
"Argh! Sial!" umpat Tomi. Pria itu kini sungguh sangat frustasi. Hingga pagi menjelang, dia belum juga dapat kabar dari Miranda. Permintaan maafnya sungguh diabaikan oleh wanita yang sekarang sedang berada di Jogja. Terlihat sekali dia tidak bersemangat hari ini. Pikirannya terlalu kacau, bercampur dengan rasa takut yang sudah menggerogoti hatinya. Langkah kakinya terasa berat meski hanya berjalan ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Tomi sudah terlihat rapi dengan pakaian kerjanya. Meski semangatnya sama sekali enggan keluar, tapi dia punya tanggung jawab lain. Terlepas dari masalah pribadi yang menderanya. Dengan langkah gontai, dia keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju meja makan.
Salah satu kebiasaan Tomi yang terlihat unik adalah, dia bisa tetap lahap dan sangat menikmati makanan, meski suasana hatinya sedang tidak baik.Entah itu masalah pribadi atau pekerjaan, Tomi akan tetap mampu menikmati makananannya. Begitu juga yang terlihat saat ini. Dia bisa makan banyak seperti tidak peduli dengan masalahnya.
Sementara di kota Jogja, tepatnya di rumah sewa. Rizal dan Miranda sedang bersiap diri untuk pulang. Setelah puas menyalurkan hasratnya sekali lagi tadi saat bangun tidur, mereka langsung mandi bersama, begitu permainan mereka selesai.
Meski mereka tidak melanjutkan permainan di kamar mandi, acara mandi itu berlangsung cukup lama dari yang biasa mereka lakukan saat mandi sendirian. Mereka keluar kamar mandi tanpa menggunakan handuk untuk menutupi badan. Handuk malah mereka tenteng dan langsung mereka saling mengeringkan.
"Sayang sekali, bulan madunya terlalu singkat. Padahal kita belum jalan jalan," cicit Rizal sambil memakai pakaiannya.
"Lain kali kan kita bisa kesini lagi. Coba kalau nggak ada masalah, harusnya lusa kita baru pulang," jawab Miranda.
"Masih kangen seharian nggak pake baju kayak pas di bali."
"Astaga!" seru Miranda. "Entar kalau udah nikah, kita puas puasin nggak pake baju."
"Kelamaan."
"Hillah, kamu gemesin banget sih, Zal."
"Kamu kapan hamilnya sih, Non? Perasaan lama banget. Padahal, benihku udah banyak tuh yang masuk di dalam."
"Ya ampun, Rizal!" pekik Miranda semakin merasa gemas.
"Kan kalau Non Miran hamil, kita bisa langsung cepat nikah."
"Tahu ah, Bal. Gemes aku. Emang kalau aku hamil duluan, orang tua kamu nggak bakalan malu gitu? Kita nikah karena hamil duluan?"
Rizal sedikit terperanjat mendengar ucapan Miranda. Sudah pasti orang tuanya bakalan murka. Apalagi Miranda masih berstatus istri orang. Betapa malunya orang tua Rizal nanti. Rizal pun merutuki dirinya sendiri.
"Kok aku egois banget yah? Nggak mikirin perasaan Ibu sama Bapak? Astaga!" ucap Rizal penuh sesal.
"Nah itu tahu. Aku juga ingin mengandung anak kamu, Zal. Tapi kita juga harus mikirin perasaan orang tua kita. Kita memang salah, tapi kalau bisa jangan membuat kesalahan kita semakin besar."
"Iya, Non. Aku tahu, maaf ... aku cuma terlalu bersemangat sampai tidak memikirkan perasaan orang tuaku sendiri. Pasti mereka orang yang paling kecewa dan malu jika aku menghamili istri orang, pasti dimata masyarakat, aku terlihat bejad dan parah banget nantinya."
"Datang bulan? Kok bisa?" tanya Rizal.
"Jerawatku sepertinya pada mau tumbuh ini. Aku kalau ada jerawat, pasti tak lama lagi datang bulan."
"Yaaaaaahhh ..." seru Rizal panjang dan terdengar frustasi.
"Kenapa?" tanya Miranda. Kini gantian dia yang heran melihat ekspresi Rizal yang terlihat lesu.
"Berarti aku bakalan libur lagi masukin lubang Non Miran, aahh ..." sungut Rizal sambil mengacak rambutnya yang masih basah.
"Astaga! Hahaha ... nggak segitu juga kali, Zal!" seru Miranda sambil terbahak.
"Ya lagian, pake acara datang bulan segala. Udah bulan madu cuma sebentar, di rumah jarang masuk lubang, eh, bakalan puasa sekitar seminggu karena datang bulan. aahh ..." gerutu Rizal merasa lemas sampai menjatuhkan badannya ke atas kasur.
"Hahaha ... Ya kan bisa kayak bulan kemarin, Zal. Kalau lagi pengin, aku bantu pake tangan dan mulut aku."
"Tapi kurang puas kalau nggak masuk lubang."
"Terus? Mau mencari lubang lain gitu? Awas aja kalau berani, aku sunat punya kamu!"
"Hih, ya nggak lah."
"Atau aku tahu agar kamu tetap bisa masuk ke dalam lubang meski aku datang bulan."
"Caranya?"
"Kamu masukin aja punya kamu ke lubang Tuan Tomi."
"Hih!"
"Hahaha ..."
...@@@@@@@...