TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 48 (Rizal)


"Kenapa ada pekerja laki laki di rumah ini?" tanya papih mertua yang membuat Miranda dan Tomi terperangah. Bahkan Rizal dan Sari yang berada tak jauh dari tempat mereka berada merasa terkejut dengan apa yang mereka dengar.


Mungkin diantara mereka, Rizal lah yang paling terkejut kenapa tamu yang katanya mertuanya Nona Miranda seakan akan tak suka dengan pekerja laki laki di rumah ini. Padahal kan yang bekerja di rumah ini, laki lakinya ada tiga, Rizal dan dua penjaga rumah yang tugas jaganya gantian. Terus apa masalahnya?


Wajar saja orang tua Tomi khawatir jika ada pekerja laki laki yang lebih muda disini. Karena mereka tahu selera anaknya seperti apa. Makanya mereka tak senang jika ada laki laki muda disekitar Tomi.


Dulu sebelum belang Tomi ketahuan, mereka biasa saja saat Tomi mengenalkan teman teman muda yang usianya tak jauh dari anaknya. Mereka begitu bangga karena merasa Tomi banyak teman. Mereka bahkan mengijinkan teman teman Tomi yang tiap kali berganti ganti datang ke rumah untuk menginap.


Tapi rasa bangga orang tua Tomi memudar bahkan musnah saat dengan mata kepala sendiri, Tomi sedang berbuat yang tak seharusnya dilakukan. Mereka syok bukan main, bahkan sang mamih langsung drop dan di rawat di rumah sakit beberapa hari.


Sejak saat itu, mereka mulai memperketat ruang gerak Tomi. Setiap Tomi jalan dengan teman lelaki langsung diinterogasi. Bahkan tak jarang Tomi mendapat kekerasan oleh ayahnya. Padahal di negara tempat mereka tinggal, penyimpangan seperti itu diijinkan oleh negara. Tapi orang tua Tomi tetap tak terima keturunannya seperti ini.


Jika dicermati ini sepenuhnya bukan salah Tomi. Dia juga tidak ingin terlahir dalam keadaan seperti sekarang ini. Seandainya boleh memilih, Tomi memilih tidak dilahirkan daripada terlahir dengan ketidak sempurnaan seperti ini.


Sejak menikah dengan Miranda, baru Tomi merasakan kebebasan. Apa lagi Miranda memilih hidup beda negara dengan orang tua masing masing, makin senanglah Tomi dibuatnya. Dia merasa menemukan kebebasan sejak menikah. Tomi bahkan dengan mudah bisa jujur kepada Miranda soal dirinya yang menyimpang, makanya Miranda memilih diam. Toh dia juga tidak bisa berbuat apa apa meskipun awalnya sangat kecewa.


"Emang kenapa kalau ada pekerja laki laki di sini, Pih?" tanya Miranda pura pura tak tahu dengan ucapan Mertuanya.


Tentu saja sang mertua langsung gelagapan. Mereka masih berpikir kalau Miranda tidak tahu kekurangan Tomi.


"Nggak apa apa, tanya saja. Sejak kapan?" tanya Papih mencoba meredam gejolak dalam hatinya.


"Baru beberapa hari. Dia supir pribadiku, Pih, itu juga aku yang nyari. Orang aku butuh." balas Miranda tenang. Papih mertua pun manggut manggut. Namun dia melirik tajam ke arah Tomi.


"Harusnya nyari supir yang tua, lebih berpengalaman. Kalau yang muda, biasanya merepotkan. Harus ngajarin dulu," ujar papih beralasan untuk menutupi ketidak setujuannya. Terlalu berlebihan demi menjaga anak agar sembuh dari penyakit menyimpangnya. Namun anaknya udah dewasa, pasti selalu saja mencari celah dari ketatnya pengawasan orang tua.


"Enakan yang mudah, Pih. Lebih cekatan. Bisa bantu bantu yang lain. Lagian kalau ada bahaya juga, dia bisa melindungi Miran. Kan dia jago bela diri," balas Miranda tenang. Dia tidak ingin supir tampannya merasa tak nyaman kerja disini. Rizal pasti berada di kamarnya setelah mendengar ucapan papih tadi.


Mendengar Rizal bisa bela diri, membuat jiwa Tomi meronta ronta. Bahkan dalam hati dia berkata, "Waw! Sempurna." makin bulatlah tekad dia untuk menjerat sang supir. Tapi Tomi menutupi hati kagumnya dengan gaya kalem penuh kepura puraan seperti biasanya.


Sedangkan Papih dan Mamih hanya manggut manggut sambil menyantap makanan yang ada. Sepertinya mereka pasrah setelah mendengar perkataan Miranda.


"Syukurlah kalau memang dia begitu. Tapi kamu nggak ada maksud lain kan, Mir. mendatangkan supir muda itu?" pertanyaan Papih sontak saja membuat kening Miranda mengkerut.


"Maksud, Papih?"


"Ya nggak ada maksud apa apa sih, Mir. Papih cuma tanya. Takutnya disini nanti terjadi hal hal yang tidak diinginkan, jangan sampai loh."


Entah ucapan Papih itu buat siapa. Memang buat Miranda atau buat Tomi. Sambil menikmati hidangannya, Miranda pun mencerna ucapan mertuanya.


"Tenang aja Pih, Aku cuma mau ngajak tidur bareng aja kok sama supirku, kalau tumbuh benih, anggap aja itu cucu papih," gumam Miranda sambil tersenyum jahat


@@@@@