TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 53 (Jamal)


"Kamu berhubungan dengan mamahku, Mal?"


Jamal terkesiap. Matanya memandang ke arah benda persegi tipis yang Selin pegang.


"Nggak, bukan begitu, Non," jawab Jamal gugup. Dia juga bingung mau menjelaskan seperti apa.


Melihat sikap Jamal yang kebingungan, membuat Selin manjadi berpikiran buruk. Dengan tajam dia menatap Jamal penuh amarah.


"Apa kamu juga ingin seperti Rio? menjadi simpanan mamahku, iya? Gila gila! hahaha ... " teriak Selin terdengar penuh kekecewaan. "Mamah sangat hebat, bahkan sampai supir pun ingin diembatnya."


"Non, Non Selin salah paham, bukan seperti itu ceritanya." ucap Jamal sembari maju selangkah. Namun tangan Selin memberi tanda kalau Jamal disuruh berhenti. Dan ucapan Jamal barusan semakin membuat Selin salah paham.


"Bukan seperti itu bagaimana, Jamal? Sudah jelas ada buktinya. Ini!" ucap Selin geram sambil mengacungkan kartu nama.


Jamal semakin terperangah, mulutnya terbungkam. Dia ingin menjelaskan namun Selin terlanjur marah dan salah paham. Jamal memilih diam karena bicara yang sebenarnya pun akan percuma pada orang yang marah disertai salah paham. Yang ada hanya dugaan dugaan buruk untuk membantahnya.


Selin melangkah maju hingga tepat berdiri di hadapan Jamal. Matanya menatap tajam dan penuh amarah. Melihat bukti yang ada, Selin semakin meyakini ucapan Gustavo kalau Mamahnya menyukai Jamal.


"Silahkan kamu bersenang senang dengan mamah! Aku tak peduli!" ucap Selin penuh penekanan kemudian melempar kartu nama ke muka Jamal dan pergi meninggalkan Jamal yang mematung tanpa pembelaan.


Jamal menghembus kasar nafasnya. Dia hanya pasrah dengan apa yang dituduhkan Selin padanya. Jamal terduduk di lantai dan memungut kartu nama. Pikiran Jamal semakin kalut. Dan pikirannya semakin tak menentu jika gara gara salah paham ini, dia dipecat.


Di saat Jamal terdiam sambil duduk dilantai, Mbok sum datang menghampiri. Wanita yang menempati kamar sebelah, mendengae semua apa yang terjadi. Mbok Sum memilih diam dalam kamar dan mendengarkan semuanya. dan dia segera keluar begitu Selin pergi dari kamar Jamal.


"Yang sabar, Mal." ucap Mbok Sum begitu masuk kekamar pemuda itu.


Jamal mendongak dan menyunggingkan senyumnya ke arah Mbok Sum. "Iya, Mbok."


Mbok Sum bukannya pergi, dia memilih duduk di atas kasur Jamal. Mata tuanya lekat menatap pemuda yang sedang kebingungan.


"Ada masalah lain?" tanya Si mbok yang sebenarnya tahu apa yang menyebabkan Jamal terlihat begitu gundah.


"Bagaimana keadaan ibu kamu, Mal?" tanya Mbok Sum sambil mengedarkan pandangannya. Jamal terperangah dengan pertanyaan yang Mbok Sum lempar. Dia berpikir kalau Mbok Sum tahu ibunya lagi sakit.


"Ibuku lagi nggak baik baik saja, Mbok."jawab Jamal akhirnya jujur. Wajah bingung dan sedihnya seketika terlihat jelas meski Jamal memaksakan diri untuk tersenyum.


"Apa kamu berencana mau pulang?" tanya Mbok Sum lagi sambil menatap lekat pemuda didepannya dengan rasa prihatin.


"Nggak tahu, Mbok. Pulang juga aku nggak bawa apa apa. Apa lagi Non Selin barusan marah, kemungkinan besok aku dipecat," keluh Jamal dengan wajah sendu.


"Apa yang Non Selin tuduhkan benar atau nggak?" tanya Mbok Sum kalem namun penuh selidik.


Sejenak Jamal mengusap wajahnya terus matanya menatap Mbok Sum dan dia langsung menceritakan semuanya dengan gamblang tentang pertemuannya dengan istri Tuan Gustavo serta tawaran tawaran yang diberikan.


Mbok Sum manggut manggut mendengar cerita Jamal dan mencoba mencernanya. Dilihat dari sudut pandang Mbok Sum, Jamal tidak salah.


"Istirahatlah, besok pasti semuanya akan baik baik saja." ucap Mbok Sum kemudian dia bangkit dan melangkah keluar menuju kamarnya. Sedangkan Jamal hanya bisa diam sambil menatap Mbok Sum pergi meninggalkannya. Jamal pun kembali melamun memikirkan nasib yang menimpanya.


Waktu terus berlalu dan hari kini berganti lagi. Meski pikirannya lagi kacau, Jamal tetap harus semangat menjalankan tugasnya. Namun ada yang berbeda pagi ini, Non Selin terlihat acuh dan dingin. Jamal pun hanya diam dan pasrah dengan keadaan.


Hingga saatnya Selin berangkat kampus, wanita itu masih mendiamkannya. Jamal pun tak masalah. Dia juga ikut diam karena takut jika bersuara akan membuat Selin marah.


Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang menemani mereka hingga tak terasa mereka pun telah sampai di tempat tujuan.


Mobil terparkir dengan sempurna dan Selin bersiap siap untuk turun. Namun sebelum turun, Selin bersuara hingga membuat Jamal terperangah.


"Maaf atas kejadian semalam."


...@@@@@...