko kedepannya, Mal."
"Mak!" pekik Jamal. "Jamal akan tanggung jawab jika itu sungguh terjadi. Apapun yang terjadi pada Non Selin, Jamal yang harus tanggung jawab, Mak."
"Jika perlu Jamal akan menikahinya. Jamal tidak akan pernah lepas dari tanggung jawab. Jamal udah salah, Mak. Jamal tidak mau membuat kesalahan lagi. Jamal tidak mungkin meninggalkan Non Selin. Jamal yang merusaknya maka Jamal juga yang akan memperbaikinya."
Emak kembali terbungkam. Entah apa yang sedang Emak pikirkan saat ini. Jamal terlihat sangat bertekad dengan anak majikannya. Lalu bagaimana dengan orang tua gadis itu.
Sementara di tempat lain. Tepatnya di dalam ruang kerja Gustavo, Selin juga sedang dilanda gelisah. Sejak habis sarapan, Jamal sama sekali tidak menghubunginya. Selin penasaran bagaimana perkembangan Jamal kali ini. Jamal sudah bicara sama orang tuanya atau belum? Kalau sudah bicara, bagaimana reaksi orang tuanya? Hati Selin sungguh tidak tenang saat ini.
Sementara di meja kerjanya, Gustavo hanya menggelengkan kepala melihat tingkah gelisah anak gadisnya. Gustavo tahu apa yang membuat putrinya gelisah. Apa lagi dia tahu Selin sesekali melihat layar ponselnya.
"Kenapa gelisah gitu, sayang?" tanya Gustavo pura pura tidak tahu.
"Jamal dari pagi nggak ada kabar, Pa. Aku takut dia lagi bertengkar sama orang tuanya."
Gustavo sedikit terkejut mendengar jawaban dari putrinya. "Emang Jamal bertengkar kenapa?"
"Jamal bilang hari ini dia akan ngomong sama orang tuanya, tapi sampai sekarang Jamal malah nggak ada kabar. Kan aku jadi bingung, Pa."
Gustavo lantas tersenyum. "Ya ditunggu aja sayang. Siapa tahu orang tuanya lagi sibuk dan Jamal juga lagi bantu bantu."
"Tapi kan setidaknya dia ngasih kabar gitu, nggak diam kayak gini," sungut Selin.
"Ya kali aja Jamal sibuk," balas Gustavo. "Atau mungkin Jamal lagi sama cewek lain."
"Papa!"
"Hahaha ..."
...@@@@@@...