TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 116 (Jamal)


Setelah menuntaskan permainan di pagi harinya, Jamal dan Selin bergegas mandi bersama. Permainan yang berlangsung sekitar tiga puluh menit tersebut, sungguh berdampak semangat pada keduanya. Meski tidak mengulang permainan di kamar mandi, tapi mereka bekerja sama saling membantu membersihkan badan mereka masing masing.


Selesai mandi, mereka bergebas memakai pakaianya dan setelah semuanya siap, segera saja Jamal dan Selin keluar apartemen. Sebelum berangkat ke kampus, Selin meminta Jamal mencari makanan dulu buat sarapan.


Mobil melaju meninggalkan area apartemen. Sesuai perintah Selin, Jamal pun mengarahkan laju mobilnya mencari tempat penjua makanan. Tak butuh waktu lama, mereka melihat berderet gerobag menjual aneka makanan di sebuah taman. Mobil pun akhirnya berhenti di sana.


Sesampainya di sana, mereka berdua langsung menghampiri pedagang dan memilih menu yang pas buat sarapan. Selin memilih bubur ayam sedangkan Jamal memilih nasi uduk. Mereka menunggu di kursi yang disediakan di sana.


"Non Selin nggak jijik, makan di tempat seperti ini? Bukan di restoran gitu?" tanya Jamal mengeluarkan unek uneknya. Wajar jika Jamal heran, secara Selin wanita cantik dan anak orang kaya.


"Loh? Aku udah sering makan di tempat seperti ini kali, Mal. Ngapain harus jijik?" jawaban Selin sukses membuat Jamal terperangah seketika. Tak lama pesanan mereka pun datang. Beruntung penjual nasi uduk dan bubur ayam berdampingan, jadi mereka makannya tidak harus terpisah.


"Lagian nih ya, Mal. Makan di pinggiran kayak gini tuh lebih murah loh, seporsi nasi uduk yang kamu makan itu disini paling harganya dua puluh ribu, nah di restoran, bisa lebih dari lima puluh ribu. Itu aja belum termasuk lauk tambahan," terang Selin sambil mengaduk buburnya seperti biasa. Dia kalau makan bubur ayam lebih suka di aduk.


"Yang bener, Non?" ucap Jamal tak percaya sambil mengunyah nasi uduknya.


"Iya lah, disini minum teh hangatnya gratis, di restoran, teh hangat lebih dari lima ribu," balas Selin kemudian dia menyuapi dirinya sendiri.


"Kok bisa yah?" tanya Jamal dengan penuh keheranan. Selin hanya mengamgkat kedua bahunya sambil menikmati sarapannya.


Karena mereka makan sambil ngobrol, hingga tak terasa makanan di hadapannya mereka pun telah habis. Selin beranjak menuju ke pedagang bubur sambil menyerahkan uang lima puluh ribu sambil berbincang sejenak. Jamal hanya melihatnya sambil merasa tak enak hati. Sebagai laki laki, Jamal ingin dia yang membayar makanannya, tapi apa boleh buat. Jamal tak ada uang, kerja saja belum ada sebulan, jadi sudah wajar dia belum gajian.


Setelah urusannya semua selesai, mereka kembali beranjak menuju mobilnya. Dan tak butuh waktu lama, mobil itu melaju menuju arah kampus.


"Habis berapa tadi, Non?" tanya Jamal penasaran.


"Lima puluh ribu doang. Kenapa?"


Tak butuh waktu lama, mobil pun memasuki kawasan kampus. Selin segera turun dari mobil begitu parkir terhenti. Seperti biasa Jamal akan menunggunya karena itu memang bagian dari pekerjaannya.


Jamal memilih bediam diri sambil mengecek ponselnya. Adiknya memberi kabar kalau sang ibu sudah mendingan dan hari ini sudah diijinkan pulang. Jamal pun tersenyum penuh syukur mendengar berita bahagia tersebut. Jamal segera membalas pesan adiknya dan juga pesan dari teman temannya.


Satu hari kemarin fokus Jamal berpusat pada Selin dan permainan ranjang mereka, hingga Jamal lupa menanyakan kabar sang ibu pada adiknya.


Setelah Jamal membalas beberapa pesan chat yang masuk, dia menggulir menu hp nya dan menekan tombol game.


Disaat Jamal sedang asyik bermain game, dia dikejutkan dengan kaca mobil yang diketuk. Jamal menoleh dan dia sedikit terkejut setelah tahu siapa yang mengetuk kaca mobilnya. Jamal pun segera menghentikan permainan di ponselnya dan dia bergegas keluar dari mobil.


"Iya, Nyonya, ada apa?" tanya Jamal begitu keluar dari mobil. Dihadapannya ada Sandra yang tersenyum manis kearahnya.


Wajar saja jika Rio hanyut dalam pesona Nyonya Sandra. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Sandra masih terlihat cantik dengan bentuk tubuh bagaikan seorang super model. Maklum orang kaya, dia pasti melakukan segala perawatan agar tetap terlihat awet muda.


"Apa kamu ada waktu?" tanya Sandra.


"Ada, Nyonya. Tapi mungkin tidak banyak. Soalnya kata Non Selin, dia lagi tes jadi waktunya sebentar," balas Jamal jujur.


"Nggak apa apa, kita duduk disana yuk? Ada sesuatu yang pengin aku omongin," ajak Sandra sambil menunjuk ke arah caffe yang sama seperti beberapa waktu lalu.


"Baik, Nyonya,"


Mereka berdua pun beranjak menuju ke tempat yang di tuju. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memandang mereka dengan penuh kebencian.


@@@@@