TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 103 (Iqbal)


"Akhirnya kamu ketemu, Non," ungkap Iqbal penuh rasa syukur dan kelegaan melihat Karin yang kini berada dalam pelukan. Namun beberapa saat kemudian Iqbal dibuat terkejut oleh sikap Karin yang berubah dingin. Bukannya membalas pelukan Iqbal, Karin malah mendorong tubuh Iqbal supaya menyingkir.


"Minggir, aku udah telat!" hardik Karin dan berhasil menyingkirkan tubuh Iqbal.


"Non Karin!" pekik Iqbal terkejut dengan sikap anak majikannya. Dia pun langsung berjalan cepat dan meraih tangan Karin.


"Lepasin Iqbal! Aku sudah telat ini," ucap Karin ketus.


"Nggak! Sebelum kita bicara," balas Iqbal.


"Kamu mau aku dikeluarin dari kampus?"


"Ya udah, aku tungguin Non Karin disini."


"Terserah!" ucap Karin sedikit sarkas kemudian menarik tangan dari genggaman Iqbal secara kasar.


Iqbal terperangah melihat sikap Karin yang tak hangat kepadanya. Iqbal sadar, mungkin Karin kecewa juga dengan sikap Iqbal yang mengabaikannya semalam. Iqbal pun segera mengambil ponsel dan menghubungi Tuan Martin kalau Karin ketemu dan saat ini sedang mengikuti ujian semester di kampusnya.


Setelah menelfon Tuan Martin dan menyanggupi perintahnya, Iqbal berinisiatif pergi ke tempat pos penjagaan gerbang untuk menanyakan sesuatu. Iqbal merasa lega setelah apa yang ditanyakan mendapat jawaban yang memuaskan, Iqbal kembali menuju ke tempat mobil terparkir.


Mata Iqbal terus menatap ke arah pintu gerbang. Dia takut kecolongan dan Karin menghilang dari pantauan. Bisa jadi dia dipecat karena lalai dalam tugas.


Hingga beberapa jam kemudian, Iqbal melihat beberapa mahasiswa keluar kampus dan mungkin pertanda ujian telah selesai. Iqbal bergegas melangkah ke arah gerbang kampus, menunggu Karin disana.


Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya gadis cantik itu terlihat sedang berjalan menuju gerbang kampus bersama beberapa temannya.


"Rin, ada yang nungguin tuh?" celetuk teman Karin yang memang sudah pernah melihat Iqbal.


"Tahu tuh, ngapain dia disitu, kayak nggak ada kerjaan aja," gerutu Karin.


"Ya elah Rin, pasti nungguin kamu lah, orang dia supir rasa pacar," celetuk yang lain dan disambut cekikian oleh yang lain juga membuat Karin hanya bisa mendengus.


Begitu dekat, awalnya Karin menghindar, tapi Iqbal lagi-lagi berhasil mencegahnya sampai teman-teman Karin terperangah.


"Apa sih, Bal?" tanya Karin kesal.


"Dengerin aku dulu," pinta Iqbal yang kali ini menggenggam pergelangan tangan Karin dengan kuat. "Kita pulang, yah?"


"Nggak mau!" tolak Karin.


"Nggak usah bohong deh, Bal. Mana ada mereka khawatir? Harusnya mereka senang nggak ada aku di rumah," sanggah Karin.


"Gini aja deh, Rin. Kamu selesaikan dulu masalah kamu. Kita jalan dulu aja," ucap teman Karin. Dan usulan tersebut juga dsetujui teman yang lainnya. Alhasil kini Karin tinggal sendiri dengan tangan yang masih di genggam erat oleh Iqbal.


"Awas, Bal, lepasin, aku mau pulang!" ucap Karin kesal.


"Nggak akan, kita pulang bareng."


"Aku nggak akan pulang ke rumah!"


"Ya udah, pulang kemana? Aku ikut."


"Nggak usah!"


"Ya udah, kita disini aja. Nggak apa-apa."


Karin dibuat frustasi denngan sikap Iqbal. Setiap alasan selalu Iqbal berhasil mematahkannya hingga akhirnya Karin pun pasrah dan mau mengajak Iqbal ke tempat semalam dia menginap.


Karin memilih tinggal disebuah apartemen milik temannya yang letaknya tak jauh dari kampus. Apartemen itu cukup nyaman dengan dua kamar di dalamnya. Menurut Karin, si pemilik apartemen lagi pergi ke medan karena ada acara keluarga jadi Karin saat ini sendirian disana. Karin dan Iqbal duduk bersebelahan di sofa yang ada disana. Mata Iqbal terus menatap anak majikannya, tapi Karin malah berpaling dan sedikit memunggunginya. Dia masih marah dan kecewa dengan sikap Iqbal yang mengabaikannya semalam.


"Kenapa Non Karin pergi dari rumah?" tanya Iqbal sembari menatap wanita yang duduk di sampingnya.


"Kamu sudah tahu jawabannya, Bal. Ngapain pake tanya. Udah nggak ada yang menginginkan aku berada di rumah itu, ngapain aku bertahan," balas Karin dengan suara bergetar. Dia memunggungi Iqbal karena kesal dengan sikap Iqbal juga.


"Siapa yang tidak menginginkan Non Karin?" tanya Iqbal sendu. "Maaf soal semalam, aku nggak ada maksud mengabaikan Non Karin."


Karin hanya diam, membuat Iqbal merasa gusar. Tangan Iqbal bergerak dan meraih pinggang Karin serta memeluknya.


"Maaf, Non. Aku semalam ngecewain Non Karin," ucap Iqbal pelan.


Karin tetap bungkam. Namun beberapa saat kemudian dia membalikan badannya dan langsung memeluk Iqbal dan membenamkan kepalanya di dada sang supir. Iqbal pun tersenyum senang dan untuk sesaat mereka terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Itu tangan jangan nakal."


"Cuma ngusap doang, Bal. Pelit amat," sungut Karin sambil terus mengusap gundukan yang menonjol pada celana Iqbal.


@@@@@