
"Kamu mau kemana, Mir. Udah rapi jam segini?" tanya Tomi saat dia hendak berangkat kerja.
"Mau ke kantor pengadilan agama, buat ngurusin perceraian kita."
Tomi tercengang mendengarnya. Bahkan dia sampai berhenti menikmati makanannya. Matanya menatap tajam ke arah wanita yang sekarang sedang duduk di meja yang sama dengannnya.
"Kamu serius dengan keputusan kamu, Mir?" tanya Tomi. Entah untuk memastikan atau apa. Yang pasti dari tatapan dan nada bicaranya, ada rasa kecewa yang merasuk ke relung hatinya.
"Seperti yang kamu lihat, Tom. Aku sudah yakin dengan keputusanku. Jadi tolong aku minta, jangan perburuk keadaan kita, oke?" jawab Miranda pelan dan tenang. Dia tidak ingin memancing keributan seperti hari sebelumnya.
"Mir, tolong beri aku kesempatan. Aku janji, aku akan berubah. Aku akan belajar menyukaimu seperti yang kamu inginkan. Tolong, kasih aku kesempatan?" ucap Tomi penuh permohonan. Dia juga sepertinya enggan meledakkan emosinya kali ini. Takut salah jalan dan bikin semuanya kembali runyam.
"Bukankah selama tiga tahun kita bersama, kamu memiliki banyak kesempatan untuk berubah, Tom? Tapi kenapa baru sekarang kamu niat berubah setelah kekacauan yang kamu buat. Tolonglah, Tom. Sesekali kamu merenung, resapi yang salah sama kamu. Aku lelah, Tom. Aku juga butuh bahagia. Aku butuh sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan sebagai seorang wanita. Aku juga pengin punya anak, pengin liburan sama suami. Pengin kayak temen teman aku, yang biasa bahagia dengan suami dan anaknya. Aku ingin, Tom. Dan selama tiga tahun, aku menahannya. Berharap kamu berubah, tapi apa yang aku dapat, Tom?"
Tomi terbungkam. Dia tertunduk sembari mencerna ucapan Miranda. Apa yang dikatakan wanita itu memang benar. Selama ini dia yang salah. Dia yang lebih mementingkan kebahagiannya sendriri daripada orang lain terutama Miranda.
"Tolong, Tom. Jangan membuat masalah ini semakin sulit. Lebih baik kita berpisah. Kita sama sama mencari kebahagiaan kita sendiri tanpa terus menerus saling menyakiti. Dan beberapa hari lagi, aku akan pindah. Aku akan tinggal di salah satu butik aku. Sekali lagi aku mohon sama kamu, Tom, jangan persulit jalan kita."
Sementara di sisi bumi yang lain, Rizal meneruskan pekerjaan ibunya yang terhenti. Bukan maksud ingin mengambil hati sang ibu, Rizal hanya bingung mau melakukan apa saat di rumahnya. Lagian Rizal sudah terbiasa mengambil alih pekerjaan ibunya seperti mencuci, membersihkan lantai, jagain warung.
Setelah selesai mencuci pakaian dan menjemurnya, Rizal memilih keluar dan membuka warung sederhana milik ibunya. Warung yang ibu dirikan untuk membantu ekonomi keluarga. Bapak Rizal hanya bekerja sebagai pesuruh di kantor kecamatan, sedangkan sang kakak, ikut tetangga bekerja di toko segala macam bahan bumbu.
Sebantar lagi kakak Rizal akan menikah dan mungkin keadaan akan berubah. Andini jelas akan ikut suaminya. Pastinya Rizal lah yang akan membantu segala apa yang dibutuhkan rumah ini nanti setelah sang kakak menikah.
Selesai membuka warung, Rizal duduk disana sambil memainkan ponselnya. Seandainya boleh jujur, Rizal saat ini kangen suasana saat bekerja. Kangen kegiatan rutin yang sudah dia jalani selama dua bulan ini. Tapi apa mau dikata, saat ini ceritanya sudah berubah. Dan dia penyebab salah satu cerita itu menjadi berubah.
"Eh iya, Bu," balas Rizal. Kemudian dia berdiri dan bermain game. "Mau beli apa, Bu?"
"Beras, Zal satu kilo, telur seperempat, minyak seliter," dengan sigap, Rizal melayani apa yang di ibu itu pesan. "Ibu mana, Zal?"
"Di dalam?" jawab Rizal sambil menimbang beras.
"Bisa tolong panggilkan, nggak? Aku ada perlu."
"Baik, bentar ya Bu," jawab Rizal. Setelah selesai menimbang dan membungkus beras, Rizal masuk memanggil sang Ibu. Kalau bukan karena ada tetangga, mungkin Ibu enggan keluar kamar saat Rizal memanggil. Dalam hati, Rizal merasa sangat nelangsa. Ibu sama sekali tidak memandang kearahnya. Rizal mengikuti sang ibu ke warung karena mau mengambil ponsel.
Setelah bertemu ibu, tetangga itu langsung melempar beberapa pertanyaan yang isinya tentang kegiataan ibu ibu pkk.
"Rizal pulang kapan, Mbak? Pangling aku tadi loh? Kok di warung ini ada bujang tampan," tanya tetangga setelah urusan pkk selesai.
"Pulang semalam, Mbakyu," jawab Ibu singkat, sedangkan Rizal yang duduk di warung, hanya tersenyum sambil memainkan ponselnya.
"Pulang dari kota jadi tambah ganteng ya, Zal. Biar banyak cewek yang kepincut pas pulang," Rizal dan Ibu hanya tersenyum mendengarnya. "Yang penting dikota bisa jaga diri ya, Zal. Jangan kayak Doni itu, pamit kerja di kota eh malah ngehamilin anak orang. Mana hidup bersama tanpa ikatan lagi disana. Parah!"
Deg!
...@@@@@...