
Tok! Tok! Tok!
"Non, buka pintunya? dengarin aku ngomong dulu."
Hening, tak ada jawaban dari dalam salah satu kamar kost. Sejak Iqbal memberi tahu kedatangan Pak Amar dan pesan yang dia sampaikan, Iqbal langsung merenung dan menyampaikan pesan tersebut kepada Karin.
Hasilnya, Karin marah. Dia tidak terima dengan keputusan Iqbal yang ingin tidur terpisah. Karin ngomel ngomel, setelah itu langsung masuk ke kamar dan mengurung diri.
Iqbal hanya menghembus nafasnya secara kasar. Berkali kali dia ketuk pintu, tapi tetap tak ada sahutan dari wanita yang ada di dalam.
"Non, buka pintunya ... dengerin dulu penjelasan aku ... Non," rengek Iqbal untuk kesekian kali, tapi Karin sama sekali tidak merespon.
"Ya udah, kalau nggak mau ngomong. Aku pamit, Non. Aku mau mau mengundurkan diri dan pulang kampung. Maaf," ucap Iqbal sembari memberi ancaman.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, Iqbal tersenyum tipis. Dia tahu mengundurkan diri adalah senjata paling ampuh yang saat ini bisa digunakan untuk mengancam Karin. Iqbal pun melangkah masuk dan segera mengunci pintunya kembali.
Nampaknya setelah membuka pintu, Karin langsung merebahkan badannya dalam posisi miring, menghindari tatapan mata Iqbal yang pasti saat ini sedang memandanginya.
Iqbal masih mengulum senyum sembari melangkah dan duduk di tepi kasur yang tergeletak di lantai tempat Karin berbaring. Iqbal mencondongkan badannya lalu mencium bahu wanita itu.
Cup!
"Nggak usah cium cium kalau udah nggak mau tidur bareng," hardik Karin tanpa mau menoleh dan menatap Karin. Iqbal malah tersenyum lebar. Dia kembali melayangkan ciuman di bahu Karin. Tentu saja Karin kembali kaget dan langsung menatap Iqbal dengan tatapan tajam.
"Itu kan buat kebaikan kita juga, Non Karin," balas Iqbal pelan dan penuh kesabaran.
"Kebaikan apaan? Bilang aja bosen tidur bersama, pake bilang untuk kebaikan segala," tuduh Karin dengan suara yang terdengar sangat kesal.
"Astaga! Siapa yang bosen, sayang? Aku nggak bilang bosen loh," sanggah Iqbal.
"Sayang, sayang! Katanya sayang, tapi udah nggak mau tidur bareng."
Iqbal ternganga mendengar tuduhan Karin bertubi tubi. Dia jadi serba salah sendiri. Mungkin dulu Iqbal cuma dengar, wanita kalau marah itu mengerikan. Tapi kali ini dia bisa melihatnya sendiri. Wanita kalau sudah marah, apa pun pembelaan yang dilakukan laki laki, akan dibantah dan tetap disalahkan oleh wanita. Dan Iqbal sedang mengalaminya saat ini.
"Yang nggak mau tidur bareng lagi dengan Non Karin siapa?" tanya Iqbal masih dengan kesabaran tingkat tinggi.
"Tadi kamu bilang, mau mengelak atau pura pura lupa?" mendengar Karin mengulang tuduhannyaz Iqbal mengacak rambutnya karena frustasi. Dia lalu menggeleng, merasa heran dengan sikap Karin.
Sejenak Iqbal terdiam. Tapi tak lama kemudian, Iqbal merebahkan tubuhnya di belakang Karin dan memeluk wanita itu. Karin terkejut, tapi dia tetap memasang wajah kesalnya.
"Kenapa Non Karin jadi seperti ini? Apakah salah,jika kita berjaga diri agar Tuan Martin tetap percaya dan aku bisa terus menjaga Non Karin? Sekarang bayangkan jika Tuan Martin juga sudah tidak percaya denganku, apa mungkin aku masih bisa berada disisi Non Karin saat ini? Bisa saja setelah kita ketahuan sering tidur bareng, aku langsung di pecat," terang Iqbal mencoba memberi pengertian pada wanita yang sedang merajuk tersebut.
"Terus? Kamu akan membiarkan aku kedinginan gitu? Bukankah kamu tahu, tidur aku sekarang lebih nyenyak jika sambil memelukmu dan memegang isi celana kamu, terus kamu meminta kita tidur terpisah? Apa itu nggak jahat? Kalau akhirnya bakalan kayak gini, harusnya dulu kamu nolak waktu disuruh nginep bareng aku, Bal. Biar aku nggak ketagihan tidur sambil memelukmu. Jika kamu takut dipecat, oke! Nanti aku bilang sama papi agar aku tukeran supir. Nggak apa apa, kamu jagain Belinda dan Aleta. Aku udah biasa menjadi seseorang yang ada dipihak yang berdiri sendiri. Aku dulu minggat dari rumah dan melarang kamu untuk mengikutiku, tapi sekarang dengan alasan papi, kamu ingin menjauh, silakan!"
Iqbal tercengang mendengar luapan emosi Karin. Secara tak sadar memang Iqbal lah yang membuat Karin nyaman dengan keadaan seperti ini. Iqbal memilih diam agae emosi Karin stabil. Percuma berbicara dan meminta pengertian jika Karin masih dalam keadaaan Emosi.
...@@@@@...