TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 167


"Apa!"


"Nggak mendapatkan apa apa?"


"Percuma saya bayar kamu mahal."


"Sial."


Klik.


Geram, itulah yang Tomi rasakan saat ini, bagaimana tidak geram, bayar orang mahal untuk mengawasi istrinya tapi orang yang dia suruh tidak mendapatkan bukti apapun.


"Apa mungkin Miranda tahu kalau dia sedang diawasi?" gumam Tomi. Tidak biasanya Tomi bersikap berlebihan seperti ini. Tapi dia sungguh terganggu dengan apa yang Rio ucapkan. Harusnya dia senang karena orang suruhannya tidak mendapat bukti perselingkuhan istrinya, tapi kenapa dia malah marah? Apa sebenarnya yang dia harapkan jika benar Miranda berselingkuh dengan sang supir?


"Lebih baik aku pergi ke apartemen Rio, kali aja dia punya solusi," ucap Tomi masih bermonolog sendiri. Dia pun bergegas keluar dari kantornya.


Sementara itu di dalam kamarnya, Miranda terlihat sedang merebahkan badannya. Dia nampak gelisah dengan mata yang sesekali melihat ke arah jam. Sesuai janji, dia malam ini akan bermain dengan Rizal. Tapi sampai detik ini, Tomi belum ada tanda tanda kepulangannya. Biasanya dia jam delapan sudah pulang, entah pulang sendiri atau membawa teman tidur.


Saat ini jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Miranda sudah tak tahan, hasratnya sudah naik ke ubun ubun tapi Tomi malah belum pulang juga.


Rasa gelisah juga dirasakan Rizal dalam kamarnya. Dia yang juga sudah sangat ingin ke kamar Miranda, harus bersabar lebih lama lagi karena Tomi yang tak kunjung pulang.


Karena bosan terlalu lama menunggu, Rizal memutuskan untuk keluar kamar sambil mengawasi keadaan. Mungkin saja jika Tuan Tomi pulang, Rizal langsung gerak cepat bersiap diri.


Sedangkan di tempat lain, orang yang Miranda dan Rizal tunggu kepulangannya, malah sedang berada di depan pintu apartemen pria simpanannya.


"Mas Tomi? tumben kesini malam malam? Ini kan bukan akhir pekan?" tanya Rio begitu membuka pintu ternyata melihat Tomi berdiri di sana dengan pakaian kerja lengkap.


"Aku ada perlu sama kamu, Rio. Ini soal istriku," jawab Tomi. Wajahnya nampak sangat frustasi.


"Masuk dulu sini, Mas."


Tomi pun masuk. Namun seketika wajah frustasinya menghilang, berubah menjadi wajah berbinar penuh rasa kagum saat melihat teman Rio yang tampan dan nampak gagah dengan tato yang menempel dilengannya.


"Siapa dia, Ri?" tanya Tomi. Matanya terpana melihat senyum manis Candra.


"Oh, teman aku, Mas, Candra namanya," ucap Rio. Candra pun mengulurkan tangan mengajak Tomi bersalaman. Dengan senang hati, Tomi membalas jabatan tangan Candra.


"Tomi," ucap Tomi dengan sikap wibawanya. Dia tidak ingin terlihat jelas kalau dia terkesima dengan Candra. Biar bagaimanapun mereka baru kenal, jadi Tomi harus bisa bersikap selayaknya laki laki normal.


"Emang kenapa dengan istri Mas Tomi? Beneran selingkuh?" tanya Rio membuyarkan segala isi pikiran Tomi.


"Aku sudah nyuruh orang untuk mengikutinya, tapi malah hasilnya kosong. Sama sekali nggak menemukan bukti perselingkuhan," terang Tomi.


"Masa?"


"Serius? Seharian orang suruhan aku tuh ngikutin mereka, tapi nggak ada tanda tanda mereka selingkuh," ucap Tomi merasa yakin. "Mungkin mereka memang nggak selingkuh kali ya? Buktinya kata orang suruhanku, mereka bersikap biasa saja. Sama seperti supir dan majikannya."


"Hahaha ... Bisa jadi orang suruhan kamu yang nggak becus cara kerjanya, Mas," ujar Rio. Tentu ucapannya mampu membuat keyakinan Tomi goyah kembali.


"Nggak becus bagaimana? Orang dia itu rekomendasi dari temanku, katanya sering mantau pasangan yang berselingkuh dan hasilnya bagus," bantah Tomi. Tapi bantahan tersebut malah semakin membuat Rio terpingkal pingkal. Candra yang sepertinya memahami apa yang sedang dibicarakan teman dan tamunya hanya tersenyum tipis.


"Bisa saja dia hanya mengawasi dan menunggu momen yang tepat. Bukan menyelidiki, mencari informasi," terang Rio, dan Tomi hanya mengernyitkan dahinya tanda dia tak mengerti dengan ucapan Rio.


"Mas Tomi malam ini datang kesini, tuh berarti waktu yang tepat. Nih temen aku, ahli membongkar kasus perselingkuhan dari yang paling mudah hingga paling sulit sekalipun. Candra ahlinya."


Sementara itu di dalam sebuah kamar.


"Aakh ... jilatanmu enak banget sih, Zal?" ucap Miranda dari atas ranjangnya menikmati sentuhan lidah yang sedang Rizal lakukan di bawah perutnya. "Masukin cepat, Zal. Aku susah nggak tahan ini pengin di masukin."


Rizal sontak menyeringai, dia bangkit dan bersimpuh diantara paha Miranda yang membentang. "Baiklah."


...@@@@...