
Ronde kedua pun berakhir dengan sukses. Benih cinta telah bercampur jadi satu di dalam lembah nikmat milik wanita yang sedang cemberut menatap si pria yang sedang mengenakan pakaiannya.
Sebenarnya Si pria tidak tega meninggalkan Si wanita sendirian di dalam apartemen temannya, tapi mau bagaimana lagi, dia harus kembali dan memberi kabar kepada orang tua si wanita yang masih terbaring di atas ranjang tanpa menggunakan pakaian.
Setelah rapi, si pria mendekati si wanita. Dia duduk di tepi ranjang. Si wanita langsung berpindah posisi. Kini dirinya memunggungi si pria. Si pria pun mengulas senyum dan menahan kesabarannya.
"Jangan ngambek dong, Non. Kan aku besok kesini lagi," ucap Iqbal lembut sambil mengusap pundak Karin. "Non Karin mau aku dipecat dan balik kampung karena nggak lapor sama Tuan?"
Mendengar kata dipecat, seketika rasa takut menyergap hati Karin. Kalau Iqbal pulang kampung berarti dia akan kehilangan orang yang selalu ada bersamanya. Meski dia juga punya banyak teman, tapi Karin tidak mau terlalu membebani teman temannya. Makanya ketika masalahnya dengan orang tua mencuat, banyak teman teman Karin yang prihatin tapi tidak bisa membantu banyak.
Sedangkan sejak ada Iqbal, Karin serasa punya tempat yang nyaman untuk bersandar dan berkeluh kesah. Setidaknya dengan Iqbal, hatinya bisa lebih tenang dan bisa tertawa lepas tanpa memikirkan beban dan masalahnya.
Karin bangkit terus beringsut dan langsung duduk dipangkuan Iqbal. Tangan Karin melingkar di leher Iqbal kemudian dia merebahkan kepalanya persis anak kecil yang digendong ayahnya.
"Nanti malam pasti aku nggak akan bisa tidur," cicit Karin terdengar sedih.
"Kenapa?" tanya Iqbal dengan tangan yang melingkar dipinggang Karin.
"Disaat aku tidur sendirian, kamu lagi main dengan Aleta atau Belinda," Seketika Iqbal tertawa kecil mendengar ungkapan hati Karin.
"Jangan berpikir kejauhan, Non," ucap Iqbal berusaha menenangkan wanita tanpa busana yang duduk dipangkuannya.
"Pokoknya nanti sampai rumah, kamu harus video call aku," titah Karin.
"iya, iya," balas Iqbal. "Eh, tapi kan aku nggak tahu nomer, Non Karin? Kuota ku juga menipis?"
"Kan di rumah ada Wifi? Aku juga udah nyimpen nomer kamu ini," ucap Karin.
"Tapi kan aku nggak tahu, kode wifinya, Non?"
"Ya nanti aku kirim."
"Baiklah, aku pulang, yah? Papi udah nungguin loh."
"Cium dulu."
"Semuanya."
Wajah Karin langsung diangkat terus diciumnya semua sisi di wajah dan untuk bibir yang paling lama.
Setelah semuanya di lakukan, dengan berat hati Iqbal pun pulang meninggalkan anak majikannya. Padahal mereka tidak ada hubungan cinta, tapi entah kenapa ada perasan tak rela saat mereka berpisah. Namun itu semua harus dilakukan, karena Iqbal juga punya tanggung jawab.
Iqbal melajukan mobilnya dengan perasaan yang campur aduk. Bahagia dan sedih berbaur jadi satu dalam hati Iqbal. Bahagia karena dia bisa menikmati keindahan wanita dan berhasil menerobos mahkotanya. Sedih karena malam ini mereka berada di tempat yang berbeda.
Tak butuh waktu terlalu lama, mobil yang dikemudikan Iqbal pun memasuki pelataran kediaman Karin. Dengan perasaan malas, Iqbal turun dari mobil dan berjalan sedikit lambat masuk ke dalam rumah.
Begitu sampai di ruang tengah, ternyata tuan Martin dan yang lain sudah berkumpul di sana menunggu kedatangan Iqbal.
"Karin tidak ikut pulang, Bal?" tanya Amanda sembari matanya memperhatikan arah belakang Iqbal dan berharap Karin ada di sana.
"Maaf Nyonya, saya tidak berhasil membujuk Non Karin. Dia sungguh tak ingin pulang," ucap Iqnal sendu.
"Kenapa, Bal? Kenapa Karin nggak mau pulang? Harusnya kamu paksa dia?" ucap Martin sedikit keras.
"Maaf, Tuan. Tapi kalau saya memaksa, Karin malah akan semakin pergi jauh. Karena dia merasa lelah berada disini, tadi aja kalau bukan karena sedang ujian, Non Karin tidak akan datang ke kampus, Tuan."
Amanda dan Martin sontak terkesiap mendengar jawaban jujur dari pemuda yang berdiri tak jauh dari hadapan mereka. Sementara Belinda dan Aleta, wajahnya terlihat datar dan biasa saja.
"Apa kamu tahu rencana Karin kedepannya bagaimana?" tanya Martin lagi.
"Tidak tahu, Tuan. Cuma tadi dia cerita akan cari kost dan kemungkinan akan cari kerja. Dia tidak ingin menjadi beban keluarga."
Martin tercengang mendengarnya. dia kelihatan sangat frustasi dan merasa bersalah kepada putri bungsunya. Amanda pun terlihat sama kalutnya.
"Dan Non Karin juga saat ini sebenarnya sedang sendirian, Tuan."
"Apa!"
...@@@@@...