TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 110 (Rizal)


Setelah puas bermain di tepi kolam, kini Rizal dan Miranda masuk ke dalam rumah Mereka memilih duduk di sofa tengah sambil menikmati acara televisi. Padahal mereka di Bali, tapi hari ini mereka tidak ada rencana untuk keluar rumah menuju tempat wisata. Mereka hanya ingin menempel dan bermesraan layaknya pengantin baru.


Bukit kembar Miranda pun tak pernah lepas dari tangan Rizal. Seperti saat ini, Miranda menikmati acara televisi dengan duduk di depan Rizal. Dan dari arah belakang, Rizal melingkarkan tangannya dan mendarat di bukit kembar milik Miranda.


Miranda yang memang tidak pernah diperlakukan seperti itu pun hanya diam dan nenikmati segala sentuhan yang diberikan Rizal. Pemuda itu juga sangat bersemangat mendapat kesempatan seperti ini. Dia sungguh sangat memanfaatkan keadaan.


"Non, ngantuk," keluh Rizal.


"Ngantuk?" Rizal mengangguk. "Ya udah sana ke kamar."


"Kelonin?" rengek Rizal mirip anak kecil.


"Astaga! Ya udah yuk." Miranda menggandeng Rizal menuju kamar.


Sesampainya di kamar mereka langsung berbaring di ranjang. Sungguh seperti seorang bayi, Rizal berbaring sambil mulutnya menyesap salah satu pucuk bukit kembar Miranda. Wanita itu pun membiarkan saja, bahkan Miranda mengusap kepala Rizal hingga pemuda itu terlelap.


Ketika mulut Rizal sudah terlepas dari pucuk bukitnya, Miranda menatap lekat wajah damai Rizal. Diusapnya pipi pemuda itu dan diciumnya dengan penuh perasaan.


"Makasih, Rizal, Sayang. Terimakasih sudah memberikan kenikmatan yang luar biasa dua hari ini, semoga hubungan kita tetap aman ya, Zal. Apapun yang akan terjadi, aku kan melindungimu," gumam Miranda sambil menatap wajah damai Rizal. Setelah kembali melayangkan ciuman di pipi, Miranda turun dari ranjang dan mengambil ponselnya terus keluar kamar menuju ruang televisi.


Sementara di tempat berbeda, tepatnya di ruang pribadi kantor. Tomi justru membawa satu teman laki-lakinya disana. Tentu saja mereka juga melakukan hal yang sama seperti yang Miranda lakukan. Di dalam kamar yang ada di ruang kantor Tomi, mereka sungguh bebas melakukan apa saja.


Saat ini saja mereka sedang berbagi keringat di kamar itu. Mereka bermain secara bergantian, kadang Tomi yang menusuk, kadang Tomi juga yang ditusuk. Mereka bermain sesuai kebutuhan.


"Rizal, terus, zal. Terus, enak banget," racau Tomi tanpa sadar.


"Kok Rizal sih, Sayang?" ucap temen Tomi yang sedang menggempur lubangnya. Dia seketika menghentikan hujamannya karena mendengar Tomi menyebut nama pria lain di dalam permainannya.


Tomi pun terkesiap. Dia langsung tersenyum tak enak hati kepada pria yang menjadi kekasihnya sejak beberapa hari terakhir ini.


"Siapa Rizal?" tanya pria itu dengan tatapan tajam hingga membuat Tomi salah tingkah.


"Bukan siapa-siapa. Maaf, tadi aku tiba-tiba teringat istriku yang lagi ke Bali bersama supirnya si Rizal," ucap Tomi merasa bersalah. Tapi kenyataannya dia memang selalu teringat dengan Rizal selama ini. Apapun yang dia lakukan selalu ada nama Rizal dan wajah tampannya yang melintas dipikiran Tomi.


"Supir? Tampan?" selidik pria itu yang kini duduk dan bersandar di ujung ranjang.


"Ya lumayan sih," balas Tomi agak ragu.


"Kamu suka sama dia?" tanya pria itu terlihat sangat cemburu.


Benar saja, meski cemburu, teman pria Tomi kini wajahnya tak semarah tadi. Dia bahkan kini ikutan berbaring dan memeluk Tomi.


"Aku tahu, kamu pasti suka sama dia dan kamu susah mendapatkannya, iya, kan?" tebaknya.


"Iya, makanya aku kepikiran dia, penasaran aja sebenarnya," balas Tomi jujur.


"Kenapa nggak pakai kekuasaanmu saja, Bukankah dia supir, pasti dia takkan nolak untuk mematuhi perintah kamu," usul pasangan Tomi.


"Susah, karena dia yang mencari istriku," keluh Tomi.


"Ganteng nggak? Badannya bagus nggak?" selidik pasangan Tomi.


"Ganteng bangetlah, badannya juga tak kalah bagus dengan badan kita."


"Gimana kalau kita sama-sama jebak dia, kita nikmatin bareng?" usulnya


"Jebak gimana?" tanya Tomi dengan dahi berkerut.


Pria itu pun berbisik menyampaikan idenya. Terlihat Tomi seketika tersenyum penuh arti mendengar dan mencerna ucapan pria yang menjadi teman main di kamar kantornya.


"Gimana? Baguskan?" tanya Orang itu yakin.


"Ide bagus tuh, Oke deh kita laksanakan," balas Tomi semangat.


"Tapi ingat, kita sama-sama menikmatinya.Aku juga mau kalau dia ganteng."


"Beres." Kemudian mereka saling serang bibir.


"Ya udah, sekarang kita lanjutkan permainan kita."


"Dengan senang hati, sayang. I love you."


"I love you too."


Dan sesama pemilik pedang pun kembali melanjutkan permaiannnya.


...@@@@@...