
Jamal terhuyung mendapat serangan tiba-tiba. Untung saja dia tidak sampai terjatuh.
"Maksudnya apa, Mas? Main pukul kayak gini?" tanya Jamal kaget sambil menyeimbangkan dirinya.
"Nggak usah banyak omong deh, serang!" dua orang di belakang pria yang memukul Jamal sontak maju. Tapi sayang serangan mereka yang terlalu brutal dan tak beraturan dengan mudah ditaklukan.
Dezig!
Bugh!
Plak!
Kreyek!
Dan kedua teman pria itu terkapar tak berdaya.
"Ah, sialan!" pekik pria itu sembari maju terus melayangkan bogem mentahnya. Dan sayang sekali, Jamal langsung memegang lengan pria itu dan memutarnya hingga tubuh pria itu terhempas di atas aspal.
"Akh!" teriak pria itu.
Satu orang teman pria itu bangkit dan hendak menyerang Jamal kambali, tapi tiba-tiba.
Prit!
"Berhenti!" sebuah teriakan menghentikan langkah pria yang bangkit dan semuanya menoleh ke sumber suara.
"Ada apa ini? Hah! Kenapa kalian berkelahi di area kampus?" cecar pria berbaju satpam.
"Dia nih, Pak, dia yang duluan nyerang kita?" tuduh pria yang tadi pertama kali memukul Jamal sambil tersenyum
"Iya benar, Pak. Dia yang menyerang kita duluan," balas dua teman yang lain mendukung tuduhan kepada Jamal.
"Dikiranya saya buta apa? Hah! Kalian mahasiswa sini, kan?" bentak Pak satpam sambil meraih tangan pria yang menuduh pertama kali. "Sekarang ikut saya ke kantor! Dan kalian berdua juga."
Jamal yang tadinya hendak buka suara guna menyangkal tuduhan mereka bertiga langsung terdiam dan tersenyum manis karena mendapat pembelaan dari satpam kampus.
"Ah, Pak! Jangan! Kita tidak salah," protes pria yang diseret paksa.
"Tidak salah?" Pria yang diseret mengangguk. "Kalian buta apa gimana? Tuh, cctv ada di atas kalian!"
Semuanya sontak mendongak termasuk Jamal dan tiga pria itu wajahnya langsung nampak frustasi. Di dekat mereka terpasang cctv di tiang lampu yang jelas sekali mengarah ke arah mereka.
"Mas, kamu juga ikut ke kantor guna memberi keterangan," ucap Satpam kepada Jamal.
"Selin!" teriak salah satu teman Selin sembari masuk ke kelas dimana Selin berada dan sedang ngobrol sama teman yang lain. "Selin, sel, ada berita."
Selin dan temannya menoleh sembari mengernyitkan keningnya. "Ada apa sih? Heboh banget?"
Sejenak teman Selin mengatur nafas yang tersengal sengal. "Rio di seret satpam, sepertinya dia di bawa ke ruang pengadilan."
"Apa!" pekik teman Selin yang lain. Tapi Selin malah bersikap acuh.
"Iya, tadi aku lihat Rio dan dua orang temannya di seret ke ruang pengadilan, sepertinya mereka habis berkelahi."
"Terus apa hubungannya denganku? Kan kamu tahu aku sama Rio udah bubar?" tanya Selin malas.
"Ya tahu, Rio emang nggak ada hubungan sama kamu, tapi tadi aku lihat supir kamu juga ikut ke ruang pengadilan?"
"Apa! Bagaimana bisa?" ucap Selin kaget.
"Nggak tahu, yang pasti aku lihat dia mengikut satpam dan Rio."
"Ah, sial! umpat Selin seketika dia berdiri dan bergegas menyusul ke ruang khusus yang biasa digunakan untuk menindak mahasiswa yang bermasalah. Oleh mahasiswa di sana, ruang tersebut dijuluki ruang pengadilan.
Rio dan dua temannya berdiri menghadap meja dimana di seberang meja ada dosen yang sekaligus bertugas memberi sanksi pada mahasiswa yang bermasalah. Sedangkan Pak satpam yang sudah menjelaskan kronologi kejadiannya, segera pergi ke tempat tugasnya kembali. Sedangkan Jamal dipersilakan duduk di kursi seberang meja, karena dianggap tamu.
Disaat Rio dan dua orang temannya menunduk karena pandangan tajam dosen dihadapannya, Jamal malah menatap mereka yang ada di sana dengan tatapan bingung.
"Jadi sekarang kalian jelaskan, kenapa kalian bertiga menyerang orang ini?" tanya Pak dosen dengan tatapan yang begitu tajam.
Bukannya menjawab, Rio dan kedua temannnya hanya terdiam dalam tunduk sambil saling melirik satu sama lain.
"kenapa kalian diam? Jawab!" bentak Pak dosen lantang hingga membuat semua orang yang ada disana tersentak kaget.
"Saya hanya mengikuti perintah Rio, Pak," jawab salah satu teman Rio agak terbata.
"Iya, Pak. Saya juga."
Rio seketika menoleh dan menatap tajam kedua sahabatnya. Dia tak menyangka sahabatnya malah memojokkan dirinya.
"Apa benar yang di katakan mereka, Rio?" tanya Pak Dosen penuh penekanan.
"Iya, Pak," ucap Rio pelan. Dia tidak ada pilihan lain lagi selain menjawab pertanyaan tersebut.
@@@@@